Berita Nasional Terpercaya

12 Siswa Cerdas Diancam Dikeluarkan

0

JOGJA -– Dengan alasan sering berulah di kelas, sebanyak 12 siswa kelas 2A SDN Ungaran, Kota Baru, Yogyakarta, dipaksa membuat pernyataan mengundurkan diri jika masih menimbulkan kegaduhan. Padahal, ke-12 anak tersebut merupakan siswa program Cerdas Istimewa (CI) yang memiliki kecerdasan superior hingga jenius dengan tingkat IQ minimal 130.

“Kejadiannya Kamis (5/11) lalu. Oleh Wali Kelas atas perintah Kepala Sekolah, anak-anak disuruh membuat surat pernyataan diberi sanksi dikeluarkan dari sekolah jika masih membuat keributan. Surat pernyataannya mengikuti form yang ditulis guru wali kelas di papan tulis,” ujar Citra Endah Lestari orangtua murid dari Keenan Atha Asaku Bashy (7) saat mengadukan permasalahan ini ke Forpi Pemantau Independent (Forpi) Kota Yogyakarta, Selasa (10/11).

Baca juga: Sikap Terpuji Nabi Idris, Sosok yang Cerdas dan Kreatif pada Zamannya

Karena merasa janggal dengan paksaan dari pihak sekolah tersebut, para orangtua wali merasa resah akan nasib anak-anak mereka. Terlebih Citra mengkonfirmasi ke guru wali kelas, hal itu ternyata dibenarkan. Sekolah beralasan, hal ini dilakukan untuk mendidik karakter anak-anak tersebut. “Salah satu pertanyaan saya saat ini, apakah anak-anak usia segitu tahu maksud dan risiko dari surat pernyataan yang dibuat,” ujarnya.

Diakui Citra, keributan di kelas 2A CI memang sering terjadi. Namun hal itu diyakininya sebagai hal yang wajar mengingat keputusan untuk mengumpulkan 12 anak dengan IQ lebih dari 130 yang memiliki daya keingintahuan dan eksploratif yang tinggi di satu ruangan.

Dia justru menyayangkan, pihak sekolah yang tidak memiliki kesiapan SDM dalam menjalankan program ini. “Setiap kali habis terjadi keributan di sekolah, saya sering tanya ke anak saya. Kemana gurunya saat keributan itu terjadi? Sering kali jawabannya guru tak ada di kelas,” ujarnya.

Tak hanya itu, wali kelas yang seharusnya setiap hari mendampingi anak di sekolah justru sering melempar tanggung jawab ke wali murid jika terjadi keributan. Saat wali murid dipanggil, wali kelas selalu menuuntut wali murid untuk meminta maaf padanya.

Citra mengatakan, meski program CI yang digagas oleh Dinas Pendidikan ini telah berjalan 3 tahun, namun belum ada perancangan program pendidikan yang jelas untuk diberikan pada anak-anak tersebut. Meski ber IQ tinggi dan masuk dalam kelas khusus, mereka tetap diberikan materi pelajaran sama seperti kelas reguler dan hanya ditambahi pengayaan.

“Saya merasa permasalahan ini karena sekolah yang tidak siap. Misalnya, dulu dikatakan satu guru mengajar 6 murid saja, tapi kenyataannya 1 guru mengajar 12 murid. Lalu dulu dikatakan akan ada kunjungan psikolog setiap bulan untuk memberi konseling pada siswa, keyataannya psikolog datangnya setelah jam belajar mengajar selesai dan yang diberi konseling adalah wali kelas,” ujarnya.

Ia mengatakan, dirinya akan berupaya agar sekolah mencabut keputusan surat pernyataan tersebut. Selain terus berusaha berkomunikasi dengan sekolah dan rekan wali murid, ia juga membaawa permasalahan ini ke Dinas Pendidikan dan Inspektorat.

“Selain mengupayakan tidak ada lagi intimidasi dari sekolah ke anak dan wali murid, saya juga berharap agar sekolah sadar bahwa mereka ini anak berkebutuhan khusus (ABK) sehingga membutuhkan perlakuan khusus. Karena sejak awal, saya yakin itulah alasan digagasnya kelas Cerdas Itimewa ini,” pungkasnya.

Patricia Lestari Taslim yang tergabung dalam Parents Support Group for Gifted Children (PSGGC) atau grup orang tua anak dengan kelebihan tertentu (Gifted) atau yang peduli dengan anak-anak Gifted saat mendampingi Citra mengadu ke Inspektorat mengatakan, pemerintah harus bertindak tegas dalam menangani kasus intimidasi pada siswa dan orangtua siswa dalam bentuk apapun.

Menurutnya, sikap yang  ditunjukkan sekolah ini adalah bentuk ketidak profesionalan sekolah dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar. Selain itu, sekolah juga belum memiliki kesadaran jika anak-anak CI ini adalah anak-anak berkebutuhan khusus yang memerlukan penanganan khusus. “Mengumpulkan 12 anak dengan IQ minimal 130 dalam satu kelas ini seperti bom waktu. Jika salah dalam penanganan, resikonya sangat besar dimasa mendatang,” ujarnya.

Kasus ini, lanjutnya, merupakan preseden buruk dalam dunia pendidikan yang terus berulang. Terlebih,  kebanyakan orang tua murid juga ketakutan untuk melawan berbagai bentuk intimidasi dari pihak sekolah karena khawatir anaknya akan semakin menjadi korban diskriminasi dan intimidasi di sekolah.

“Pengalaman saya sendiri beberapa waktu lalu, ijazah anak saya dan enam temannya ditahan oleh pihak sekolah. Ketika saya mengajak orang tua ke-enam murid tersebut untuk memperjuangkannya, mereka tidak berani,” ujar mantan guru ini.

Sementara itu, Inspektorat Kota Yogyakarta usai mendengarkan laporan Citra menilai, kasus ini memang menindikasikan telah terjadinya intimidasi dari pihak sekolah. Karena itu, dalam waktu dekat pihaknya akan segera meminta konfiramsi dari Dinas Pendidikan dan pihak sekolah agar surat pernyataan yanng sudah dibuat anak-anak itu dianggap tidak ada. “Anak-anak ini-kan Cerdas Istimewa. Mereka harus mendapat pendidikan yang tepat agar potensi mereka tidak tercampakkan,” ujar anggota Forpi, Sutaryo. (qin)

Baca juga: Sikap Terpuji Nabi Idris, Sosok yang Cerdas dan Kreatif pada Zamannya

Leave A Reply

Your email address will not be published.