Berita Nasional Terpercaya

Jokowi, Sebuah Potret Kesederhanaan

0

Siapa yang tidak kenal dengan Jokowi?

Apa yang ada di benak kita ketika mendengar nama Jokowi?

Kesederhanaan, kebersahajaan, bersih, jujur, dan merakyat.

Sederhana tapi berprestasi. Itulah Joko Widodo Presiden ke 7 Indonesia.

Kerja, kerja, kerja. Itulah jargon yang terus didengungkan oleh beliau dan memang itulah yang menjadi prinsip hidupnya untuk terus mengabdi pada negara ini.

Asalnya bukan dari golongan darah biru atau ningrat, ataupun keturunan konglomerat Indonesia yang pernah ada. Beliau berasal dari keluarga sederhana dari desa sederhana di salah satu kota di Indonesia bernama Surakarta. Karena berasal dari keluarga yang sederhana membuat masa kecil Jokowi merasakan hidup yang keras. Mulai dari ketika beliau berusia 12 tahun sudah bekerja sebagai tukang gergaji. Di masa itulah ia merasakan pahitnya penggusuran sebab rumahnya tiga kali terkena penggusuran, dari situ cara berpikir tentang kepemimpinan dibentuk, ia tahu apa yang harus ia lakukan ketika harus menertibkan pemukiman warganya ketika ia menjadi Walikota Solo dan Gubernur Jakarta.

Mengabdi dengan sepenuh hati, kesederhanaan, jujur dan bersih mengantarnya menuju RI 1.  

Marilah kita petik pelajaran dari kisah hidup beliau. Lihatlah latar belakangnya, sejak sepeninggal Ir. Soekarno, semua presiden kita dari kalangan militer yang gagah perkasa atau keturunan darah biru. Baru beliau yang memulainya, kehidupan berasal dari pinggir kali, digusur sana sini, usaha sendiri sampai mandiri, dan kemudian nasib mengantarnya ke Istana. Bukan karena harta atau citra, tapi karena kerja, kesederhanaan, dan jujur.

Teman-teman, kita tidak perlu untuk berlatar kekayaan dan gagah, tapi kita harus hidup dengan jujur, sederhana, dan berbahagia apa adanya serta bersyukur dengan apa yang dimiliki. Tidak perlu menjadi sempurna, tapi jadilah pejuang untuk umat.

Ayo kejarlah cita-cita kita, presiden kita telah menunjukkannya, bahwa siapapun bisa menjadi apapun yang diinginkan. Tapi tujuan hidup jangan pula menjadi presiden atau konglomerat, tujuan hidup adalah mengabdi, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak. Masalah nanti kaya atau jadi pejabat tinggi, itu hanyalah bonus belaka, bukan inti sebenarnya. Jadilah manusia panah jaman, teman-teman. Jadilah cahaya peradaban yang berasal dari celah yang tersembunyi. Seberapapun berhasilnya kita nanti, tetaplah rendah hati, senyum bersemi, dan terus berbakti.  

Leave A Reply

Your email address will not be published.