Berita Nasional Terpercaya

Pembuat Kerupuk Singkong Yang Tak Memiliki Kaki Namun Bersemangat Tinggi

0

BOGOR, HarianBernas.com– Siapa yang tidak sedih ketika menerima kenyataan bahwa dirinya tidak lagi memiliki kaki untuk berjalan? 

Sebagian besar yang mengalami tentu sedih, dan hanya sedikit orang yang mampu menghadapinya dengan lapang dada. Tetapi tidak dengan pria satu ini. Ia terlahir tanpa kaki dan dari keluarga yang kurang mampu. Ia merupakan anak keenam dari sepuluh bersaudara. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, orang tuanya hanya mengandalkan warung kecil di depan rumahnya di Bogor.

Pada saat menjelang kelahirannya, ada kejadian unik yang dialami ibunya. Ibunya pernah bermimpi akan melahirkan anak cacat, tetapi anak cacat itu akan membawa berkah dalam keluarga. Walaupun tidak terlalu mempercayai mimpi tersebut, tetapi mimpi tersebut benar-benar terjadi. Sang ayah langsung mendapat pekerjaan tetap beberapa hari setelah kelahirannya. Dari pekerjaan itulah, ayahnya dapat membiayai pendidikan seluruh anak-anaknya hingga SMA. Orang tuanya sangat bersyukur akan hal tersebut.

Ia terlahir tanpa kaki mulai dari pangkal paha. Walaupun demikian, sejak kecil ia tidak pernah mau merepotkan orang lain. Ia selalu berusaha melakukan semua aktivitasnya sendiri. Ia juga tak mau dipapah atau digendong. Bahkan, sebelum menggunakan kursi roda, ia menyeret tubuhnya untuk berjalan dengan cara mengayunkan kedua tangan yang dimilikinya. Cacat pada tubuhnya tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu, ia tuntaskan pendidikan hingga tingkat Diploma, kemudian ia bekerja di Yayasan Swa Prasidya Purna.

Dengan penuh suka cita, ia terus menjalani kehidupannya. Hingga pada tahun 1992 ia menikah dengan seorang perempuan yang juga penyandang cacat. Siti Rahmah nama perempuan tersebut. Dengan bahagia ia mengarungi bahtera rumah tangga yang baru dibangunnya. Ia juga dikaruniai tiga anak perempuan yang sehat dan normal. Setelah berkeluarga, tanggungan hidupnya semakin besar, ia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan lain dengan harapan agar penghasilan yang diterima dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Ijazah diploma yang dimilikinya cukup membantu untuk mendapatkan pekerjaan, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan kontraktor sebagai staf personalia. Pada tahun 1998 Indonesia mengalami krisis moneter, hal ini mengakibatkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut dan pada akhirnya tutup. Hal ini menjadikannya pengangguran dan tidak memiliki penghasilan. 

Melihat uang tabungan yang dimiliki untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya habis, ia tidak tinggal diam, ia mulai mengikuti berbagai kursus keterampilan yang diadakan oleh Pemda DKI untuk penyandang cacat. Salah satu kursus yang memikat perhatiannya ialah kursus membuat kerupuk dari singkong. Ia bersungguh-sungguh dalam mengikuti kursus tersebut, bahkan ia satu-satunya peserta kursus yang sampai sekarang masih membuat kerupuk singkong.

Dari usaha tersebut, ia dapat mengantongi penghasilan sekitar 1-2 juta rupiah setiap bulannya. Walaupun ia tidak memiliki kaki, ia tidak melepas tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Ialah Sidik, seorang pria yang cacat tetapi mau terus berusaha agar tidak menjadi beban bagi orang lain.  (Berbagai sumber)

Leave A Reply

Your email address will not be published.