Berita Nasional Terpercaya

The Sicko, Supaya Tidak Individualistis

0

Oleh: Aryo Lukisworo

Head Barista

Knock Cafe Yogyakarta

 

 

Kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena aspek ini selalu dibutuhkan manusia agar mereka dapat beraktivitas apapun. Tua-muda, miskin-kaya, dan apa pun statusnya, setiap orang berhak untuk menjadi sehat dan mendapatkan perawatan yang selayaknya ketika sakit. Terkait dengan hal tersebut, setiap negara di dunia ini memiliki caranya masing-masing untuk menangani masalah kesehatan warganya dan hal inilah yang menjadi perhatian utama dari film ?The Sicko? karya Michael Moore.

Dalam film ini, Moore berusaha memberikan gambaran detail mengenai kondisi yang terjadi di Amerika. Ketika kapitalisasi medis dan industri asuransi telah memberikan sebuah sekat antara pasien dengan fasilitas yang mereka butuhkan. Dalam hal ini, pemerintah Amerika bahkan tidak mampu berbuat banyak untuk warganya. Sehingga seorang pasien yang sedang melawan penyakitnya masih harus berjuang keras untuk mendapatkan santunan dana dari perusahaan asuransi. Bahkan dokter yang seharusnya mengupayakan kesehatan bagi pasiennya, justru berpihak pada perusahaan asuransi dengan mempersulit permohonan santunan dana dari pasien.

Kondisi tersebut kemudian memancing keinginan Moore untuk mengunjungi Kanada, Kuba, Inggris, serta Perancis. Ia ingin mencari tahu bagaimana fasilitas kesehatan yang didapat oleh warga di negara-negara tersebut. Hasilnya pun begitu fantastis, lebih dari cukup untuk membuat Moore tercengang. Perbedaan yang ditemui oleh Moore memang tampak signifikan, bahkan dalam beberapa kasus Moore ditertawakan karena ia selalu bertanya, ?Berapa biaya untuk fasilitas kesehatan di sini?? dan ada beberapa jawaban yang sering membuatnya malu menjadi orang Amerika seperti, ?Semuanya gratis, tidak seperti di Amerika.?

Dimulai dari biaya, hampir semua fasilitas kesehatan di beberapa negara yang dikunjungi Moore tersebut telah dibuat gratis, termasuk biaya transportasi yang dikeluarkan oleh seorang pasien untuk menuju rumah sakit. Sekalipun harus mengeluarkan biaya untuk obat, misalnya, nominal yang harus dikeluarkan seorang pasien pun tidak sebanyak di Amerika. Sedangkan dari sisi pelayanan, dalam beberapa kasus dokter di Amerika akan mendapatkan bonus ketika menolak permintaan santunan dana dari pasien. Namun di Inggris, seorang dokter justru akan menerima bonus ketika berhasil membujuk seorang pasien untuk berhenti merokok, rajin melakukan check up kesehatan dan berbagai hal lain yang membuat pasien menjadi lebih sehat. Bahkan di Prancis, pemerintah memiliki pekerja yang bertugas untuk datang ke rumah-rumah untuk membantu pekerjaan rumah keluarga tersebut seperti mencuci, merawat anak, atau bahkan memasak untuk makan malam, dan sekali lagi fasilitas itu gratis.

Melalui komparasi yang ditampilkan dalam film ini, tampak jelas jika Moore hendak memberikan kritik terhadap Amerika dan sistem liberalnya. Yakni sebuah sistem yang mengusung jargon kebebasan, namun pada akhirnya sistem tersebut melahirkan sebuah persaingan ketat antarindividu maupun kelompok di dalamnya. Dengan demikian, secara otomatis individu maupun kelompok senantiasa berlomba-lomba untuk meningkatkan daya saingnya. Sebagai dampak dari persaingan tersebut, maka muncullah sifat individualistis. Bagi mereka yang tidak mampu bersaing, harus rela untuk tersingkir dari “arena permainan” dan terjebak pada posisi kurang menguntungkan.

Hal tersebut bisa diterjemahkan sebagai sebuah kegagalan atau nilai minus dari sistem liberal yang ditangkap oleh Moore. Meskipun demikian, Moore tidak hanya meluapkan kritik, namun juga memberikan sebuah gambaran mengenai kondisi yang lebih baik. Dan tentu saja ia juga menyematkan sebuah harapan agar kondisi tersebut dapat terjadi di Amerika. Bahkan mungkin tidak hanya Amerika, namun juga di berbagai negara lain termasuk Indonesia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.