JISP 2018, Ajang Jejogedan Seniman Indonesia dan Mancanegara

07 September 2018

Bernas.id – Tahun 2018 ini, Jogja International Street Performance (JISP) kembali akan dilaksanakan pada tanggal 11-12 September 2018. Tema yang diambil JISP 2018 ini, yaitu "#7 Jogja The Dancing City" dengan tagline "Jogja Jejogedan", Aula Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat 7 September 2018.

Dalam kesempatan ini, JISP 2018 akan memperjelas kerjasamanya dalam hal menjadi bagian dari Dancing Cities Network yang berpusat di Barcelona dan sudah diikuti oleh puluhan negara di Eropa dan Amerika Latin.

Terkait event JISP 2018, Imam Pratanadi, selaku Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata DIY menegaskan bahwa Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, sangat menyadari bahwa suatu kota atau daerah harus memiliki brand yang mampu menempel erat pada benak masyarakatnya sendiri atau calon-calon wisatawan. “Kita ketahui bersama, Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur selalu menyampaikan bahwa Kota Yogyakarta menjadi daerah budaya yang dilengkapi dengan fasilitas pariwisata yang memadai dan berstandard internasional,” katanya ketika konferensi pers dengan media.

“Untuk memperkuat brand Yogyakarta sebagai kota budaya itu, penyelenggaraan event festival yang berkaitan dengan budaya sangat perlu dilakukan. Dalam konteks untuk memperkuat branding, akan lebih mudah memasarkan DIY, baik untuk wisatawan domestik atau wisatawan mancanegara. Untuk itu, Pemerintah DIY dalam hal ini Dinas Pariwisata menyelenggarakan dan menyupport event-event festival budaya yang diselenggarakan di DIY. Salah satunya, kita akan menyelenggarakan Jogja International Street Peformance atau sering disebut JISP,” imbuhnya.

Sementara itu, Iqbal Tuwasikal dari Jaran Production menyatakan bahwa memang betul sekali, kegiatan festival seni budaya akan mampu memperkuat branding Yogyakarta sebagai Kota Budaya. “Melalui kegiatan seni budaya festival ini, kita akan mencoba memperkuat Jogja sebagai kota budaya. Agen-agen yang kita harapkan bisa menyampaikan branding ini melalui publik figur dalam hal ini seniman,” ucapnya.

“Jadi, kita melihat seniman-seniman sebagai orang-orang yang mempunyai kekuatan untuk menggiring opini dan pandangan tertentu. Dalam karyanya, setiap seniman bisa menyampaikan berbagai macam pesan,” imbuhnya.

Jogja International Street Peformance merupakan perhelatan seni pertunjukan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata DIY bekerja sama dengan Jaran Production dan sudah berlangsung sejak tahun 2010. JISP berusaha merangkul dan melibatkan seniman-seniman dari berbagai negara, sebagai sebuah acara yang bertujuan dapat menjadi ruang silaturahmi budaya antarbangsa. Berangkat dari sebuah pemikiran bahwa di Yogyakarta iklim berkesenian tumbuh dengan pesat dan kekayaan seni budaya terawat dengan baik, sehingga dapat menjadi ajang kegiatan kesenian alternatif yang memberikan ruang baru bagi seniman seni pertunjukan, baik seniman kontemporer dan tradisional untuk bebas berkreasi menunjukkan kreatifitasnya.

Dalam kali ketujuh penyelenggaraannya, JISP akan digelar di beberapa ruang publik yaitu Grha Sabha Pramana, seputaran area boulevard UGM dan Lapangan Pancasila UGM Yogyakarta, dengan meliputi kegiatan public space pelformance clan on stage performance. Ruang-ruang publik akan menjadi alternatif bagi kreativitas seniman untuk merespon dan mengisinya. Pilihan ruang publik adalah sebuah upaya untuk mendekatkan masyarakat pada kegiatan kesenian dan meningkatkan apresiasi masyarakat dalam berbagai segmen. Kedekatan masyarakat sebagai pendukung utama produk seni budaya menjadi sasaran yang sangat penting dalam acara ini. Selain itu, ada pula dua pertunjukan besar yang akan digelar di Taman Budaya Yogyakarta dan auditorium tari ISI Yogyakarta.

JISP 2018 akan diikuti oleh seniman-seniman seni pertunjukan terutama musik dan tari dari mancanegara, di antaranya DINYOS Dance Company (Jepang) yang akan berkolaborasi dengan Bimo Dance Theatre (Indonesia), Kazco Takemoto (Jepang), Leine Roebana (Belanda), Stefano Fardelli (Italia), Rodrigo Parejo (Spanyol), Potchanan Pantham (Thailand), dan Angela Vela (Mexico). Selain itu, ada pula seniman dari Yogyakarta dan berbagai daerah di luar Yogyakarta, mereka adalah:

1. Bangka Barat: Sanggar Seruni dan Sanggar Dayang Molek

2. Cirebon: Nani Topeng Losari (Sanggar Purwa Kencana)

3. Purworejo: Ni Dance

4.Wonogiri: Sanggar Shaka Budaya

5. Bandung: Lena Guslina

6.Yogyakarta: Kiki Rahmatika, Kerincing Manis, Fetrl Rachmawati, Artha Dance

7. Padang: Fiitri Dance

8. NTT: Wangak Maumere

9. Pasuruan. Parrisca Ngremo Suropati

Komunitas-komunitas yang juga ikut berpartisipasi adalah

1. Sanggar Melanesian (Papua)

2. Natya Laksita (Yogyakarta)

3. Mila Art Dance (Yogyakarta)

4.Total Perkusi (Yogyakarta)

5. Sanggar Anak Tembi (Yogyakarta)

6. Bambini Body Movement (Yogyakarta)

7. UKM Swagayugama UGM (Yogyakarta)

8. Rampoe Aceh FIB UGM (Yogyakarta)

Acara yang bersifat internasional ini akhirnya diharapkan bisa menjadi ruang pemersatu budaya antarbangsa dan membangun komunikasi dengan mengesampingkan suku, ras. agama, dan golongan baik antar daerah maupun antarnegara. Suatu kesempatan untuk para penampil berekspresi dan mempresentasikan aktivitas seni dari wilayah dan negara mereka masing-masing untuk kemudian dapat saling berinteraksi dan berkolaborasi. Dan hal ini tentunya juga dapat dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan destinasi kegiatan budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta. (jat


Penulis : Penulis
Editor : Editor