Berita Nasional Terpercaya

Panggilan Jiwa Untuk Selalu Menolong Sesama, Mantan Pendeta ini Kuliah Kedokteran Kemudian Hijrah Ke Afrika

0

Setujukah Anda jika latar belakang pendidikan dan keluarga akan mempengaruhi pekerjaan kita kelak? Misalnya, seseorang yang lahir dan besar di keluarga yang orang tuanya bekerja menjadi dokter, setelah dewasa pun ia akan bekerja sebagai seorang dokter. Atau seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua yang mempunyai toko juga akan bekerja meneruskan usaha keluarga.  

Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru

Setujukah Anda bahwa pandangan umum pun menganggap, dasar pendidikan amatlah berpengaruh terhadap cita-cita kelak, sehingga amat penting bahwa pendidikan yang kita pilih haruslah sesuai dengan cita-cita kita nanti? Namun, bagaimana jadinya jika pekerjaan kita tidak sama dengan latar pendidikan kita? Mungkinkah pekerjaan tersebut tidak akan berhasil? Yang memiliki latar pendidikan sama dengan cita-citanya saja masih ada yang gagal, apalagi yang tidak?

Albert Schweitzer dibesarkan di lingkungan gereja dan ayahnya adalah seorang Pendeta, sehingga Albert kecil pun dididik untuk menjadi calon pendeta yang akan meneruskan gereja ayahnya. Saat perguruan tinggi pun, Albert memutuskan untuk memilih program studi Filsafat dan Teologi, sembari meneruskan belajar bermain piano yang telah dilakukannya sejak kecil. Pada usianya yang ke 24, Albert sudah meraih gelar Doktor di bidang Filsafat dan Teologi dan menjabat sebagai wakil pendeta.

Baca juga: Inilah 10 Prospek Kerja Lulusan Akuntansi di Berbagai Profesi

Albert Schweitzer pernah berikrar : “Sebelum usia 30 tahun menuntut ilmu dan musik, sesudah 30 tahun mengabdikan diri bagi sesama yang membutuhkan”. Janji inilah yang membuat pria kelahiran 14 Januari 1875 ini banting setir untuk kuliah di kedokteran, lalu berangkat ke Afrika dan memberikan pertolongan pengobatan kepada mereka yang membutuhkan. Pilihannya ini menuai kecaman dan tentangan dari keluarganya maupun masyarakat: “Mengapa harus jadi dokter dan pergi ke Afrika? Lebih baik tetap tinggal dan menjadi pendeta untuk menggantikan ayah yang sudah lanjut usia!”.

Kendati demikian, Albert tidak gentar dan tetap mempelajari dasar-dasar ilmu kedokteran dari nol. Setelah memperoleh gelar sebagai seorang dokter, ia menikah dengan Hellen Bresslau yang bekerja menjadi seorang perawat. Bersama-sama, mereka berangkat ke Afrika untuk mendirikan rumah sakit dan mengobati penduduk asli. Albert mengalami berbagai masalah ketika menjadi dokter di Afrika, tenaga medis yang kurang, kerja berat siang malam, revolusi mental bagi penduduk Afrika, bahkan dikurung di kamp tawanan oleh tentara Prancis. Segala masalah yang dialaminya berbuah manis ketika ia memperoleh medali yaitu Nobel perdamaian pada tahun 1952.

Baca juga: Jurusan Manajemen: Pengertian Ilmu Manajemen dan Daftar Universitas

 “Success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful.” – Albert Schweitzer.

Ketika memutuskan untuk berangkat ke Afrika, Albert melepaskan segala kemudahan yang sudah diperolehnya dan menerima tantangan baru. Albert percaya bahwa sukses yang diperolehnya sebagai seorang ahli Teologi bukanlah jalannya menuju sukses, sebaliknya, kebahagiaan adalah kunci menuju kesuksesan yang sesungguhnya, dimana kebahagiaan seorang Albert Schweitzer adalah ketika ia dapat melayani penduduk Afrika dengan penuh cinta dan  ketulusan. Kesuksesan belum tentu merupakan kebahagiaan sejati yang kita cari dan ini semua dapat diraih tanpa mempedulikan apapun latar belakang yang kita miliki. 

Baca juga: Daftar Kampus Jurusan Perhotelan dan Pariwisata di Indonesia

Leave A Reply

Your email address will not be published.