Berita Nasional Terpercaya

Warga Gunungkidul Kesulitan HMT

0

WONOSARI,HarianBernas.com?Hujan yang mengguyur Jogja beberapa hari terakhir, belum mampu melepaskan kesulitan warga Gunungkidul dalam hal memenuhi pakan ternak. Mereka masih harus ?mengimport? hijauan makanan ternak (HMT) dari luar daerah.

Kesulitan warga masih terjadi, karena hujan yang turun belum mampu memicu munculnya tunas-tunas baru tanaman rumput milik warga.

?Kemarau yang panjang kemarin, telah membuat rumput gajah, kolonjono dan lainnya mati total. Jadi walaupun sekarang sudah mulai hujan, kita belum bisa mencari rumput di sawah. Kami harus membeli dari luar daerah,? kata Margono (36) salah satu peternak ketika sedang membeli tebon di pojok Pasar Wonosari.

Sulitnya mendapatkan pakan hijauan, membuat warga harus mengeluarkan biaya ekstra dengan membeli pakan dari para pedagang. Pedagang sendiri, mendatangkan pakan hijauan dari sejumlah wilayah seperti Klaten, Sleman dan Sukoharjo. Pakan hijauan yang didatangkan adalah tebon atau pohon jagung muda.

?Harganya lumayan mahal. ?Satu ikat kecil berisi tidak lebih 10 batang, harganya mencapai Rp 10.000,? kata Margono.

Meskipun harga tebon ini cenderung naik, beberapa pedagang mengaku jualan mereka tetap laris manis.

?Dalam sehari paling tidak 2 truk habis,? kata Warno (54) pedagang tebon di pojok Pasar Argosari Wonosari.

Setiap truk, pihaknya yang mendatangkan dari Klaten seharga Rp 3,5 juta, tetapi setelah diikat sendiri dan dijual, bisa untung paling tidak Rp 300.000 per truk.

Kepala Dinas Peternakan Gunungkidul, drh Krisna Berlian  mengakui sulitnya petani ternak dalam mendapatkan HMT. ?Kalau peternak harus membeli, sudah sewajarnya. Karena memang di Gunungkidul tidak ada tebon, sehingga harus mendatangkan dari luar daerah,? katanya.(sutaryono)

                                  

Leave A Reply

Your email address will not be published.