FGD Pengembangan Penelitian Industri Kreatif Digelar di UWM

06 September 2018

Bernas.id - Sebagai langkah untuk mengumpulkan informasi mendalam mengenai penelitian yang sedang dilaksanakan, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof Dr Edy Suandi Hamid, MEc menggelar Focus Grup Discussion (FGD) untuk mendiskusikaan tema penelitian tersebut.

Acara dilaksanakan pada Kamis (6/9/2018) di ruang sidang Rektorat UWM. FGD tersebut bertujuan untuk memperdalam hasil analisa penelitian yang berjudul model sinergi penguatan dan pengembangan industri kreatif kabupaten dan kota di Indonesia.

Selain itu, FGD juga ditujukan untuk menggali kemungkinan pengembangan analisa lebih lanjut. Penelitian tersebut merupakan Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi yang dibiayai oleh Kemenristekdikti.

Hadir dalam acara FGD tersebut narasumber diantaranya Dr Jumadi, SE, MM, Cahya Purnama Asri, SE, MM, Ascasaputra Aditya, SE, MBA, Nany N Kurniyati, SE, MM, MSc dan Miftachul Huda, M.Si. Sedangkan dari Tim peneliti sendiri di antaranya Prof Dr Edy Suandi Hamid, MEc, Drs Awan Setya Dewanta, MEcDev, Muhammad Jauharul Maknun, SE, MEK, Ilham Hasura Maulana, SE, MEcDev dan Fauzan Husaini, Sei.

Industri kreatif di Indonesia mampu memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga sebesar Rp104.4 triliun atau rata-rata 4,75% terhadap PDB selama 2002-2006. Jumlah tersebut di atas rata-rata kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi, bangunan dan listrik, gas, dan air bersih.

Selain itu, menurut data departemen perdagangan, tenaga kerja yang dapat diserap mencapai sebesar 4,5 juta pekerja pada tahun 2006 dengan tingkat pertumbuhan 17,6%. Produktivitas tenaga kerja mencapai 19,5 juta per pekerja tiap tahunnya. Tiga subsektor yang memberikan kontribusi paling besar nasional adalah fashion (30%), kerajinan (23%) dan periklanan (18%). Berbagai hal tersebut menjadi latar belakang untuk mengembangkan lagi Industri kreatif.

Output yang diharapkan dari penelitian ini adalah gagasan kebijakan desentralisasi fiskal dengan tujuan peningkatan industri kreatif pada tiap daerah di Indonesia. Tujuannya adalah penyusunan peta klaster regulasi dan kebijakan industri kreatif kabupaten/kota di Indonesia; dan perumusan model sinergi yang melibatkan pemangku kepentingan industri kreatif.

“Sistem bottom up perlu diupayakan sebagai langkah untuk mempermudah pengembangan industri kreatif,” papar Bapak Jumadi.

Sedangkan, beberapa rekomendasi dari pelaksanaannya FGD ini di antaranya mengenai sistem dan peran serta elemen pemerintah.

“Bahan baku merupakan salah satu variabel yang paling penting selain sumber daya manusia,” Ibu Nany menjelaskan.

Idealnya dibuat suatu asosiasi atau komunitas yang di dalamnya mencakup para pelaku ekonomi kreatif. Dalam variable pengambil kebijakan dapat ditumbuhkembangkan jumlah institusi pendidikan tinggi. Selain itu, juga diperlukan kerjasama dengan media massa untuk lebih memberikan nilai promosi. (Nuning)


Penulis : Penulis
Editor : Editor