Berita Nasional Terpercaya

Peluang dan Tantangan GMKI pada Usia 69 Tahun

0

BOGOR, BERNAS.ID –Pada 9 Februari 2019, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) memasuki usia ke 69 tahun. Dalam perjalanan panjang itu, rentetan peristiwa masa lalu mampu dilewati GMKI yang dimulai dari Orde Lama, Orde Baru hingga masa reformasi GMKI masih tetap mempertahankan eksistensi sebagai sebuah sekolah latihan kader pemimpin bagi mahasiwa Kristen yang mau belajar mengabdi untuk bangsa dan Gereja.

“Sejarah mencatat bahwa jauh sebelum Indonesia merdeka, pada tahun 1932 telah lahir cikal bakal GMKI yang bernama Christelijke Studenten Vereeniging Op Java (CSV OP Java) sebagai organisasi yang memegang teguh tradisi dan nilai oikumenis dan nasionalis,” kata David Robby Marpaung, Korwil III PP GMKI dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi Bernas.id, Sabtu (9/2/2019).

Menurut David Robby Marpaung, keberadaan GMKI tidak lepas dari sosok Johannes Leimena sebagai salah satu founding father gerakan. Semasa hidupnya dihabiskan untuk mengabdi bagi negara sebagai bentuk representasi partisipasi aktif umat Kristen untuk memancarkan Kasih Kristus pada masyarakat luas. Salah satu bentuk pengabdian nyata dari J Leimana yang merupakan lulusan fakultas kedokteran adalah dengan membuat rancangan layananan kesehatan masyarakat yang terintegrasi hingga ke pelosok daerah yang disebut sebagai ?Bandung Plan? sebagai awal lahirnya Puskesmas yang hingga hari ini berdampak besar bagi masyarakat Indonesia.

David juga menyampaikan bahwa di usia yang ke-69 tahun sudah saatnya kita bertanya dimanakah posisi GMKI hari ini. Apakah GMKI bersifat status quo atau quo vadis? Bicara soal status quo artinya bahwa pergerakan ini sudah stagnan sebagai sebuah organisasi yang dinamis dan terkena penyakit post power syndrome atau mengelu-elukan kejayaan masa lalu. Quo vadis artinya mau dibawa kemana arah juang pergerakan GMKI hari ini? Tentunya ini menjadi refleksi sejenak apakah keberadaan GMKI masih dianggap perlu.

David juga menyampaikan bahwa GMKI hari ini harus adaptif dan mampu mengikuti setiap perkembangan dan perubahan zaman yang begitu cepat. GMKI tetap berpegang teguh pada prinsip, nilai dan tradisinya sebagai sebuah organisasi yang terus menerus berevolusi dan mengevaluasi kediriannya agar tetap dapat diterima di tengah gereja, perguruan tinggi dan masyarakat.

Memasuki era digital dan keterbukaan akses informasi yang begitu masif, kita lebih dimudahkan untuk mencari berbagai informasi melalui ponsel pintar. Bagai dua sisi mata uang, kemajuan teknologi hari ini juga dapat didefenisikan sebagai peluang atau justru mendatangkan masalah baru. “Oleh karenanya, setiap kader GMKI juga diharapkan harus melek terhadap kemajuan teknologi, karena gerakan hari ini juga tidak sepenuhnya hanya di sosial, namun juga bagaimana kita mampu mengimplementasikan pergerakan di ruang-ruang media sosial yang tepat guna dan bermanfaat,” kata David.

Selain itu, maraknya aksi dan tindakan intoleransi dan ujaran kebencian menjadi masalah klasik di negeri ini menjelang tahun politik elektoral. GMKI sebagai mediator positif tentunya harus mengambil tanggung jawab dalam menarasikan dan meng-counter isu-isu yang berusaha memecah rasa persatuan dan kesatuan antar sesama anak bangsa ujar David Marpaung.

David mengatakan bahwa dalam Dies Natalis ke-69, GMKI harus tetap menjadi salah satu barometer pergerakan mahasiswa Kristen di Indonesia yang senantiasa mengawal Pancasila sebagai ideologi yang final dan hadir untuk membela kelompok kecil dan termarjinalkan. (*/lip)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.