Berita Nasional Terpercaya

Menulis, Menulis, dan Terus Menulis…. Sebelum Mati.

0

“Maaf, umur anda tinggal setahun lagi.”

Bagaimana reaksimu jika kalimat itu benar-benar dilontarkan padamu?
Takut? Bingung? Tertawa ? Tertegun? Menyesal?
Lalu, apa yang akan kamu lakukan?

Pada bulan januari 1960, seorang pria berusia 42 tahun divonis menderita tumor otak. Dokter mengatakan bahwa sisa hidupnya tinggal satu tahun lagi. Bak petir di siang bolong, pernyataan dokter tersebut merisaukan hatinya. 
Bagaimana tidak? 
Biaya pengobatan telah membuatnya jatuh miskin. Hal yang paling dia risaukan adalah saat dia meninggal nanti, dia tidak mempunyai apa pun untuk ditinggalkan untuk istrinya.

Usia 42 tahun bagi seorang yang terkena tumor otak, bukanlah masa yang produktif. Lalu, apa yang harus dilakukan?

Satu-satunya cara adalah dengan membangkitkan potensi menulis dalam dirinya. Pikirnya, jika ia bisa menjadi seorang novelis sukses, maka royalti penjualan buku-bukunya dapat menopang kehidupan istrinya kelak.

“Menurut perkiraan, saya hanya memiliki musim dingin, musim semi, dan musim panas untuk hidup, dan pada musim gugur ajal akan datang menjemputku.?

Untuk mengejar sisa waktu hidupnya, pria itu menulis dengan penuh semangat. Dia menyelesaikan 5 novel dalam tahun itu (3 di antaranya dipublikasikan). Akan tetapi setelah setahun berlalu, ia tidak meninggal. Kanker otaknya lenyap dan ia tidak bisa berhenti menulis. Bahkan, ia terus menulis hingga mewariskan sekitar 70 buku sebelum meninggal pada usia 76 tahun. Dia mungkin tidak akan pernah terpacu untuk menjadi seorang penulis sukses kalau tidak ada ancaman penyakit mematikan.

Dia adalah Anthony Burgess. Seorang yang mungkin anda tidak kenal. Namun, ia adalah salah satu tokoh terkenal dan terbaik dalam kesusastraan Inggris pada paruh kedua abad 20. Burgess menghasilkan banyak novel, termasuk kuartet Enderby and Earthly Powers. Burgess juga musisi dan ahli bahasa. Ia menulis lebih dari 250 komposisi musik, termasuk simfoni pertama ketika ia berusia 18 tahun.

Setujukah kamu jika sebagian besar orang seperti Anthony Burgess, memiliki potensi namun terus menunggu hingga akhirnya ia dihadapkan pada situasi kritis, barulah potensi itu dimunculkan dan dikembangkan dengan maksimal?

Apa yang akan kamu lakukan jika menghadapi situasi seperti Burgess??

Leave A Reply

Your email address will not be published.