Berita Nasional Terpercaya

CARE Act.: Undang-undang Yang Membawa Perubahan Untuk Amerika Ini Warisan Dari Seorang Bocah Pengidap HIV

0

Amerika Serikat, HarianBernas.com– Apakah kamu pernah melihat seseorang yang sedang tertimpa penyakit? Atau kamu juga pernah mengalaminya? Dalam kondisi sakit yang pernah kamu alami ketika itu, apa yang bisa kamu lakukan? Terbaring lemah? Atau tetap beraktivitas layaknya orang normal lainnya?

Ada seorang bocah yang tertimpa penyakit ganas, bahkan umur hidupnya sudah tak lama lagi. Namun, bocah ini bisa berkarya dan membuat semua orang terkagum-kagum atas aksinya. Siapa  bocah ini? Bagaimana kisahnya?

Ryan White, lahir di Kokomo, Indiana pada tahun 1971. Mulanya dunia tidak mempedulikan siapa dia. Ryan White hidup seperti anak kebanyakan, normal, dan suka bermain dengan teman-temannya. 

Namun tahukah anda, di saat usia Ryan White yang ke-14, segalanya berubah. Mengapa demikian?

Pada tahun 1984, dokter menyatakan bahwa usianya tinggal enam bulan lagi. Sebuah penyakit berpita merah melandanya. Mula-mula, ia hanya terkena hemofilia (semacam kelainan darah yang sukar membeku, biasanya adalah diturunkan dari keluarga). Karenanya, Ryan mengalami kekurangan darah dan membutuhkan transfusi darah. Namun transfusi darah tidak pernah menolongnya dari hemofilia. Garis tangan mengatakan lain, darah yang ditransfusikan untuk Ryan, yang semula dianggap aman-aman saja, nyatanya mengandung virus HIV, penyebab AIDS. 

Terdengar seperti drama. Over sinteron! Mungkin anda pun akan beranggapan demikian? Tapi tunggu dulu, jangan terlalu dini menghakimi. Kisah Ryan tidak pernah seperti apa yang Anda bayangkan. Ryan adalah keajaiban, kisahnya adalah sihir yang membuat dunia berpandangan lain terhadap AIDS.

Menghadapi kenyataan pahit bahwa hidupnya tak lama lagi, Ryan dengan teguh mengatakan pada ibunya bahwa ia akan mencoba untuk tetap hidup normal, seperti anak-anak lain kebanyakan. Ia tetap mau sekolah, belajar, dan mencapai cita-citanya. Namun tudung hitam tak pernah lari dari hidupnya, sekolah Ryan di Kokomo menolak untuk menerima Ryan sebagai muridnya. 

Alasannya? Karena Ryan mengidap AIDS. Ini terlihat mudah dipahami, sebab mereka mengeluarkan Ryan dikarenakan pengetahuan tentang AIDS masih minim pada saat itu. Lebih dari itu, keluarga White pun akhirnya terpaksa pindah ke kota lain karena tak diterima lagi di lingkungannya sebab anaknya seorang positif AIDS.

Ibu Ryan, Jeanne, melaporkan tindakan pengusiran ini kepada pemerintah Amerika, dan dalam sekejap, kasus ini menyebar bak jamur di musim hujan. Ryan menjadi selebriti dan jubir AIDS untuk pendidikan dan penelitian publik. Mereka menjadi pelopor anti diskriminasi terhadap pengidap HIV. Hasilnya, tidak hanya Amerika, bahkan dunia Internasional pun melek. Dunia akhirnya tahu bahwa AIDS tidak dapat ditularkan melalui pelukan dan pegangan tangan. Penampilan Ryan di layar kaca berhasil memukau tokoh-tokoh ternama, seperti Michael Jackson, Elton John, keluarga Kennedy, dan tokoh lainnya. 

Perjuangan Ryan akhirnya berakhir di bulan April 1990. Ia meninggal satu bulan sebelum menyelesaikan bangku SMA. Ia hidup 5 tahun lebih lama dari vonis dokter.  
Kini, Ryan telah hidup tenang di alam lain. kenangan-kenangannya yang tersisa adalah perjuangannya, senyumnya, dan untuk mengenangnya pemerintah Amerika Serikat menamakan undang-undang perawatan bagi Orang dengan HIV AIDS atau ODHA di sana dengan nama The Ryan White Comprehensive AIDS Resources Emergency (CARE) Act. UU ini adalah program terbesar yang didanai pemerintah Amerika Serikat untuk Orang dengan HIV AIDS atau ODHA. Program ini menyediakan pelayanan perawatan, pengobatan, dan dukungan untuk hampir setengah juta orang, yaitu mereka yang tak tersentuh asuransi.

Sekarang kita tahu, siapa Ryan White, seorang remaja yang menjadi ikon AIDS, ikon pita merah. Dalam petualangan hidupnya yang begitu singkat, ia sudah mampu membuat perubahan bagi dunia. 

Lalu, kita bagaimana?

Leave A Reply

Your email address will not be published.