Program G2R Tetrapreneur untuk Mengentaskan Kemiskinan

11 September 2018

Bernas.id - Program Global Gotong Royong (G2R) Tetrapreneur merupakan salah satu upaya kreatif dalam rangka mengentaskan kemiskinan dan menurunkan tingkat kesenjangan yang masih cukup tinggi di DIY. Program ini merupakan salah satu program unggulan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bekerja sama dengan UGM dalam upaya mengentaskan kemiskinan yang ada di DIY.  Dalam hal ini, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY menjadi koordinator dan penggerak G2R Tetrapreneur bersama tenaga ahli dari UGM.

"Model G2R Tetrapreneur yang mengawinkan budaya gotong royong dengan daya kewirausahaan dan potensi daerah ini akan mampu mendorong perkembangan ekonomi dan terwujudnya pemerataan ekonomi bagi masyarakat sehingga lebih menjamin setiap warga Kab Bantul dapat hidup layak," kata Wakil Bupati Bantul H Abdul Halim Muslih dalam keynote speech pada Sosialisasi Program G2R Tetrapreneur yang dihadiri berbagai elemen pemerintahan seperti camat, kepala desa dan beberapa perwakilan dinas terkait di Komplek Parasamya Kab Bantul, Kamis (6/9/2018). Sosialisasi diselenggarakan oleh Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPKBPMD) Kab Bantul.

Konseptor model G2R Tetrapreneur Prof Rika Fatimah PL ST MSc PhD dalam rilis yang dikirim kepada redaksi bernas.id dan nagarionline.id, Selasa (11/9/2018) mengatakan, kunci kegiatan pembinaan kelompok masyarakat melalui Model G2R Tetrapreneur dilakukan di Desa Girirejo dan Wukirsari, Kec Imogiri, Kabupatena Bantul.

Menurut Rika Fatimah, perubahan pada industri Usaha Kecil Menengah (UKM) harus dilakukan secara komprehensif, tidak bisa hanya mendorong pelaku usahanya, namun pasarnya dibiarkan. “Pasar perlu juga dididik untuk menyeimbangkan supply dan demand,” ucap Rika Fatimah.

Dikatakan, program intervensi yang biasanya dilakukan pada satu momen tertentu menyebabkan efeknya tidak kontinyu dan tidak optimal. Karena itu, sebaiknya program intervensi dilekatkan pada satu lembaga, misalnya BUMDes, agar program yang sudah disusun dapat terus berjalan.

Sementara Kabid Pemsosbud Bappeda Kab Bantul Mujahid Amrudin menyatakan bahwa sebenarnya Kab Bantul telah merespon munculnya potensi pasar yang besar di Bantul dengan mengembangkan program Produk Andalan Setempat (PAS), namun ternyata dalam pelaksanaannya masih terganjal beberapa kendala, terutama dalam hal pemasaran. Hal ini juga diamini oleh hampir seluruh perwakilan kecamatan Kab Bantul. “Kecamatan Sanden yang empat desa ada produk unggulan dan semua punya BUMDes dan semuanya berjalan, namun cara pemasarannya masih kurang karena tidak ada pendampingan,” kata Heri Pujiastuti dari Kecamatan Sanden.

Terkait hal itu, Rika Fatimah yang memaparkan beberapa tahapan model G2R Tetrapreneur yang terdiri dari (Tetra 1) Rantai Wirausaha, (Tetra 2) Pasar Wirausaha, (Tetra 3) Kualitas Wirausaha, (Tetra 4) Merek Wirausaha mendapat respon positif dari peserta sosialisasi yang hadir, terutama tentang bentuk pendampingan yang menyeluruh dan langsung menggandeng mitra-mitra industri.

“Apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Prof Rika, konsep Anda luar biasa. Yang ingin kami tanyakan bagaimana langkah-langkah yang harus kami ambil untuk bisa menjadi pilot project, mohon ada info kepada kami,” tanya Puji Ayu dari Kecamatan Piyungan.

Menurut Rika Fatimah, perkembangan kunci kegiatan pembinaan kelompok masyarakat Model G2R Tetrapreneur yang dilakukan pada Desa Girirejo dan Wukirsari, Imogiri kini sudah masuk pada tahap Tetra 2 dimana sebanyak 7 mitra G2R Tetrapreneur yaitu Harley Davidson Club Indoenesia (HDCI) Pengcab Bantul; Yayasan Silaturahmi dan Sosial Cendekia (S2C); Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) DIY; Jogja City Mall (JCM); Royal Ambarukmo Hotel; Pamela Swalayan; dan Parsley Bakery telah berkomitmen sebagai mitra G2R Tetrapreneur.

Inovasi kemitraan diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti penyediaan pasar berbasis tanpa-kompetesi (non-competition market), pengembangan produk, pendampingan dan kerjasama kemitraan lainnya. Salah satunya pendampingan komersialisasi produk oleh Yayasan Silaturahmi & Sosial Cendekia (S2C) serta pengembangan produk oleh Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Pengcab Bantul. Kemitraan HDCI berupa pengadaan 'Jelajah Wisata Bantul' yang juga merupakan program kerja pertama untuk HDCI Bantul periode ini.

Jelajah Wisata Bantul tersebut merupakan perwujudan visi misi HDCI untuk mempromosikan dan memajukan pariwisata Indonesia. Event ini melibatkan lintas komunitas motor yang bersama-sama mengunjungi berbagai obyek wisata di Bantul dengan end point di desa G2R Tetrapreneur Wukirsari dan Girirejo, Imogiri, Bantul. Harapannya kegiatan Jelajah Wisata ini tidak hanya bermanfaat bagi kedua desa binaan namun juga memberikan dampak pada masyarakat luas di Bantul terutama pada bidang wisata serta fasilitas pendukungnya seperti aspek kuliner, kerajinan, suvenir dan sebagainya.

Dalam forum yang juga dihadiri tenaga ahli dan Kabid Pemsosbud Bappeda Kab Bantul Mujahid Amrudin SIP MM sebagai narasumber dan Ir Erni Kurniawati MM selaku Kasie Pengembangan Potensi Desa Ekonomi Pendesaan dan TGG Kab Bantul sebagai moderator itu, Mujahid sebagai perwakilan pemerintah Kab Bantul mendeklarasikan komitmen pemerintah Kab Bantul untuk mengadopsi model G2R Tetrapreneur sebagai bentuk intervensi pengembangan produk dan potensi ekonomi desa di Bantul. “Kami berkomitmen untuk mereplikasi G2R ini tidak hanya dikonsep tapi termasuk beberapa langkah yang sudah dilakukan,” ucapnya di hadapan seluruh undangan yang hadir. (*/lip)
 


Penulis : Penulis
Editor : Editor