Berita Nasional Terpercaya

Baktiku Ibu: Bakti si Anak Tanpa Tangan

0

 ?Aku tidak percaya dengan keadaanku saat ini??

?Mengapa jari tanganku harus diamputasi??

?Aku tidak kuat menerima kenyataan ini?

Bagaimana jika kutipan pada kalimat  itu terjadi pada kamu?

Apa yang akan kamu lakukan?  Putus asa? 

Maukah kamu menyimak kisah inspiratif berikut ,dimana ada seorang  laki ? laki yang harus kehilangan kedua tangannya , namun laki ? laki ini kini menjadi panutan bagi semua orang berkat semangat hidup nya. Bagaimana kisahnya? Anda penasaran? Yuk simak langsung kisahnya.

Chen SingYin adalah seorang laki-laki kelahiran 48 tahun silam yang tinggal di kota Chong Ching, China. Ia harus kehilangan kedua tangannya di usia 7 tahun karena terkena sengatan listrik. Artinya sudah 41 tahun dia hidup tanpa tangan. Malang sekali bukan?  Lalu bagaimana dia bisa menjalankan hari- harinya? Apakah dia putus asa?

Meskipun cacat, ia tetap bisa menjaga dirinya dengan baik. Banyak hal yang dapat dia lakukan sendiri, misalnya bercocok tanam, memasak, bahkan menggembalakan kambing domba. Chen SingYin adalah bungsu dari 6 bersaudara. Sejak tahun 2014, ibunya, yang berusia 88 tahun, terbaring sakit di rumah. Dengan setia, dia merelakan diri untuk merawatnya.

Ibunya menderita penyakit bronkitis sejak 2009 lalu. Perlahan – lahan, tubuh sang ibu pun semakin lemah dan hanya dapat terbaring di ranjang. SingYin harus memasak untuk ibunya 3 kali sehari, juga menyuapi ibunya. Karena tidak memiliki tangan, SingYin bertahun-tahun belajar mencuci, memotong, dan memasak menggunakan kakinya.  Kebayang gak sih gimana SingYin bisa melakukan semua itu?.

Yang lebih hebatnya sekarang, hampir tidak ada pekerjaan yang sulit untuk dia lakukan. Setelah memasak, ia menggunakan mulutnya untuk menyendok bubur dan menuangkan ke dalam mangkok, kemudian menjepit mangkok dengan lehernya dan membawanya ke kamar ibunya. Yang luar biasa, ia menggunakan mulutnya sebagai tangan untuk menyuapi ibunya yang sakit.

Dibandingkan dengan memasak, membawa 20 ekor kambing makan rumput setiap sore mungkin terdengar sedikit lebih mudah untuk SingYin. Kaki SingYin memang lebih cekatan dibandingkan dengan banyak orang lainnya. Namun yang pantas untuk diacungi jempol adalah usahanya dan sifatnya yang pantang menyerah. Ia tidak menjadi benalu bagi orang lain.

Di daerah tempat tinggalnya, banyak orangtua yang menjadikan SingYin seorang panutan bagi anak-anaknya. Keterbatasan yang dimilikinya, tidak mendorongnya menjadi seorang pengemis, dia memutuskan hidup mandiri. Walaupun SingYin tidak sekolah tinggi, kehidupannya sangat patut kita pelajari.  

Bersyukurlah kalau kita boleh punya tubuh yang sempurna dan tanpa cacat. Yuk, lebih rajin dan lebih semangat lagi.

Leave A Reply

Your email address will not be published.