Berita Nasional Terpercaya

Public Speaking : Berbicara dengan Rasa

0

Public Speaking : Berbicara dengan Rasa

Oleh : Lusy Laksita, Professional MC ? TV Presenter ? Radio Announcer ? Trainer ? Public Speaker; Managing Director ?Lusy Laksita? Broadcasting School & Partner In Comm

Jogja, HarianBernas.com – Banyak definisi tentang Public Speaking. Ada yang mengatakan ketrampilan berbicara efektif yang berkelanjutan guna menyampaikan pesan. Kemudian ada juga yang mendefinisikan sebagai kemampuan berbicara di depan umum. Bahkan sekali lagi, banyak definisi yang lain tentang Public Speaking.

Namun secara sederhana saya mengartikan Public Speaking sebagai Seni berbicara di depan audience (khalayak) atau Seni Berbicara di Depan Umum. Saya lebih menekankan seni bukan sekedar teknik, karena seni lebih menggunakan rasa.

Sebagai public speaker, penguasaan khalayak atau orang banyak adalah salah satu tantangan yang harus dihadapi. Bukan saja karena jumlahnya tetapi juga karena karakter, usia, latar belakang sosial dan pendidikan, dan yang lainnya. Agar dapat menguasai khalayak, memang diperlukan trik atau cara tersendiri sehingga bukan public speaker yang justru dikuasai tetapi public speakerlah yang menguasai publik.

Melalui ice breaking ataupun interaksi dengan khalayak, seorang public speaker dapat memahami karakter audiencenya. Dengan demikian khalayakpun dapat dikuasai dan di sinilah letak seninya.

Bahasa tubuh berperan besar pada proses komunikasi yang disampaikan seorang public speaker saat berbicara di depan umum. Tubuh kita berbicara terlebih dahulu sebelum mulut kita berbicara dan dapat berbicara apapun tentang kondisi diri kita saat kita berbicara di depan umum.

Ketika kita percaya diri, bahasa tubuh kitapun juga menunjukkan hal itu. Demikian juga pada saat grogi, dan pada kondisi yang lainnya, tubuh kita akan berbicara. Maka kita harus benar benar dapat mengolah bahasa tubuh dengan baik agar kita dapat berbicara di depan umum dengan baik pula.

Humor diperlukan untuk menyegarkan suasana dan membuat suasana tidak menjadi kaku atau membosankan saat kita berbicara di depan umum. Humor bersifat spontan, namun kita juga dapat merencanakan humor, akan tetapi sebagai public speaker kita harus benar-benar jeli menempatkan humor tersebut.

Karena seni, maka humor disertakan dengan menggunakan rasa, tidak dapat dipastikan dengan hitungan menit atau jam, kapan humor muncul. Yang perlu diperhatikan lagi adalah materi humor tersebut, artinya jangan sampai menyinggung  siapapun.

Seorang public speaker harus benar-benar dapat menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya, sehingga dipahami dan dimengerti oleh audiensnya. Nah yang diperlukan seorang public speaker agar dapat menyampaikan pikirannya adalah keruntutan dalam berbicara. Untuk itu, persiapkan dengan baik alur materi yang akan kita sampaikan, sehingga tidak ada yang tertinggal dan tidak loncat-loncat urutannya. Runtut akan memudahkan audiens untuk menyerap apa yang disampaikan oleh public speaker,  apapun materinya.

Situasi yang tercipta dan dirasakan oleh audiens adalah tanggung jawab seorang public speaker. Situasi tergantung pada bagaimana seorang public speaker menyampaikan materinya dan mengolah emosinya, baik terhadap materi yang disampaikan maupun terhadap audiensnya. Kontak emosi inilah yang akan dapat menciptakan situasi yang baik dan menyenangkan untuk kedua belah pihak, yaitu public speaker dan audiens. Pandai-pandailah menciptakan situasi yang menyenangkan agar materi yang disampaikan dapat diterima dengan menyenangkan juga.

Ketika kita berbicara di depan umum, meskipun kita yang lebih banyak berbicara, sebenarnya kita sedang melakukan proses bercakap-cakap dengan audiens. Maka respon itu perlu, baik repon audiens terhadap apa yang kita sampaikan maupun respon kita terhadap respon yang diberikan oleh audiens. Respon tersebut dapat berupa jawaban dan pertanyaan (ucapan) atau berupa tanggapan (gerakan tubuh). Dalam hubungannya dengan bercakap-cakap dan respon ini, menjaga kontak mata dengan audiens sangat diperlukan, agar public speaker  selalu dapat melihat respon yang diberikan oleh audiens kepadanya.

Ketika sedang berbicara di depan umum, seorang public speaker pasti mempunyai harapan bahwa apa yang disampaikannya dimengerti dan dipahami oleh audiens, dan pada akhirnya akan dapat mempengaruhi mereka. Untuk dapat mempengaruhi audiens tentu saja seorang public speaker harus menunjukkan integritas dan kapasitasnya agar apa yang disampaikannya mempunyai jaminan untuk dipercaya oleh audiens. Penguasaan materi, pilihan kata dan bahasa tubuh merupakan sebagian dari hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat kita berbicara di depan umum, supaya audiens terpengaruh.

Gunakan rasa ketika berbicara di depan umum, karena Public Speaking adalah Seni.  ***

Leave A Reply

Your email address will not be published.