Berita Nasional Terpercaya

Guru Hebat Guru Waras

0

Oleh: HJ Sriyanto

Guru SMA Kolese de Britto

Yogyakarta

 

“Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya hebat, tapi guru bermutu bisa melahirkan ribuan orang hebat.

 

Sebagian besar guru adalah orang hebat, demikian menurut Robert  Kiyosaki (2015). Hanya saja masalahnya, kebanyakan guru dan juga orang tua adalah produk sistem pendidikan yang sama. Banyak guru merasa frustrasi. Banyak guru didorong berubah. Sayangnya, industri pendidikan sepertinya merupakan salah satu industri yang memiliki tingkat perubahan terlambat. Di antara semua sektor industri, industri pendidikan memiliki masa jeda terlama kedua—lima puluh tahun.

Sistem pendidikan tidak bisa berpacu dengan perubahan. Sistem pendidikan ditemukan pada era agraris, diperbarui secara marginal pada era industri sehingga kurang bisa melayani generasi muda di era informasi yang bergerak cepat dan terus berubah. Kiranya apa yang dikemukakan oleh Robert Kiyosaki ini bisa menjawab dan menjelaskan berbagai persoalan pendidikan dan pengajaran yang tampaknya tak pernah kunjung selesai.

Menurut penelitian, guru menunjukkan perbaikan pesat selama lima tahun pertama mereka mengajar dan kemudian cenderung melempem. Guru dengan dua puluh tahun pengalaman kerap tidak lebih efektif ketimbang rekan mereka yang hanya memiliki lima tahun pengalaman di ruang kelas (Song & Felch, 2009).

Baca juga: Sikap Terpuji Nabi Idris, Sosok yang Cerdas dan Kreatif pada Zamannya

Artinya, guru selesai dalam lima tahun! Setelah lima tahun mengajar, guru akan mandeg. Bisa jadi karena para guru frustrasi seperti dikatakan Kiyosaki. Guru tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan karena sistem pendidikan yang lambat merespons perubahan.

Dalam reformasi pendidikan di hampir semua negara, tak terkecuali Indonesia, salah satu yang menjadi fokus adalah bagaimana mendorong guru mencapai standar yang lebih tinggi dengan memperketat syarat akademik dan kognitif untuk menjadi guru, seperti misalnya dengan menentukan syarat minimal menjadi guru adalah S1 atau dengan program sertifikasi guru.

Tetapi sejauh mana hal itu berdampak bagi perbaikan atau peningkatan mutu pembelajaran? Mungkin kita akan sedikit terkejut jika menengok hasil penelitian yang dilakukan oleh Thomas J. Kane, Douglas Staiger, dan Robert Gordon. Kelompok peneliti dari beberapa universitas di AS ini meneliti tentang mana yang lebih baik, guru yang memiliki sertifikat pengajar atau gelar magister.

Kedua kualifikasi itu mahal dan menuntut waktu. Meskipun demikian, hampir semua daerah menginginkan para guru memilikinya. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa keduanya tidak berpengaruh dalam pembelajaran di kelas. Nilai tes, gelar pascasarjana, dan sertifikat pendidik–biar pun tampak berhubungan dengan kemampuan mengajar–ternyata sama tak bergunanya dalam menunjukkan keberhasilan mengajar.

Pengajaran yang baik adalah faktor terpenting dalam pembelajaran siswa. Pengajaran yang baik itu lebih penting daripada kurikulum, pengaturan ruang kelas, rekan sebaya, pendanaan, ukuran sekolah dan kelas, dan kepala sekolah (Hattie, 2003). Diakui atau tidak, guru memegang peranan penting dalam keberhasilan proses pendidikan. Guru adalah tokoh sentral dalam proses pendidikan. Siswa belajar atau tidak, itu sangat tergantung gurunya.

Erick Hanushek, seorang ahli ekonomi di Stanford University bahkan meyakini bahwa pengaruh guru mengalahkan pengaruh sekolah. Secara provokatif dia mengungkapkan, “Anak anda lebih baik berada di sekolah jelek dengan guru hebat daripada di sekolah bagus dengan guru payah.” Kesimpulan banyak penganjur perubahan dalam dunia pendidikan pun mulai menyarankan bahwa yang paling penting adalah mencari orang-orang berpotensi untuk menjadi guru hebat melebihi memikirkan anggaran pendidikan, ukuran kelas, dan rancangan kurikulum. Betapa sungguh hebatnya guru!

Agar guru tetap hebat, tidak hanya selesai dalam lima tahun pertama mengajar—dan setelah itu tidak melakukan apa-apa, menurut saya guru harus terus bisa menjaga kewarasannya. Guru hebat adalah guru yang waras. Di tengah deraan arus perubahan, sementara sistem pendidikan stagnan, guru harus tetap bisa menjaga kewarasannya. Untuk tetap waras, guru mesti selalu melihat dan menimbang-nimbang kembali setiap pengalamannya secara jernih dan mendalam. Inilah praktik reflektif yang semestinya dihidupi oleh guru. Sebab hanya lewat refleksi guru dapat menjaga kesadaran. Dengan praktik reflektiflah guru mengunduh makna.

Bagi guru, kemampuan untuk melakukan refleksi merupakan salah satu indikator dari pengajar yang baik. Proses praktik reflektif bisa membantu guru merenungkan keputusan mereka dan mempertimbangkan perubahan yang dapat meningkatkan pembelajaran bagi semua siswa mereka. Praktik reflektif juga bisa membantu guru menyesuaikan strategi dan model mengajar yang paling baik untuk memenuhi kebutuhan siswa (Eggen & Kauchak, 2012).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik reflektif dapat membantu guru menjadi lebih sensitif terhadap perbedaan individual siswa dan membuat guru lebih menyadari dampak pengajaran mereka terhadap pembelajaran (Gimbel, 2008). Kapasitas untuk terlibat dalam praktik reflektif menjadi salah satu sarana peningkatan kualitas proses pendidikan (Brockbank & McGill, 2007).

Praktik reflektif akan membantu guru melihat dirinya sendiri secara utuh, menemukan kelemahan dan kekurangan diri, dan membereskannya segera agar dapat membantu anak murid. Sebab hanya guru yang selesai dengan dirinya yang bisa membantu siswa. Pendidikan adalah soal keteladanan. Bagaimana guru akan menjadi teladan bagi siswa jika dia sendiri bermasalah dengan banyak hal?

Apa yang diingat siswa dari seorang guru adalah apa yang dilakukan, sikap, dan perilaku guru, melebihi materi pelajaran yang diajarkan oleh sang guru. Seperti diungkapkan Ignatius Loyola bahwa teladan pribadi guru lebih utama daripada pengetahuan mereka sebagai sarana pembentukan penghayatan nilai-nilai bagi para siswa.

Guru yang hebat adalah guru yang sanggup menyentuh hati dan sisi-sisi manusiawi peserta didik. Guru yang mampu menyalakan api dan mengobarkannya di dada anak muridnya untuk bergerak, bergulat, hingga menemukan sang kebenaran itu sendiri. Selamat Hari Guru!

Baca juga: Inilah 99 Asmaul Husna Beserta Artinya Bahasa Indonesia Lengkap

Leave A Reply

Your email address will not be published.