Berita Nasional Terpercaya

Takut Resiko, KPK Belum Berani Ungkap Hasil Penyelidikan Petral

0

JAKARTA, HarianBernas.com –-Berbagai dugaan penyimpangan berdasarkan hasil audit forensik pada bekas anak perusahaan Pertamina, Pertamina Energy Trading Ltd (Petral), dalam pengadaan minyak pada 2012-2014, mulai diselidiki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun, hasil penyelidikan itu belum bisa diungkapkan oleh pihak KPK.

“Kamis sudah mulai melakukan penyelidikan, namun kami belum bisa menyampaikan (isi penyelidikan) karena pada tahap ini risikonya akan menjadi besar,” kata pelaksana tugas (Plt) Wakil Ketua KPK Indriyanto Seno Adji di Jakarta, Kamis (26/11).

Seperti sudah diberitakan, PT Pertamina (Persero) menyerahkan hasil audit terhadap Petral, 13 November lalu, karena KPK meminta salinan hasil audit tersebut. Dan sampai saat ini, penyelidikan masih dalam proses pendalaman.

Seperti diketahui, dari hasil temuan lembaga auditor Kordha Mentha selaku lembaga yang mengaudit Petral, jaringan mafia migas telah menguasai kontrak suplai minyak senilai 18 miliar dolar AS selama tiga tahun. Menurut Menteri ESDM Sudirman Said, potensi pelanggaran hukum dari audit itu akan diserahkan ke aparat penegak hukum. Menteri Sudirman juga mengaku hasil audit tersebut akan dijelaskan kepada Presiden Joko Widodo.

Menurut Sudirman, ada pihak ketiga di luar bagian manajemen Petral dan Pertamina ikut campur dalam proses pengadaan dan jual beli minyak mentah maupun produk bahan bakar minyak (BBM). Campur tangan itu mulai dari mengatur tender dengan harga perhitungan sendiri, hingga menggunakan instrumen karyawan dan manajemen Petral saat melancarkan aksi. Hal ini membuat Petral dan Pertamina tidak memperoleh harga yang optimal saat melakukan pengadaan. Dikatakan oleh Menteri ESDM, pihak ketiga tersebut sangat berpengaruh dalam perdagangan minyak mentah dan BBM serta membuat pelaku usaha dalam bidang tersebut mengikuti permainan yang tidak transparan.

Sejak dibubarkan 13 Mei 2015, tugas Petral digantikan PT Pertamina Integrated Supply Chain (ISC Pertamina). Dengan demikian, diskon yang sempat disandera oleh pihak ketiga sudah kembali ke pemerintah dan perdagangan lebih transparan dan bebas. Menurut Menteri ESDM, para mafia diduga menguasai kontrak 6 miliar dolar AS per tahun atau sekitar 15 persen dari rata-rata impor minyak tahunan senilai 40 miliar dolar AS.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.