Berita Nasional Terpercaya

Cerita Tentang Orang yang Bertahan Hidup 61 hari di Lautan Salju

0

Apa rasanya berada di jarak yang seolah begitu dekat dengan kematian.

Pernahah anda membaca kisah tentang seorang lelaki bersama rekan-rekannya terjebak di Pegunungan Andes akibat kecelakaan?  Ajaibnya, mereka semua berhasil selamat.

Hidup adalah suatu hal yang perlu diperjuangkan. Setujukah anda jika harus ada suatu kekuatan yang mendorong kita untuk tetap bertahan hidup? Nando Parrado, pria yang berasal dari Uruguay kelahiran 71 tahun yang lalu berhasil melawan maut di pegunungan Andes. Pada 12 Oktober 1972, pesawat Uruguayan Air Force Flight 571 meninggalkan bandara Carrasco, Montevideo. Turut dalam pesawat carteran tersebut 5 orang kru bersama 40 orang dari tim rugby Old Christians, bersama pengurus tim. Turut pula teman dan anggota keluarga para pemain. Nando Parrado misalnya, mengajak serta Ibunya, Eugenia Dolgay, dan saudaranya, Susana Parrado. Mereka akan terbang ke Santiago, Chili untuk sebuah pertandingan.

Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap

Cuaca buruk memaksa mereka bermalam di Mendoza, Argentina sebelum melanjutkan perjalanan keesokan siangnya. Awan tebal yang menyelimuti langit pegunungan Andes dan juga angin yang cukup kuat, membuat perhitungan yang dibuat awak pesawat kurang tepat sehingga pesawat jenis Fairchild tersebut malah menabrak salah satu puncak pegunungan Andes dan terjatuh. Akibat dari kecelakaan tersebut 5 orang meninggal, sementara 7 lainnya hilang. Dan saat itulah dimulainya perjuangan 33 orang yang tersisa. Celakanya, persediaan makanan hanya tersedia seadanya. Apalagi, dinginnya suhu yang menggingit, ditambah lagi campur aduknya perasaan bingung dan sedih karena hilangnya teman dan keluarga, membuat situasi semakin buruk.

Keadaan menjadi semakin buruk begitu mereka mendengar berita dari radio bahwa pemerintah Uruguay (bersama dengan Argentina dan Chili) memutuskan untuk menghentikan proses pencarian korban, sebelas hari setelah kecelakaan. Melalui radio transmitor yang mereka temukan, tim pencari memprediksi sudah tidak ada lagi penumpang yang selamat dalam kecelakaan itu. Mereka sangat terpukul tentunya dengan berita tersebut.

Ketika tak ada lagi perbekalan makanan yang bisa mereka makan, satu-satunya sumber makanan yang bisa mereka makan adalah daging para korban yang telah meninggal, tubuh dari teman-teman mereka sendiri.

Baca juga: 51 Jenis Font Keren untuk Desain dan Menulis Buku 2021

Namun begitulah, demi bertahan hidup, korban yang selamat akhirnya memberanikan diri untuk memakannya. Di sisi lain, tak semua korban selamat dapat bertahan. Beberapa jatuh sakit dan meninggal. Sebagian bahkan meninggal karena terkena longsoran salju saat mereka masih terlelap.

61 hari setelah kecelakaan, 12 Desember 1972,  orang-orang yang selamat memutuskan untuk memulai perjalanan keluar dari lautan salju tersebut. Itupun melalui perdebatan yang cukup alot – terutama karena terbatasnya bekal dan kondisi badan mereka sendiri yang lemah. Dengan bekal seadanya dan juga kantung tidur yang mereka buat sendiri dari berbagai macam kain yang ada, mereka memulai perjalanan. Dipilihlah Nando Parrado, Roberto Canessa, dan Antonio Vizintin untuk mencari bantuan.

Di hari ketiga perjalanan, diputuskan bahwa Vizintin harus kembali ke lokasi kecelakaan karena sisa bekal yang semakin sedikit. Sementara Parado dan Canessa melanjutkan perjalanan. Beberapa hari setelah itu, Parado dan Canessa mulai menemukan sungai. Dari sungai inilah mereka lantas mulai yakin bahwa mereka akan keluar dari Andes. Mereka mengikuti alur sungai tersebut hingga mereka benar-benar menapak tanah, bukan lagi salju.

Baca juga: Memahami Pentingnya Integrasi Nasional dan Faktor Pembentuknya

Bermula dari sanalah keduanya lantas mulai menemukan tanda-tanda kehidupan. Dimulai dari sisa-sisa kemah (kemungkinan milik para penggembala), hingga mereka benar-benar melihat kawanan sapi pada hari ke sembilan perjalanan. Di tempat itu, keduanya memutuskan untuk beristirahat. Dan Canessa-lah yang kemudian melihat laki-laki berkuda di seberang sungai. Awalnya ia berpikir itu hanyalah semacam halusinasi, tetapi kemudian muncul 3 orang lainnya. Mereka lantas meneriaki para penggembala itu, kemudian berusaha menceritakan kondisi mereka. Derasnya air sungai yang memisahkan mereka membuat komunikasi tidak begitu jelas. Namun, keduanya mendengar jelas salah seorang dari penggembala itu berteriak, “Besok!” Saat itulah mereka mulai yakin akan selamat.

Keesokan harinya, si lelaki berkuda kembali datang dengan makanan. Dari seberang sungai ia juga melemparkan kertas dan pena yang diikatkan pada sebuah batu. Barulah setelah Parrado menuliskan catatan di kertas, si penggembala paham. Ia memacu kudanya ke desa terdekat, sebelum menumpang truk untuk melapor ke kantor polisi. Di saat yang sama, teman si penggembala berhasil membawa Parrado dan Canessa ke Los Maitenes, sebuah kawasan perkampungan.

Nando Parrado dan Carlos Paez berpelukan setelah berhasil diselamatkan. Sementara Parrado dan Canessa mencari pertolongan, mereka yang bertahan di lokasi kecelakaan sekali menghidupkan radio, kalau-kalau ada berita tentang Parrado dan Canessa. Pagi hari, 22 Desember, berita yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya muncul di radio. Siang harinya dua buah helikopter penyelamat datang, bersama Parrado sebagai penunjuk arah.

Baca juga: 

Hari itu, enam orang korban selamat diangkut dari lokasi kecelakaan. Delapan orang lainnya harus kembali bermalam di lokasi kecelakaan bersama anggota tim penyelamat. Baru pagi harinya, 23 Desember 1972, mereka semua berhasil diangkut, untuk kemudian dibawa ke Santiago, Chili untuk perawatan. Tubuh para korban yang meninggal dikuburkan dengan layak. Sekitar 80 meter dari lokasi jatuhnya pesawat diletakkan tumpukan batu sebagai tanda dan pengingat kecelakaan tersebut.

Selama kurang lebih 3 bulan mereka hidup di pegunungan Andes Kini, setiap tahun mereka mengadakan reuni ke pegunungan Andes untuk mengenang masa-masa perjuangan dulu. Puluhan judul buku dan filmpun diterbitkan. Termasuk catatan Nando Parrado sendiri, Miracle from the Andes – yang juga menjadi sumber utama tulisan ini.

Setujukah anda jika cerita ini sedikit mengerikan?

Namun, Nando Parrado dan teman-temannya menunjukkan pada kita bahwa miracle is achievable! Keajaiban itu bisa kita raih dengan usaha sungguh-sungguh. Semangat pantang menyerah dan tak kenal putus asa. Akan lain ceritanya, jika mereka saat itu hanya pasrah menunggu maut datang menjemput di atas Andes.

Baca juga: 30+ Rekomendasi Situs Baca Manga dan Komik Online Bahasa Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.