Berita Nasional Terpercaya

Kopi Merapi dan Kembalinya Kedaulatan Petani

0

Oleh: AA Kunto A

CoachWriter, Pemimpin Redaksi HarianBernas.com

 

Pengakuan Denny Neilment mengejutkan sekaligus melegakan. Minggu (1/11) malam, di depan jamaah ?ngaji bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng? di Lapangan Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, pemilik Kedai Kopi ini mengungkapkan, ?Sembilan tahun setelah membuka bisnis kedai kopi di Jogja, saya baru tahu bahwa Jogja memiliki kopi asli, yakni kopi merapi.?

Keterkejutan itu nanti menuntunnya untuk menelusuri keberadaan kopi merapi, bekerja sama dengan petani kopi merapi, dan mengedukasi pentingnya petani mengelola kopi secara benar supaya harga jual kopi yang tinggi bisa pula dinikmati petani.

Dalam perayaan 11 tahun Kedai Kopi yang juga didukung oleh Harian Bernas tersebut, Denny mengisahkan, tahun 1998 ia datang ke Jogja untuk kuliah. Pemuda asal Padang, Sumatera Barat, yang pernah merantau di Ponorogo, Jawa Timur, ini kemudian menambatkan diri di Kota Pendidikan yang notabene masyarakatnya lebih banyak yang gemar minum teh. Kopi belum populer.

Saat kuliah, ia dan teman-teman memiliki kebiasaan begadang hingga larut malam di warung. Minuman yang kerap mereka pesan adalah kopi. Saat itu ia belum tahu kopi enak seperti apa. Asal hitam itu kopi.

Kegemaran nongkrong mesti pupus sebab saat malam menjelang pemilik warung mengusir. Tutup. ?Enak kali ya kalau kita punya warung kopi sendiri,? ujar Denny tentang asal-muasal ia dan beberapa teman mendirikan Kedai Kopi pada 2004.

Berdiri di tepi Selokan Mataram di kawasan Gejayan, Kedai Kopi jadi satu dari beberapa perintis kedai kopi modern di Jogja. Namanya memang Kedai Kopi, yang kelak lebih populer dengan sebutan Keiko. Secara khusus menyediakan kopi-kopi arabica terbaik di tanah air, Keiko kemudian lekas menjadi favorit tempat nongkrong.

Singkat cerita, kini, di Jogja ada ratusan kedai kopi modern selain coffee shop waralaba dengan merek-merek yang sudah terkenal. Menariknya, seperti diujarkan Denny, Keiko pun sejak kenal kopi merapi mau menerima dan menjual kopi jenis robusta. Dengan demikian, kopi yang di masa Belanda dikenal dengan nama kopi meneer ini kembali mendapatkan tempat di hati pencinta kopi. ?Kami sudah cek di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember. Kualitas kopi merapi di 8,5 dari skala 10. Standar minimal kopi disebut enak dan layak disajikan di kedai kopi modern adalah 8,? tukas Denny.

Kisah ?kesadaran? Denny ini menarik dalam konteks membangkitkan potensi kopi daerah, dalam hal ini kopi merapi. Bahwa keberlangsungkan kehidupan petani kopi bisa ditopang oleh kesediaan pelaku usaha di hilir, yakni coffee shop, dengan membuka pintu bagi terhidangkannya kopi lokal. Tentu, seperti ditekankan Denny, petani harus terbuka untuk bekerja sama, yakni bersedia memenuhi kualifikasi kualitas kopi yang layak dijual di kedai kopi modern. Kualifikasi itu meliputi mata rantai, mulai dari penanaman bibit berkualitas, pemetikan biji yang sudah masak, pengolahan biji pilihan, sehingga saat disajikan benar-benar mewakili cita rasa kopi yang sempurna.

Kesediaan petani dan penjual bekerja sama bukan saja mengembalikan kedaulatan kopi di tanah air sendiri, melainkan juga membuka pemahaman baru bahwa kopi pantas diapresiasi tinggi. Apalagi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kopi selama semester I-2015 mencapai 579.99 juta dollar AS, naik dari bulan sebelumnya yakni Mei yang 91,16 juta dollar AS, yang dengan demikian menempatkan Indonesia sebagai pemasok kopi terbesar kelima di dunia setelah Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Jerman.

Artinya, ketika kopi-kopi lokal diangkat derajatnya, bukan saja di level lokal kopi akan diapresiasi oleh masyarakatnya sendiri, di level dunia juga menjadi duta bangsa dalam percaturan perdagangan global.

Menyitir Cak Nun dalam pengajian malam itu, ?Kopi itu minuman pemersatu. Di mana pun saya disuguhi kopi. Semua orang minum kopi. Bahkan tentara yang berperang saja minum kopi.? Lanjutnya, ?Bahkan di Silikon Valley, pusat teknologi informasi dunia seperti Google dan Yahoo, mereka minum kopi. Lihat, logo bahasa pemrograman javascript berupa kopi.? Entah benar entah tidak, setidaknya kopi telah menjadi bahasa komunikasi universal yang berterima.

Kebangkitan petani kopi merapi, yang meskipun berada di KRB (kawasan rawan bencana) tetap menanam dan mengolah kopi, juga meneteskan pesan betapa kopi juga menjadi simbol dari keteguhan hati untuk selalu optimistis walau sempat terpuruk. Kopi yang pahit bahwa jadi penawar hidup yang pahit.

Leave A Reply

Your email address will not be published.