Berita Nasional Terpercaya

Bermimpi Jadi Menteri, Santri Ini Jago Bikin Robot Penjinak Bom dan Kapal Selam Tanpa Awak

0

JOGJA, HarianBernas.com – Penampilan kocak pemuda ini menutupi proyek prestisius yang sedang ia kerjakan. Malik Khidir (24), anggota tim robot UGM yang memenangi kompetisi robot di Amerika Serikat tahun 2013 ini mampu menyihir 120 orang muda peserta Indonesian Youth Dream di Makorem 072/Pamungkas Yogyakarta, Jumat (20/11). Orang-orang muda dari seluruh Indonesia itu berhimpun dalam kegiatan pengkaderan bertajuk “Dream, You, and Our Nation” selama tiga hari.

Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru

Malik Khidir, diundang untuk membagikan perjalanan mimpinya. “Kalian enak, tinggal tepuk tangan. Untuk membuat kapal selam pesanan TNI AL ini saya harus kuat tidak tidur. Tidak mudah meyakinkan mereka bahwa saya bisa membuat ini,” cetusnya disambut gelak tawa. “Tak mengapa tolak saya. Akan saya siapkan 1.000 proyek yang lain,” ujarnya menggambarkan betapa penolakan adalah ujian akan kegigihan. “Saya mau tunjukkan, anak Indonesia hebat. Tidak kalah dengan anak Amerika. Di Amerika, jalan berlubang sedikit saja ada yang menambal. Di Indonesia, kita terkondisi hidup dalam keadaan yang lebih parah. Artinya, kita lebih tahan uji,” candanya.

Hal senada juga ia lontarkan saat Kementerian Luar Negeri hendak mengutusnya Outstanding Student of the World 2014 di Kanada. “Saat berumur 60 tahun Bapak akan menyesal jika hari ini tidak memilih saya,” tantang kepada penilai yang berumur 50 tahun. Ia pun lolos.

Ujaran serupa juga pernah ia semburkan ketika ia ditanya apa jaminan yang ia sediakan jika sejumlah dana digelontorkan untuk proyeknya. Jawabnya enteng, “Jika yang lain menjaminkan mobil, saya menjaminkan kepala saya!”

Baca juga: Jurusan Manajemen: Pengertian Ilmu Manajemen dan Daftar Universitas

Terasa congkak namun Malik punya penjelasan. Ia bukan anak pintar. Sewaktu sekolah di SMA 3 Tegal, Jawa Tengah, dan bermimpi masuk MIPA UGM, nilai matematika 5. Toh, kemudian ia lolos dan kelak menyandang predikat sebagai lulusan terbaik.

Padahal, ia sempat terjerat IP 1,6 di awal kuliah. Ia berdalih, IP memang bukan tujuan belajarnya. “Orang tua saya tidak paham IP. Jadi tidak masalah IP segitu. Ketika kemudian IP saya 3,5, mereka juga tidak tahu. Yang mereka peduli adalah ketika saya masuk koran dan televisi. Barulah mereka bangga,” selorohnya tentang nilai jeblok yang pernah melekatinya.

Selorohnya lagi, sebelum berangkat ke kontes Natcar Robogames di California, Amerika Serikat 2013, nilai pemrograman dan kalkulus mahasiswa elektronika dan instrumentasi ini C. Sepulang dari Amerika, akunya, ia menghadap Rektor UGM Pratikno—yang sekarang Menteri Sekretaris Negara. “Saya bilang, masa menang kompetisi robot nilai saya C, Pak,” kenangnya sembari menekankan pentingnya condite sejajar dengan nilai akademik. Di kesempatan ujian, ia juga iseng mengawali jawaban di kertas ujian dengan kata-kata, “Maaf, Pak, saya nggak bisa ngerjain soal karena saya tim robot yang berangkat ke Amerika.”

Baca juga: Jurusan Ilmu Komunikasi: Info Kuliah, Pekerjaan, dan Universitas

Audiens sangat antusias mendengarkan cerita Malik. Lebih-lebih, ketika Malik menjelaskan alur perjalanan hidupnya meraih mimpi. Bahwa menurut santri Ponpes Al-Barokah ini, mimpi itu penting namun tidak cukup. “Bermimpilah, lalu bangun, beraksi, istiqomah, dan tawakal. Jangan dibalik ya…,” pesannya disambut tawa. “Tuhan saja percaya pada kita masa kita tidak percaya pada mimpi kita.” Dan ia menceritakan bagaimana di sela-sela aktivitasnya sebagai santri, pada pukul 21.00 sampai menjelang subuh ia mengutak-atik program. Ia meminimalkan waktu untuk tidur demi menguasai sesuatu sampai tuntas. 

Dan ia ingat, impian besarnya dimulai ketika SD. Suatu ketika, seorang guru mengajukan pertanyaan, “Di manakah letak patung Liberty?” Malik menjawab spontan, “Di belakang saya.” Sontak Malik dipanggil ke depan, disuruh berdiri dengan satu kaki sambil menjewer kupingnya sendiri.

Belum lama ia menemui guru itu. Ia tunjukkan foto selfie-nya membelakangi patung Liberty. “Guru saya menangis, tak menyangka apa yang saya ucapkan dulu jadi kenyataan,” tukasnya.

Baca juga: 11 Jurusan Di Universitas Mahakarya Asia dan Peluang Karirnya

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.