Berita Nasional Terpercaya

Ekspor Keset Dari Kain Perca Ke Mancanegara, Bisnis Ini Dijalankan Sepasang Suami-Istri Penyandang Cacat

0

KEBUMEN, HarianBernas.com– Di kebumen, Jawa tengah, ada kisah menarik tentang kain perca dan penyandang cacat. Wanita yang menderita polio tersebut, mendapatkan penghargaan bergengsi dari pemerintah Indonesia, antara lain penghargaan sebagai Wirausahawati Muda Teladan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga pada tahun 2007, dan penghargaan sebagai Perempuan Berprestasi pada tahun 2008 dari Bupati Kebumen, serta Penghargaan dari Jaiki Jepang, khusus untuk orang cacat.

Apa yang membuat wanita ini mendapatkan penghargaan tersebut?

Kisah ini bermula di Semarang. Tanggal 1 Januari 1975 ia dilahirkan. Ia lahir dan dibesarkan oleh keluarga dengan kehidupan yang sederhana. Sejak bayi kakinya sudah layu. Pada usia 4 tahun ia mengalami kelumpuhan. Virus polio adalah penyebabnya.

Namun demikian, ia masih bisa berjalan normal sampai sekolah menengah atas (SMA). Walaupun dapat berjalan dengan normal, kakinya lemas, jika disenggol, ia akan langsung jatuh. Karena prihatin dengan kondisinya, ayahnya menyarankan untuk berjalan menggunakan tongkat, dan sampai saat ini ia masih menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.

Baca juga: Tertarik menjadi CEO atau Owner? Simak perbedaan keduanya

Meski demikian, semangatnya untuk maju sangat tinggi. Ia tidak ingin menyusahkan orang lain dan ingin menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Setelah ia lulus dari SMAN 1 Semarang, ia mencoba membuat keset dari kain perca, benda sederhana untuk membersihkan telapak kaki. Kain perca atau limbah industri garmen tersebut ia jahit menjadi aneka bentuk keset. Bahan untuk pembuatan keset tersebut ia peroleh dari perusahaan industri garmen yang berada di dekat rumahnya di Semarang.

Mulanya ia hanya membuat keset hanya untuk kebutuhan sendiri. Tetapi lambat laun, karyanya mulai dilirik tetangga sekitar rumahnya. Dari sini, pasar kecil pun sudah mulai terbentuk. Keputusan untuk menjadi pengrajin keset semakin bulat ketika ia menikah dengan Agus Priyanto, penyandang cacat yang jago melukis. Mereka sepakat membuka usaha kecil pembuatan keset pada tahun 1999. Pada awal merintis usahanya, ia dibantu oleh 5 orang karyawan.

Merasa usahanya semakin maju, ia membutuhkan tempat usaha yang lebih besar. Pada tahun 2002 ia dan suaminya memutuskan untuk pindah ke Kebumen, kampung halaman suaminya. Ia dan suaminya membeli rumah di Jalan Karang Bolong kilometer 7, Desa Karangsari, Kecamatan Buayan, Kebumen. Dari rumah itulah ia mengembangkan usahanya. Ia membentuk usaha berbadan hukum yang diberi nama Usaha Dagang Mutiara Equipment.

Walaupun banyak cibiran yang datang dari masyarakat sekitar rumahnya, ia dan suaminya tak patah semangat. Ia mendatangi para ibu-ibu dari rumah ke rumah di sekitar komplek rumahnya, kemudian mengajari mereka membuat keset dan mengajaknya bekerjasama. 

Berkat kerja keras dan ketekunanya, usahanya terus maju, dan sekarang tak kurang dari 2.500 pengrajin dan 150 diantaranya adalah penyandang cacat telah bekerjasama dengannya. Omzet usahanya telah mencapai 40-50 juta perbulannya. Selain penyandang cacat, ia juga mempekerjakan para waria dan PSK untuk menjalankan usahanya. Mitra kerjanya sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di pulau Jawa. Dan hasil produksinya juga sudah diekspor ke berbagai negara di belahan dunia, diantaranya adalah Austarlia, Jerman, Jepang, dan Turki.

Wanita ini bernama Irma Suryati. Ia adalah salah satu orang yang walaupun memiliki kekurangan, tetapi ia telah membuktikan bahwa seburam-buram harapan, selalu ada celah yang bisa membawa berkah dan peluang di masa depan. Dengan kerja keras dan tekad yang sungguh-sungguh, ia telah membantu banyak penyandang cacat yang ada di daerahnya untuk lebih produktif dan memiliki penghasilan.

Baca juga: Tujuan Karir Jangka Panjang yang Membuat Anda Dilirik Perusahaan

Bagaimana dengan anda? 
 

(Dari berbagai sumber)

Leave A Reply

Your email address will not be published.