Berita Nasional Terpercaya

Apakah Perusahaan Bisa Salah?

0

Oleh: Marselina Evy

Mahasiswi Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma

Di kost saya beberapa waktu lalu, ada seorang anak baru. Dia kuliah di jurusan tata rias sebuah universitas di Yogyakarta. Dia mahasiswa baru. Kami beberapa kali ngobrol di kost. Saya memuji dia karena pilihan kuliahnya membuat dia memiliki keterampilan selain ijasah.

Saya sendiri sudah lulus kuliah baru menyadari betapa saya sudah kuliah lama tapi nggak punya keterampilan apa selain ijasah. Jawabannya, ternyata belum berubah dari pola yang dulu saya kenal di antara teman-teman lebih dari 10 tahun lalu, “Saya malah merasa salah jurusan, Mbak. Stress kuliahnya. Saya masuk ke sini karena nggak lulus di jurusan yang saya mau. Saya pengennya kuliah di teknologi informasi. Sudah nyoba yang negeri tapi gak lulus. Orang tua saya maunya saya kuliah di negeri.”

Baca juga: Tertarik menjadi CEO atau Owner? Simak perbedaan keduanya

Bukan hal baru memang banyak orang merasa salah jurusan saat kuliah. Apakah Anda juga pernah merasa berada pada saat yang salah? Pada tempat yang salah sehingga semua jadi terasa salah?

Seperti program tanggung jawab sosial perusahaan atau dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan juga sering dianggap salah. Bahkan hingga saat ini CSR itu masih diperdebatkan salah atau benar? Dilaksanakan sering dicap salah sasaran, tidak dilaksanakan juga salah karena gak taat aturan. Lha, kapan benernya?

Dalam ranah akademi, perdebatan mengenai CSR lebih dipandang sebagai konsekuensi dari kedinamisan CSR itu sendiri. Unsur penting dalam membentuk atau menyusun atau membuat program CSR adalah manusia, manusia sendiri begitu dinamis, selalu berubah. Peran CSR berubah seiring pandangan manusia mengenai hal itu.

Dalam penelitiannya yang berjudul The Boundaries of Strategic CSR, Geoffrey P. Lantos mengungkapkan empat sudut pandang peran bisnis dalam masyarakat melalui CSR. Peran pertama dan kedua adalah CSR sebagai penggerak ekonomi. Albert Carr menyatakan bahwa CSR dilakukan dengan alasan murni untuk menciptakan profit bagi perusahaan. Sedangkan, Milton Friedman menyebutkan bahwa CSR dilakukan untuk memaksimalkan laba bagi para pemegang saham.

Baca juga: Inilah 7 Daftar Aplikasi Investasi Resmi Versi OJK

Sedikit berbeda, Edward Freeman mengungkapkan bahwa melalui CSR, bisnis dapat mengambil aksi-aksi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam hal ini juga pihak-pihak di luar pemegang saham. Archie Carroll mengatakan bahwa melalui CSR perusahaan dapat berperan serta (menggunakan sumber daya perusahaan) dalam menangani masalah-masalah sosial.

Dalam hal ini, peran civitas akademika dan pemerintah sangat penting. Civitas akademika diharapkan mampu memberi sumbangan dalam memperjelas posisi dan peran CSR dalam bisnis bagi masyarakat, melalui studi literatur dan riset-riset terkait CSR. Pemerintah diharapkan dapat menjadi saluran untuk pemerataan pengelolaan kegiatan dan dana CSR, melalui perda dan forum-forum CSR setempat.

Peran aktif pemerintah ini dapat terlihat seperti di Yogyakarta, dikutip dari Harian Bernas terbitan Sabtu (21/11), ketika diadakannya Musyawarah Daerah (Musda) Forum CSR Kessos DIY periode 2013-2015 pada Kamis (19/11) lalu lalu .

Baca juga: Inilah Jam Buka Bursa Saham di Indonesia 2021

Hidup itu bukan hanya soal benar atau salah suatu pilihan tapi lebih dari itu, ini berkaitan dengan memberi makna pada pilihan itu. Perdebatan mengenai benar dan salah seringkali berujung pada kebuntuan karena masing-masing orang memiliki pendapat dan berdiri dalam sudut pandang yang berbeda. Jika sekadar ajang diskusi, oke-oke saja untuk memilih benar atau salah dan berargumen demi mempertahankan pendapat. Seringkali, pada kenyataan, kita dihadapkan untuk memperbaharui pandangan mengenai sesuatu. Menurut saya yang terpenting pada saat memilih adalah proses memberi makna pada pilihan yang diambil.

Pada akhir tulisan kali ini, izinkan saya mengutip perkataan Bunda Teresa, ‘Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih. Tapi bagaimana pun, berbaik hatilah. Kebaikan yang engkau lakukan hari ini mungkin saja besok sudah dilupakan orang. Tapi bagaimana pun berbuat baiklah. Berikan yang terbaik dari dirimu. Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu. Ini bukan urusan antara engkau dan mereka.”

Baca juga: Tujuan Karir Jangka Panjang yang Membuat Anda Dilirik Perusahaan

Leave A Reply

Your email address will not be published.