Berita Nasional Terpercaya

Mengenang KGPAA Paku Alam IX, Raja yang Sederhana dan Merakyat

0

JOGJA, HarianBernas.com – Banyak kesan yang timbul dari sosok almarhum Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam IX. Beberapa tokoh masyarakat sangat mengagumi dan menghormati kepribadian mendiang Paku Alam yang lahir 7 Mei 1938 dan wafat 21 November 2015 itu.

Mantan Wakil Presiden Prof Dr Boediono mengakui kesederhanaan dan keramahan PA IX. Boediono beberapa kali mendapat doa dari PA IX saat dirinya dipercaya mendampingi Presiden SBY kala itu.

Baca juga: Sikap Terpuji Nabi Idris, Sosok yang Cerdas dan Kreatif pada Zamannya

“Beliau tetap rendah hati dan sederhana meskipun beliau adalah raja yang sekaligus aristokrat. Kita doakan saja beliau mendapat yang terbaik,” kata dia saat melayat almarhum di Pura Pakualaman, Yogyakarta, Minggu (22/11).

Hal yang sama juga diutarakan Wakil Bupati Sleman non aktif Yuni Satia Rahayu. Kepada HarianBernas.com, Minggu (22/11), ia menyebutkan almarhum adalah pribadi yang sederhana dan tak mengambil jarak dengan masyarakat. KGPAA Paku Alam IX bahkan terlihat sangat bahagia saat menyapa masyarakat kala menjabat sebagai Wakil Gubernur (Wagub) DIY.

“Kami pernah mengadakan kunjungan ke Padang (Sumatera Barat) ke kabupaten baru, Dharmasraya. Saat itu, Wagub datang untuk melihat para transmigran asal DIY. Kami sempat khawatir kondisi beliau karena perjalanan sangat jauh dari bandara menuju ke tempat transmigran. Tapi, saat beliau bertemu rakyatnya, rasa capek seperti hilang, beliau kembali bugar dan sumringah,” kata dia.

Yuni juga mengagumi kedisplinan waktu yang ditunjukkan almarhum. Beberapa kali Yuni meminta izin untuk bertemu dengan mendiang saat menjabat sebagai Wagub.

“Saat itu beliau selalu menjanjikan bertemu pukul 07.00 pagi dan selalu ditepati. Beliau bahkan datang lebih awal ke kantor daripada saya. Ini bentuk kedisplinan yang harus ditiru oleh para pemimpin lainnya,” sebutnya.

 

Naik motor

Keramahan, sopan santun, dan sikap tak berjarak juga dirasakan Yuni dari sosok PA IX. Wanita kelahiran Ngawi Jawa Timur itu pernah mendengar cerita sepeda motor almarhum terpaksa dirantai oleh keluarga untuk mencegah PA IX mengendarai motor di saat kondisi kesehatan yang mulai menurun dan usia yang telah uzur.

Walikota Jogja Haryadi Suyuti bahkan sempat berkali-kali menyaksikan PA IX berkeliling menyambangi masyarakat dengan sepeda motor lamanya. “Saya dulu sering lihat beliau ke mana-mana menggunakan sepeda motor sendirian untuk melihat masyarakat di Kota Jogja. Ini yang harus ditiru oleh seorang pemimpin tentang kesederhanaan beliau,” kata Haryadi yang turut melayat.

Kisah tentang motor ternyata memiliki cerita yang unik. Bagi sebagian besar masyarakat mungkin tak lazim kiranya jika melihat seorang penguasa hanya menggunakan sepeda motor. Namun hal tersebut bukan hal yang tabu bagi mendiang KGPAA Paku Alam IX.

Ajudan Paku Alam IX saat bertugas sebagai Wakil Gubernur DIY, Timur Adi Nugroho, menuturkan, Paku Alam termasuk pribadi yang sangat merakyat. “Sering beliau ke mana-mana pakai motor Honda (Astrea). Padahal beliau adalah raja,” katanya.

Saking hobinya mengendarai sepeda motor, di saat lanjut usia dan mulai sakit-sakitan, Paku Alam IX masih ngotot untuk naik motor sendirian. Perjalanan yang cukup jauh ke pelosok desa di Gunungkidul juga pernah dilalui almarhum. 

“Putra beliau sampai merantai motor agar beliau tidak pergi naik motor lagi. Ini karena kasihan akan kesehatan beliau,” sebut pria yang telah menjadi ajudan Wakil Gubernur sejak tahun 2003 tersebut.

 

Dekat dengan semua

Kedua mata Timur sempat berkaca-kaca saat ditanya tentang hal yang paling berkesan dari almarhum. Dirinya mengatakan, PA IX merupakan pribadi yang sangat dekat dan tak pernah membeda-bedakan golongan atau kedudukan.

“Saat orangtua kami sakit, beliau datang langsung sendirian ke rumah sakit untuk menjenguk. Begitu pula saat orangtua kami meninggal, beliau datang melayat, padahal saya hanya pembantu beliau,” terangnya.

Tak sekadar dekat, sosok PA IX juga dikenal pribadi yang humoris. Kerabat Pura yang juga mantan Menpora KRMT Roy Suryo menyebutkan, mendiang senang bercanda dengan kerabat dan juga para abdi dalem. Bahkan di saat menghadapi cobaan terkait permasalahan internal di Pura.

“Anda mungkin tahu, cobaan beliau itu banyak sekali. Sempat difitnah segala macam oleh adik (KPH Anglingkusumo) tapi beliau tetap bisa gumujeng (ketawa). Dia berpesan kepada kami agar tidak berbalik menyerang. Kita harus rukun. Itu yang membuat saya kagum, saat beliau diserang atau dihujat, tetap bijak,” terangnya.

Mas Lurah Citra Panembang, salah satu abdi dalem, menuturkan, Paku Alam IX adalah sosok yang baik hati dan tidak segan-segan membaur. “Beliau adalah sosok yang sangat baik hati dan bersahaja. Meskipun seorang raja, beliau tidak pernah menganggap kami seorang batur (pesuruh),” katanya.

Almarhum yang bernama asli BRMH Ambarkusumo itu bahkan kerap menyambangi para abdi dalem yang bertugas. Sikap ramah dan seakan tak berjarak kerap tampak dari mendiang PA IX.

“Beliau orang yang sangat-sangat ramah. Sering saat kami sedang duduk-duduk, didatangi dan ditanya bagaimana kabar dan pekerjaan kami. Beliau juga pribadi yang humoris,” ujar pemuda berusia 25 tahun itu.

Pria bernama asli Muhammad Bagus Febriyanto ini mengaku sudah tiga tahun menjadi abdi dalem Pura Pakualaman. Meski tergolong baru, ia telah merasakan kedekatan dengan almarhum.

“Sekitar dua minggu kemarin sebelum sakit, tiba-tiba beliau masuk ke dalam Perpustakaan Pura. Beliau bertanya dengan ramah apa yang telah kami kerjakan. Kecintaan beliau terhadap naskah kuna warisan leluhur juga sangat besar,” ungkap Penghageng Tepas Macapat itu. 

Baca juga: Inilah 99 Asmaul Husna Beserta Artinya Bahasa Indonesia Lengkap

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.