Terletak di Jantung Pemerintahan, TTA Miris Terbelengkelai

08 September 2018

Bernas.id - Taman Tirta Artha (TTA) merupakan sebuah kawasan wisata potensial di tengah-tengah kawasan Pemerintah Kabupaten Sleman yang dulu begitu terkenal di era tahun 96-an ke atas. Saat Bernas memantau ke lokasi Sabtu pagi (8/9), kini keadaan TTA terlihat memprihatinkan, tak terawat dan ditumbuhi semak-semak rumput liar, padahal bisa menjadi area publik yang menarik.

Kini, yang sering menyambangi TTA adalah para pemancing mania yang mencoba keberuntungannya untuk mencari ikan. Selain itu, tidak ada lagi orang yang mau datang karena TTA kini terkesan kumuh dan begitu terbelengkelai.

Bagi jurnalis Bernas sendiri yang memang domisilinya di sekitar Kabupaten Sleman, TTA menjadi lokasi yang membangkitkan kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Dulu di TTA terkenal dengan perahu bebek kayuhnya dan panorama ketika sore saat air danau tidak surut.

Namun, keadaan TTA kini tak lagi memperlihatkan keindahannya. Ketakterawatan TTA dan ketakpedulian dari pihak terkait justru bisa menimbulkan rasa sayang atau eman-eman dari sejumlah masyarakat yang melintas, padahal lokasinya boleh dibilang berada di tengah jantung pemerintahan Kabupaten Sleman.

Joko Paromo, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sleman ternyata sudah berinisiatif maju untuk memberdayakan TTA dalam waktu dekat dengan lomba memancing beserta hiburan electone. Joko melihat potensi keramaian warga yang mengunjungi bursa mobil setiap hari Minggu untuk bisa dialihkan ke TTA dengan lomba yang menarik.

"Rencana awal mau buat lomba mancing dengan hiburan electone karena hari Minggu juga ada bursa mobil. Dengan keramaian itu dapat, bisa diolah dengan memberdayakan warga sekitar," katanya.

Joko mengaku sudah akan bekerjasama dengan EO untuk penyelenggaraan lomba memancing tersebut."Rencana ada pihak kedua, tapi belum tahu EOnya, masih cari-cari," jawabnya.

Terkait ijin, Joko Paromo mengaku sudah mendapatkan ijin dari Kelurahan Tridadi  Sleman. "Dari kelurahan sudah oke. Sebetulnya itu tanah kas desa dan disewa kan ke orang lain, tapi boleh untuk dikelola kusus PHRI Sleman," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih mengatakan bahwa lahan TTA itu sudah dalam pengelolaan seseorang bernama Pak Andy, sudah disewa dan kalau tanahnya itu milik kas desa. Ia pun juga menjawab sudah ada rencana menghidupkan kejayaan TTA kembali. "Kami sudah ada rencana kerjasama dengan PHRI, bikin event-event, untuk menghidupkan kembali Tirta Artha," katanya.

Sudarningsih mengatakan pengelolaan berupa kerjasama dimungkinkan apabila dengan institusi desa ataupun BUMDES. "Kalau pengelolaan secara langsung maka harus ada kajian feasibility studies terlebih dahulu. Sampai saat ini, belum dilakukan kajian tentang hal tersebut," jelasnya.

"Tanah tersebut milik Desa Tridadi, jadi sudah sepatutnya desa yang terlebih dahulu melakukan hal kewajiban atas tanah kas desa tersebut. Pembangunan pariwisata yang diprioritaskan pada wilayah yang menjadi aset desa, diharapkan akan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat," imbuhnya.

Sudarningsih mengatakan untuk pembangunan pariwisata pada wilayah aset desa tidak melulu harus berpikir tentang pendapatan. "Apabila kemudian desa melakukan kesepakatan dengan kabupaten untuk bekerjasama tentu ada langkah langkah selanjutnya," ucapnya.

Yono, seorang warga sekitar yang melintas juga menyayangkan keadaan TTA yang tak terawat, padahal sebetulnya dari lokasinya sangat bagus, strategis. Ia menyayangkan tidak ada pihak yang mau merawatnya kembali.

Pada tahun 1998, Tirta Arta menambah banyak fasilitas, antara lain, permainan flying fox yang dipasang dari atas ujung kapal menyeberangi kali. Di dinding kapal replika Phinisi juga dipasang fasilitas panjat tebing. (jat)


Penulis : Penulis
Editor : Editor