Berita Nasional Terpercaya

Menikmati Keindahan Curuh Bidadari

0

PEKALONGAN, HarianBernas.com--Indonesia kaya dengan obyek wisata yang indah dan menarik, tak terkecuali wilayah Jawa Tengah. Bukan hanya obyek wisata sejarah seperti meseum, monumen atau tempat-tempat bersejarah lainnya, tapi juga obyek wisata alam yang indah nan mempesona. Salah satu wisata alam yang kin banyak dilirik dan dikunjungi wisatawan baik lokal maupun nasional adalah obyek wisata Curug Bidadari.

Obyek wisata ini berada di wilayah perbatasan Kabupaten Pekalongan dan Batang, Jawa Tengah tepatnya di kawasan Desa Jolotigo. Obyek wisata ini menjadi salah satu obyek wisaya andalan pemerintah daerah setempat, apalagi bila dikelola dengan baik. Sementara selama ini, obyek wisata tersebut belum begitu dikenal karena kurangnya informasi dan sentuhan sarana penunjang yang membuat obyek wisata ini menarik bagI wisatawan.

Baca juga: Rumah Joglo, Rumah Adat Jawa yang Memiliki Banyak Keunikan

Beberapa daya tarik obyek wisata ini adalah air terjun yang tinggi dengan air yang deras. Sementara di bawahnya terdapat kolam yang bisa digunakan untuk berenang atau mandi bagi para wisatawan. Air terasa sejuk bahkan dingin. Menyegarkan. Obyek wisata ini sudah ini tak kalah menarik dibanding obyek wisata air terjun Tawanwang maupun Curug Sewu di Sukorejo, Kabupaten Kendal. Dan untuk menuju ke sana, para wisatawan bisa mengunakan kendaraan umum atau pribadi melalui Kecamatan Doro, Talun lalu Batursari, Sengare hingga Jolotigo.

Bagia  pengunjung yang menggunakan jasa angkutan umum hanya berhenti sampai Desa Batursari, lalu meneruskan perjalanan dengan menggunakan jasa tukang ojek. Bagi para traveler dan adventurer pasti akan menikmati perjalanan ini, apalagi setelah menempuh medan yang menantang.  Wisatawan akan disuguhi pemandangan dua kolam alami dengan air yang berwarna kehijauan. Dua dua kolam tersebut, satu di antaranya berkedalaman empat meter di bawah air terjun Curug Bidadari setinggi 7 meter. In menjadi daya tarik bagi pengunjung hingga mau berlama-lama menikmati obyek wisata alam ini.

Di antara kedua kolam itu, ada lintasan sungai dengan air yang bening/jernih dan cukup deras dipenuhi bebatuan yang dijadikan pijakan kaki bagi para pengunjung. Bagi mereka yang bisa berenang, boleh mencoba terjun ke dalam kolam sedalam 7 meter di atas tebing batu yang mengait Curug BIdadari itu. Pemandangan alam yang masih tampak alami, hijau, sejuk yang ditingkahi kicauan burung dari antara rerimbungan pohon yang tumbuh subur memanjakan para pengunjung menikmati suasana alam yang indah itu.

Salah seorang pengunjung asal Jigja, Margantara mengaku sempat mencoba berenang di kolam itu. Ia mengaku kagum dengan pesona Curug Bidadari yang indah itu. “Obyek wisata ini sangat romantis, cocok bagi anak-anak mudah atau mereka yang berjiwa muda, karena suasananya sangat romantis,” kata Margantara yang datang ke Curug Bidadari bersama keluarganya

Untuk bisa leluasa mandi dan berenang, para pengunjung disarankan membawa pakaian ganti. Dan meskipun tidak mandi, para pengunjung dijamin basahsaat menyaksikan keindahan Curug Bidadari.Obyek wisata ini dikelola oleh masyarakat setempat. Para pengunjung cukup mengeluarkan biaya Rp 1.000 per orang untuk memanfaatkan jasa ruang ganti yang disediakan warga secara sederhana. Di lokasi itu, para pengunjung bisa menikmati jajanan atau makanan yang ditawarkan oleh warga dengan harga relatif murah.

Menurut Kepala Dusun Dukuh Purbo, Desa Jolotigo Widiyanto, pengunjung Curug Bidadari relatif cukup ramai, sekitar 400 orang tiap hari kerja dan hari Sabtu. Dan pengunjung akan semakin ramai pada hari Jumat dan Minggu, bisa mencapai 1.000 orang. Obyek wisata ini mulai ramai dikunjungi sejak dua bulan terakhir setelah foto obyek wisata air terjun di antara dua tebing, seperti “Grand Canyon Colorado”, itu diunggah di media sosial.

Dikatakan, nama Curug Bidadar konon karena setiap ada anak kecil yang rewel menjadi tidak rewel lagi setelah dibawa ke curug karena melihat keindahan pelangi di antara dua tebing yang mengapit curug. Ketika itu, bidadari dipercaya turun dari langit untuk menenangkan si anak sehingga obyek wisata ini dinamakan Curug Bidadari. Warga setempat sebelumnya menyebut Curug Butuhan karena warga mencari kayu bakar hingga ke curug untuk memasak atau dijual guna memenuhi kebutuhan warga sehari-hari.

“Banyak pengunjung yang datang ke Curug Bidadari membawa dampak yang sangat positif. Kegiatan ekonomi warga setempat menjadi meningkat, pemuda desa mengelola parkir dan warga lainnya membuka warung dan menarik ojek,” kata Widiyanto.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalm mengola obyek wisata itu dibentuk Pokdarwis. Melalui Pokdarwis ini masyarakat diberi pemahaman tentang pentingnya mejaga kebersihan, keindahan dan keramahan bagi pengunjung agar betah berlama-lama di obyek wisata ini. Dan kini, obyek wisata tersebut tidak hanya dikunjungi wisatawan lokal/domestik tapi juga mancanegara.

Pengelolaan obyek wisata Curug Bidadari hingga saat ini masih melibatkan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Jolotigo, sementaa Perhutani KPH Pekalongan Timur mendapat kontribusi dari hasil kegiatan di wisata ini. Menuru Camat Talun Ajid Suryo Pratondo,, pemkab setempat sangat mendukung kegiatan wisata Curug Bidadari agar makin dikenal oleh pengunjung. “Kami telah membuat dan menayangkan video potensi wisata Curug Bidadari dalam kegiatan 'Apresiasi Seni dan Budaya',” kata Pratondo.

Dikatakan, obyek wisata Curug Bidadari merupakan aset daerah yang perlu dikelola dengan baik agar bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. “Yang rpenting jangan sampai adanya kegiatan wisata  malah menimbulkan konflik,” kata Pratondo.

Baca juga: Mengenal Keunikan Rumah Adat Jambi yang Memiliki Ukiran Eksotik

Leave A Reply

Your email address will not be published.