Berita Nasional Terpercaya

Tak Tamat SD Bisa Mendirikan 900 Bank, Kini Asetnya Mencapai 4 M

0

Anda penah dilanda masalah?

Masalah apa yang pernah anda hadapi? Separah apa?

Ketika dihadapkan pada masalah, banyak orang yang malah berpikiran kreatif. Bermula dari kesulitannya saat mencari modal untuk memperluas lahan kebun ubi jalar di Baso, Agam, Sumatera Barat, pria ini kemudian bertekad membuat bank petani.

Masril muda, seperti kebanyakan pria minang, merantau ke ibukota Jakarta tahun 1994. Ia merantau ke Jakarta karena seorang teman ibunya mengajaknya. Ia yang saat itu bekerja sebagai buruh di Pasar Padang Luar, Bukittinggi, diminta untuk membantu di usaha percetakan yang ada di kota Jakarta.

Baca juga: Tertarik menjadi CEO atau Owner? Simak perbedaan keduanya

Setelah 4 tahun bekerja di ibukota, ia kembali ke kampungnya. Bersama dengan para pemuda di kampungnya, ia membentuk sebuah organisasi kepemudaan Karang Taruna, bernama Banu Hampu. Untuk membiayai berbagai kegiatan organisasi tersebut, Masril membangun ruko yang semua biayanya berutang kepada toko bahan bangunan. Setelah jadi, ruko yang berjumlah 6 tersebut, ia sewakan dan uang sewa 5 ruko ia bayarkan ke toko bahan bangunan. Sedangkan uang sewa satu ruko adalah milik organisasi pemuda yang kemudian berkembang menjadi sebuah yayasan bernama Yayasan Amai Setia.

Bermodal pengalamannya mengurus organisasi, ia kemudian tergerak untuk membantu para petani ubi jalar di Baso yang saat itu ingin mendirikan bank petani karena mereka merasa kesulitan memperoleh dana untuk memperluas kebun. Perjuangan Masril tidak mudah karena ketika ia menanyakan ke bank-bank di Padang dan bertanya tentang cara mendirikan bank, dia tidak menemukan jawaban yang memuaskan.

Namun, apakah ia menyerah? Masril kemudian berkonsultasi dengan Dinas Pertanian yang ada di kabupaten. Ia lalu bertemu dan berkenalan dengan seorang pegawai BI (Bank Indonesia) yang menjelaskan kepadanya tentang pendirian bank. Beruntungnya, ia diundang langsung untuk datang ke kantor Bank Indonesia pada tahun 2005.

Setelah mendapat penjelasan lengkap di kantor Bank Indonesia, ia dan para petani mulai berjuang mendirikan bank petani. Meskipun masih banyak lagi halangan dan rintangan yang harus dihadapi saat berjuang mendirikan bank petani, berkat perjuangan Masril dan para petani inilah, saat ini sudah berdiri 900 LMK (bank)  Prima Tani di Nagari Koto Tinggi, Baso, Agam, Sumatera Barat. Aset LMK (bank) tersebut terus berkembang  dari 300 juta sampai 4 milliar per LMK (bank).

Dari bank yang didirikannya inilah yang mengantarkan pria bernama Masril Koto kelahiran 41 tahun silam asal padang ini meraih berbagai penghargaan sebagai seorang social entrepreneur.  Pemerintah kemudian mengadopsi sistem bank yang dibangun oleh Masril Koto ini dan menjadikannya sebagai cikal-bakal sebuah program pemerintah yang bernama Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan Nasional.

Luar biasa sekali bukan? Jika Masril Koto yang seorang  yang tak lulus SD bisa berhasil membangun 900 bank petani dengan sukses. Bagaimana dengan anda? Anda ingin mengikuti jejak kesuksesannya?

Baca juga: Tujuan Karir Jangka Panjang yang Membuat Anda Dilirik Perusahaan

Leave A Reply

Your email address will not be published.