Berita Nasional Terpercaya

Terorisme akan Tetap Menjadi Ancaman

0

JOGJA,HarianBernas.com—Pakar Hukum Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) Prof JawahirThontowi SH PhD menilai kasus penembakan yang menewaskan 150 orang di Paris, Perancis, Jumat (13/11) malam, menunjukkan bahwa berbagai upaya pencegahan terorisme yang telah dilakukan selema ini belum berhasil. Hal ini disebabkan karena belum tegaknya keadilan global.

“Upaya tersebut belum dan tidak akan pernah berhasil untuk menghentikan kekerasan sehingga menyebabkan kejahatan teroris akan tetap menjadi ancaman kemanusiaan masyatakat dunia. Hal ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya karena terjadinya krisis kepercayaan terhadap badan-badan organisasi internasional,” kata Prof Jawahir kepada harianbernas.com, Minggu (15/11).

Dikatakan, Dewan Keamanan PBB sebagai badan penegak hukum internasional dinilai tidak berfungsi efektif dalam menegakkan hukum internasinal yang benar dan adil. DK PBB yang seharusnya hadir dalam menengahi konflik atau perang saudara di Irak dan Suriah, justru negara-negara super power terlibat mengambil keuntungan bagi kepentingan nasional mereka.

Ia mencontohkan, Presiden Rusia Vladimir Putin yang ikut menggempur kelompok ISIS yang nyata-nyata menentang pimpinan negara Irak dan Suriah yang berideologi syiah dan juga Amerika Serikat yang berada di belakang pemimpin-pemimpin Iran. ?Kendatipun belum dapat dipastikan, pelaku penembakan dan pemboman bunuh diri di tempat hiburan di Paris yang menewaskan 153 orang, diduga tidak lepas dari krisis kemanusiaan di Timur Tengah tersebut,” tegas Prof Jawahir.

Menurut Prof Jawahir, faktor penyebab lainnya adalah konstruksi hukum internasional terhadap terorisme terlalu luas, sehingga kepastian hukum antara norma hukum terorisme, pemberontak untuk suatu hak kemerdekaan, termasuk menyamakan pengikut ISIS sebagai terorisme sungguh kurang tepat.

Akibat konsep terorisme yang ambigu tersebut, menurut Prof Jawahir, peluang untuk disalahgunakan secara politis oleh negara adidaya dapat merugikan negara-negara ketiga yang miskin, yang nota bene adalah negara-negara muslim, mulai dari Afganistan, Pakistan, Palestina dan Irak serta Suriah dengan mudah dapat dijadikakan target sebagai teroris.

 Prof Jawahir menegaskan bahwa kekerasan dan terorisme akan tetap mengancam tatanan global selagi keadilan global juga tidak dapat ditegakkan. ?Jika masih terjadi defisit kepercayaan terhadap PBB, konsep teroris yang ambigu, budaya hukum internasional yang tidak kondusif, banyak negara yang penduduknya masih tidak terdidik dan juga kemiskinan di negara-negara berkembang yang belum terjawab, maka tindakan kekerasan atau teroris akan tetap mengancam dan semakin tidak mudah diantisipasi secara tepat dan akurat, ditambah dengan adanya Cyber Terrorism atau suatu model rekrutmen terorisme melalui cyber,” kata Prof Jawahir.

Prof Jawahir menambahkan bahwa kasus penembakan di Paris berimplikasi pada hubungan antara Islam dan Barat. ?Memang secara khusus, peristiwa tersebut membuat kaum musilmin, khususnya wanita muslim berjilbab, menjadi sangat rentan. Sebagaimana pengakuan mahasiswi muslim berjilbab di Paris yang saat ini menahan diri untuk tidak keluar rumah karena menjadi sasaran ejekan warga setempat,” ujar Prof Jawahir.

Sedangkan hubungan Barat dan Timur tidak akan terganggu karena fenomena teroris bukan lagi dipandang monopoli kelompok Islam fundamentalis semata, melainkan telah diketahui juga kasus yang pelakunya non-muslim sebagai teroris. Dan masyarakat internasional tidak akan terganggu untuk tetap melangsungkan hubungan diplomatik dengan Indonesia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.