Bernas.id ? Setelah ramai Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri, ternyata Campak juga melanda di wilayah Papua. Kini wilayah timur Indonesia menjadi perhatian karena 10 ribu anak terserang gizi buruk dan campak. Seperti dfiteri, campak sebenarnya bisa diatasi lewat imunisasi.
Jika semakin parah, campak bisa mengganggu tubuh dan mengarah pada komplikasi serius.
Ngerinya, campak termasuk dalam 10 besar penyebab kematian terbanyak pada balita di Indonesia. Campak adalah infeksi virus yang ditandai dengan munculnya ruam di seluruh tubuh dan sangat menular.
Virus campak ada di dalam percikan cairan yang dikeluarkan saat mereka bersin dan batuk. Virus campak akan menulari siapa pun yang menghirup percikan cairan ini.
Salah satu gejala seseorang terkena campak memang seperti gejala flu. Demam, mata memerah, tanda-tanda seperti sakit tenggorokan, hidung tersumbat.
Virus campak bisa bertahan di permukaan selama beberapa jam dam bisa bertahan menempel pada benda-benda lain. Ketika seseorang menyentuh benda yang sudah terkena percikan virus campak lalu menempelkan tangan ke hidung atau mulut maka bisa ikut terinfeksi.
Sebenarnya sudah ada vaksin untuk mencegah campak. Vaksin ini termasuk dalam bagian dari vaksin MMR (campak, gondongan, dan campak Jerman).
Sayangnya, wabah campak di Papua ini terkendala oleh tenaga medis dan akses jalan menuju pusat pelayanan kesehatan. Vaksin pun tidak bisa dilakukan kepada semua anak-anak.
Kapolda Papua, Irjen Boy Rafli Amar pun sampai meminta bantuan dari Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri untuk mengirimkan personel dokter tambahan dalam menangani wabah gizi buruk dan campak di Asmat.
?Tenaga medis kurang, tenaga dokter sangat minim, kepala puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) bukan dokter. Polda Papua juga meminta BKO (bantuan kendali operasi) dokter kepada Pusdokkes Polri,? ungkap Boy Rafli Amar di sela-sela Rapat Pimpinan Polri 2018, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta Selatan (24/1/18).
Ia membeberkan, kendala lain dalam menangani wabah gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat juga disebabkan oleh faktor lokasi yang jauh dan sulit dijangkau. Kendala berikutnya adalah taraf perekonomian masyarakat yang rendah, serta keterbatasan sarana transportasi dan akses distribusi makanan bergizi.

