Berita Nasional Terpercaya

Dia Adalah Atlet Renang, Tapi Mengapa Julukannya Adalah “Gadis Bola Basket” ?

0

CINA, HarianBernas.com— Apa yang anda rasakan ketika anda sehat?
Terkadang orang bisa merasakan bahagia setelah mengalami kesedihan, orang akan bahagia ketika perutnya kenyang, apabila telah merasakan lapar.

Ketika kita merasa kehidupan kita begitu menderita, percayalah, ada yang lebih menderita dari kita. Pernahkah anda melihat ada orang yang masih bisa hidup ketika mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan pinggul dan kakinya harus diamputasi? Jika pernah, apa yang dapat mereka lakukan?

Pada tahun 2000, Di Kota Luliang, Propinsi Yunnan, China. Sebuah kecelakaan menimpa seorang gadis kecil yang pada saat itu masih berumur 3 tahun. Kejadian tersebut mengharuskan panggul dan kakinya diamputasi. Para dokter bekerja ekstra keras agar nyawanya dapat tertolong. Karena keterbatasan biaya, orang tuanya tidak mampu membelikannya kaki palsu. Akhirnya ia hanya tinggal di rumah saja. Melihat anaknya tidak leluasa dalam beraktivitas, orang tuanya mencari cara agar untuk membantunya, walaupun dengan dana yang sangat minim.

Akhirnya orang tuanya menemukan satu cara sederhana untuk membantunya. Cara tersebut adalah dengan membuat alat bantu baginya, alat bantu tersebut terbuat dari bola basket.  Bola tersebut dipotong separuh dan diletakkan di bawah tubuh kecilnya. Agar tidak terlepas dari tubuh, bola basket itu diikatkan ke tubuhnya menggunakan kain. Bola basket itu digunakan untuk menopang tubuhnya. Ia berjalan dengan mendorong tubuh yang ditopang bola basket itu dan kedua tangannya memegang kayu penyangga yang membantunya bergerak dan menyeimbangkan langkahnya.

Dengan alat bantu itu, ia bisa lebih mandiri. Ia bisa melakukan kegiatan pribadi tanpa bantuan orang lain. Dengan keadaannya yang seperti itu, ia tetap tersenyum. Ia nyaris tidak pernah mengeluh atas kejadian yang menimpanya. Sejak itu, gadis bola basket menjadi julukan untuk gadis yang penuh semangat itu. Sehari-hari ia menyusuri jalan untuk belajar di sekolah pada umumnya. Meski harus menyeret tubuhnya, semangatnya tak pernah kendur.

Cacat yang dimilikinya tidak menghalanginya untuk maju. Ia ingin menjadi anak yang berprestasi, bahkan ia memilih bidang olahraga sebagai tempat untuk mengaktualisasi dirinya. Ketertarikannya di bidang olahraga berawal ketika ia diikutsertakan dalam terapi basket untuk meningkatkan daya tahan mental dan fisiknya oleh orangtuanya. Setelah mengikuti terapi tersebut, ia tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Ia tidak pernah minder dengan kekurangannya, dan kehidupannya dipenuhi dengan hasrat untuk berprestasi. Selain mentalnya semakin kuat, ia menjadi lihai dalam bermain basket walau tidak memiliki sepasang kaki. Ketika ia bermain basket di lapangan, permainannya sangat mengharukan tetapi memukau. Bahkan, ketika ia bermain,  kamera wartawan lebih sering menyorotnya.

  Pada Bulan Mei 2007, di Kunming, China digelar Olimpiade Anak Cacat. Ia sangat menyukai acara tersebut. Ia tidak pernah absen datang dan menyaksikan olimpiade tersebut. Ia melihat kekuatan dan kegigihan yang dimiliki oleh kaum difabel dalam bertanding. Ia pun terinspirasi dan ia memutuskan untuk bergabung dengan klub renang khusus. 

Atas keinginan tersebut, ia diantar kedua orang tuanya pergi berkonsultasi kepada Zhang Honghu, pelatih yang dikenal telah banyak mencetak juara atlet renang difabel. Zhang Honghu pun menerimanya sebagai anak didik di klub renang. 

Dengan niat yang kuat, ia belajar sangat keras. Ia tak pernah mengeluh selama latihan meski ia menghadapi banyak sekali kesulitan. Karena tidak memiliki kaki, ia sulit untuk menyeimbangkan tubuhnya ketika berenang. Ia terus berlatih dengan giat, kerja kerasnya membuahkan hasil. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, ia dapat berenang dengan baik. Sampai pada akhirnya ia menembus pelatnas tim renang Cina.

Dialah Qian Hongyan, gadis kecil yang terus berprestasi walau tidak memiliki sepasang kaki. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.