Berita Nasional Terpercaya

Bijaksanalah Mengelola Keuangan Pribadi

0

Oleh : Budi Untung

Jogja, HarianBernas.com – Bagaimana merencanakan keuangan dari aspek pengeluaran dan investasi? Pengeluaran dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Pengeluaran primer untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar : makanan, pakaian, rumah, kesehatan, dan transportasi. Setiap orang kebutuhan dasarnya sama. Yang membe­dakan adalah keinginan bagaimana kebutuhan da­sar tersebut terpenuhi. Keinginan itulah yang ke­mudian membedakan kenapa pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar jumlahnya berbe­da-beda, dari yang kecil hingga sangat besar.

Agar pengeluaran tidak terjebak pada peme­nuhan keinginan tentu akan lebih baik jika di­buatkan batasan. Untuk makanan, misalnya, berapa Anda alokasikan pengeluaran per hari, per pekan, dan per bulan. Demikian juga untuk sandang dan untuk rumah. Di sini bukan saja biaya sewa atau cicilan kredit, melainkan juga biaya pengelolaan rumah, termasuk biaya listrik, air dan telepon, pekerja rumah tangga, dan lain sebagainya.

Pengeluaran yang baik dan jahat

Bagaimana mengelola aspek pengeluaran pri­mer?  Pengeluaran bisa dilakukan dengan cara membayar tunai, tetapi bisa juga dengan cara “berutang”, yakni menggunakan kartu kredit. Cara mana pun yang Anda pilih, sebenarnya tidak ma­salah asalkan Anda tabu pasti untuk apa pe­ngeluaran tersebut dan memang sudah menjadi bagian dari perencanaan keuangan Anda.

Kebutuhan primer bisa dibagi menjadi dun jenis, yakni pengeluaran “baik” dan pengeluaran jahat”. Apakah pengeluaran baik dan jahat memang ber­beda penggunaannya? Tidak juga. Kembali pada pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sebut saja pengeluaran untuk makanan. Jika setiap hari Anda makan di restoran dan menghabiskan uang, yang sebenarnya bukan karena kebutuhan, itu termasuk dalam pengeluaran “jahat”. Lantas, apa­kah tidak boleh makan di restoran? Boleh-boleh saja asalkan juga termasuk dalam perencanaan ke­uangan Anda. Yang kerap terjadi adalah penge­luaran tidak terduga, padahal hanya untuk membiayai makan. Dan itu bukan kebutuhan, melainkan sekadar keinginan. Ini adalah pengeluaran “jahat”.

Contoh yang lain adalah dalam hal membiayai pengeluaran untuk pakaian. Coba cek selama ini, berapa banyak Anda menghabiskan uang untuk membeli pakaian? Besar kemungkinan, pakaian yang Anda beli, sebagian besar bukan masuk dalam kategori kebutuhan, melainkan hanya keinginan dan malah iseng-iseng. Jika pola pengeluaran Anda adalah seperti itu, hal tersebut juga tergolong pengeluaran “jahat”.

Ringkasnya, meski berkategori pengeluaran pri­mer, sebaiknya Anda membedakan mana penge­luaran yang untuk memenuhi kebutuhan dan mana yang untuk keinginan (Need & Wants). Dalam konteks perencanaan keuangan, jika alokasi pengeluaran adalah untuk memenuhi kebutuhan primer, pendekatannya ada­lah pengeluaran biaya “baik”, bukan biaya “jahat”.

Hal yang sama juga dalam aspek pemenuhan kebutuhan kesehatan. Saat ini sebenarnya sudah ada BPJS Kesehatan yang mengelola perawatan kesehatan untuk seluruh rakyat Indonesia, dari yang kaya sampai yang miskin, dengan prinsip gotong royong. Artinya, Anda cukup membayar premi sejumlah tertentu setiap bulan. Jika sakit, biaya pengobatannya akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Dengan menjadi peserta BPJS Ke­sehatan, pengeluaran Anda dalam bentuk biaya premi akan jelas. Sementara, kalau Anda tidak ikut serta dan apalagi juga tidak pula memiliki asuransi kesehatan, alokasi pengeluaran untuk kesehatan akan sulit dilakukan dan bisa tidak terduga be­sarnya kalau Anda mengalami sakit.

Kebutuhan sekunder dan tersier

Selanjutnya adalah mengalokasikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sekunder. Apa saja yang masuk dalam kategori ini? Memberi apresiasi pada diri sendiri dan keluarga, menjadikan hidup lebih bermakna, adalah kriteria yang mesti di­penuhi untuk pengeluaran sekunder ini. Misalnya, rekreasi setiap tiga bulan atau enam bulan sekali.

Selain terpenuhinya kebutuhan fisik, maka ke­butuhan psikis atau rohani juga layak dipenuhi. Oleh karena itu, dalam perencanaan keuangan mesti juga disiapkan alokasi untuk rekreasi. Akan jauh lebih baik jika tujuan dan bentuk rekreasi itu sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari sehingga biaya yang akan dikeluarkan pun dapat diprediksi.

Selain rekreasi, kebutuhan yang tergolong se­kunder juga adalah kebutuhan untuk meningkatkan pengetahuan, misalnya belanja buku, sekolah lagi, dan lain sebagainya. Pengeluaran untuk kebutuhan-kebutuhan tersebut bukanlah pengeluaran “jahat” meski tingkat urgensinya bukan dasar. Se­bab, pada gilirannya, Anda akan mendapatkan sesuatu dari pengeluaran yang dilakukan tersebut, yang pada gilirannya akan meningkatkan kapasitas diri, sekaligus sebagai apresiasi untuk diri sendiri. Karena dengan rekreasi bersama akan menimbulkan emotional bounding rasa kebersamaan yang menimbulkan keakraban.

Yang terakhir adalah merencanakan pengeluaran untuk kategori tersier. Seluruh jenis pengeluaran yang tidak masuk dalam kategori primer dan se­kunder dapat dianggap sebagai pengeluaran untuk kategori tersier. Artinya, jika Anda tidak melakukan tidak apa-apa. Tidak ada dampak terhadap ke­hidupan Anda, kecuali persepsi dan interpretasi Anda sendiri terhadap kegiatan tersebut.

Misalnya, pengeluaran untuk membiayai hobi. Pengeluaran untuk membangun jejaring atau semata-mata membuat diri senang belaka. Misalnya, Anda memiliki beberapa mobil untuk sarana. trans­portasi. Mobil yang Anda pergunakan sehari-hari bisa dianggap sebagai kebutuhan primer. Namun, mobil-mobil berikutnya bukan lagi kebutuhan pri­mer. Itu sekadar Anda mendapatkan persepsi se­bagai orang kaya dan lain sebagainya. Itu bukan kebutuhan primer, melainkan masuk dalam ke­inginan dan kalaupun kebutuhan, kategorinya ada­lah tersier. ***

Leave A Reply

Your email address will not be published.