Berita Nasional Terpercaya

Eksotisme Imogiri Pukau Peserta JIHW 2015

0

YOGYAKARTA, HarianBernas.com – Cuaca sangat terik tak mengurangi peserta Jogja International Heritage Walk (JIHW) 2015 di hari kedua, Minggu (15/11) di kawasan pegunungan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Usai dilepas oleh Ketua Jogja Walking Association GKR Mangkubumi dan mantan Kepala Dinas Pariwisata DIY M Tazbir, sekitar 600 pejalan kaki dari 18 negara menyusuri rute 20 km, 15 km, dan 5 km yang sudah ditentukan panitia. 

Selain itu, ada sekira 200 warga lokal yang turut serta di rute terpendek 5 km. Mereka terdiri dari para ibu dan anak-anak. Suasana berwisata terasa sejak mereka memulai perjalanan di Lapangan Selopamioro, menyusuri tepian Sungai Oyo, hingga kembali ke tempat pemberangkatan.

Baca juga: Rumah Joglo, Rumah Adat Jawa yang Memiliki Banyak Keunikan

Para peserta internasional tampak bersemangat mengikuti event kali ini. Setelah Sabtu sebelumnya mereka menempuh rute datar di seputaran Candi Prambanan, kali ini peserta menjajal rute yang variatif. Ada jalan raya, jalan tanah, jalan tepi sawah, jalan tepi tebing, dan jalan tengah kampung. 

Dari antara semuanya, yang terpenting, keseluruhan rute sengaja dirancang supaya terjadi interaksi dengan warga setempat. Di pos-pos pemberhentian, sembari peserta meminta stempel pengesahan perjalanan dan beristirahat sejenak, mereka juga disuguhi kekayaan budaya warga setempat, seperti gamelan dan batik. Kehidupan warga sebagai petani yang sedang menyiangi lombok dan sedang memandikan sapi di kali juga jadi atraksi yang me

Sepanjang perjalanan mereka juga diminta mengumpulkan buah, bunga, dan tanaman lokal, seperti mangga dan “bluluk” untuk kemudian mereka tukarkan sebagai “poin” penilaian. Permainan ini selaras dengan tema perhelatan ke-7 di Indonesia bertajuk “save the nature, respect the culture”. 

“Bagus sekali,” puji Oishi Yoko, peserta dari Jepang, kepada HarianBernas.com, sambil memilih-milih batik yang dipajang di dekat Jembatan Kuning Selopamioro. Pujian senada juga disampaikan Kim Nam Kyoo, peserta dari Korea Selatan. Alexandre dan Helena, pasangan dari Irlandia, juga melambungkan pujian senada. 

Tentang rute perjalanan, Jose, ibu 60 tahun dari Belanda mengacungkan jempol, “Sempurna!” Bahkan Pieter den Buer, yang juga datang dari negeri Belanda bersama istrinya juga memuji penyelenggaraan event ini. Setelah minggu depan terbang ke Kuala Lumpur, Philipina, dan naik Gunung Everest, ia berjanji akan kembali ke Indonesia tahun depan. 

Sebagai catatan, meski peserta sudah tahu, namun cuaca kali ini lebih ekstrem dari yang diperkirakan. Guyuran hujan di awal musim penghujan hari sebelumnya justru meningkatkan penguapan sehingga belum tengah hari peserta sudah kegerahan. Di pos terakhir bahkan ada peserta yang pingsan karena tidak tahan dengan cuaca yang sangat bertolak belakang dengan cuaca di negeri asal mereka.

Baca juga: Mengenal Keunikan Rumah Adat Jambi yang Memiliki Ukiran Eksotik

Leave A Reply

Your email address will not be published.