Berita Nasional Terpercaya

Bukan Ancaman, MEA Justru Meningkatkan Investasi

0

HANOI, HarianBernas–Selama ini banyak pihak menilai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai Desember 2015 menjadi ancaman bagi Indonesia, terutama di bidang produk barang dan jasa. Mereka menilai MEA akan membuat produk Indonesia kalah bersaing dengan produk-produk negara-negara ASEAN lainnya. Padahal, MEA sebenarnya membuka pasar yang lebih luas karena produk-produk Indonesia bisa dipasarkan ke negara-negara ASEAN tanpa batas. Selain itu, investasi akan meningkat karena negara-negara ASEAN bebas berinvestasi di mana pun dan dalam bidang apapun.

“Dengan adanya MEA akan terjadi peningkatan pesat hubungan ekonomi antarnegara ASEAN dalam bidang perdagangan, investasi, keuangan, jasa maupun ketenagekerjaan. Indonesia juga diharapkan akan dapat memetik manfaat dari integrasi ekonomi ini sepanjang pelaku ekonomi aktif dan serius menghadapinya,” kata Ketua Delegasi Indonesia Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc kepada harianbernas.com dari Hanoi, Vietnam, Sabtu (21/11). Prof Edy memimpin delegasi Indonesia dalam forum Konferensi Federation of ASEAN Economic Associations yang berlangsung di Hanoi, Vietnam, sejak 19 November dan berakhir Sabtu (21/11).

Menurut Prof Edya Suandi Hamid, keseriusan semua anggota ASEAN untuk melaksanakan semua komitmen yang ada sangat penting. Basis kerja sama ini adalah sukarela dan dituntut integritas dari semua anggota. “Ini dikarenakan tidak ada sanksi bagi negara yang tidak melaksanakan komitmen yang sudah disepakati,” ujar Ketua Umum APTISI yang juga advisor pada Universitas Trilogi Jakarta ini.

Dikatakan, bila kerja sama ini dilakukan secara baik dan semua anggota mengedepankan keunggulan komparatif masing-masing, maka tidak akan ada negara yang dirugikan dari skim MEA. Semua negara akan memperoleh keuntungan atau gain-gain situation. Hanya saja akan ada negara yang untungnya besar dan ada yang kecil. “Jadi ini bukan zero sum game, ada yang untung dan ada yang dikorbankan, melainkan situasi sama-sama untung,” ujar Wakil Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) ini.

Dalam pertemuan antarpimpinan delegasi di FAEA ke-40 itu disepakati bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah konferensi FAEA ke-41 tahun 2016. Ketua Delegasi Indonesia Edy Suandi Hamid pada Sidang FAEA ke-40 itu telah menyatakan kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah untuk menggantikan Kamboja yang mengundurkan diri. “Ini sebenarnya hanya mengubah jadwal. Andaipun Indonesia tidak menjadi tuan rumah 2016, maka tetap tuan rumah konferensi untuk 2017,” ujarnya.

Disepakati pula dalam pertemuan itu bahwa tema utama Konferensi FAEA ke-41 di Indonesia tersebut adalah The Inplementation of four pillars of AEC: Prospects and Chalanges.

Seperti diketahui empat pilar AEC tersebut adalah Pasar tunggal dan basis produksi, Kawasan ekonomi berdaya saing tinggi, Kawasan dengan pembangunan ekonomi yang setara dan kawasan yang terintegrasi penuh dengan ekonomi global. Terkait kota yang akan dijadikan tuan rumah, Edy menyatakan akan diputuskan dalam rapat pengurus ISEI. “Namun kota-kota yang diusulkan dalam rapat tersebut adalah Jakarta, Bali, Jogja, Medan dan Palembang,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia ini.

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.