Berita Nasional Terpercaya

Kaya dan Sejahtera Sesuai Norma

0

Oleh: H. Untung Budi

Managing Partner

Jogja Consulting Group

Tidak jelas, apakah karena memang dunia sudah tua atau telah terjadi pergeseran nilai dalam hidup. Hari ini masih ada saja orang-orang yang memiliki pikiran untuk mengejar kekayaan dengan jalan pintas. Harta dan uang menjadi salah satu tujuan utama dalam menafsirkan kesuksesan kehidupan.

Baiklah, setiap orang berhak dengan tujuan hidupnya masing- masing. Namun, ketika tujuan hidup itu bertabrakan dengan norma-norma yang berlaku, sejatinya sama saja dengan merendahkan derajat dan harkat manusia itu sendiri. Tetapi realitasnya, di sekitar kita sangat banyak kelompok manusia yang memilih jalan tersebut. Lantas bagaimana sebaiknya menyikapi semua itu?

Berdasarkan berbagai studi, faktor lingkungan sangat dominan mem­bentuk perangai sesesorang dan bahkan bisa mengubah tujuan hidup seseorang. Namun, hal itu bukan tidak bisa “diatasi”. Jika seseorang memiliki latar belakang keluarga yang kuat dalam tatanan nilai, biasanya tidak akan mudah dipengaruhi lingkungan, dan tentu hal itu akan semakin kokoh jika yang bersangkutan juga memiliki pendidikan me­madai yang mengajarkan rasionalitasnya untuk digunakan secara op­timal.

Baca juga: Tertarik menjadi CEO atau Owner? Simak perbedaan keduanya

Namun, dalam realitasnya, semua asumsi itu tidak bisa berjalan dengan baik. Kenapa? Karena ada situasi yang terus-menerus dihadapi seseorang dalam hidup, dan kemudian memberi pengaruh terhadap cara berpikir dan lain sebagainya. Kita lihat kemudian, fenomena mencari jalan pintas untuk cepat kaya tetap saja berkeliaran di sekitar kita. Apakah anda berhasrat masuk golongan seperti itu? Atau, anda ingin hidup dengan bermartabat tetapi bisa menjadi kaya melalui cara-cara elegan? Itu pilihan.

Tulisan ini akan memaparkan beberapa situasi mengapa orang-orang ingin menjadi kaya? Kaya dan sejahtera itu berbeda. Orang/keluarga sejahtera pasti bahagia, sedang orang kaya belum tentu bahagia.

Jalan pintas berikut ini mungkin bisa menjadi referensi bagi Anda untuk direnungkan.

Pertama, rasa serakah. Ketika sifat serakah sudah menghampiri seseorang, itu sama artinya dengan menggali lubang kubur sendiri. Apa pun yang telah diperolehnya tidak pernah menimbulkan rasa puas. Selalu ingin lebih dan ingin lebih dari yang sudah diperoleh. Dan fenomena seperti ini sangat banyak terjadi di pasar modal.

Tatkala seseorang membeli saham, karena harganya naik, dan terus naik, yang bersangkutan terus membeli. Hingga suatu saat, harga turun seperti kereta cepat dan anjlok sedemikian rupa, jatuh di bawah harga beli. Alhasil, yang bersangkutan menuai rugi besar. Itu masih hal yang biasa. Hal yang lebih menyedihkan ketimbang itu adalah cukup banyak fenomena di pasar keuangan, ketika seseorang ingin mendapatkan untung besar, hasil besar, maka menempuh cara hangky pangky. Menawarkan sogokan agar mendapatkan bisnis. Untuk apa? Karena si pelaku memiliki hasrat memupuk kekayaan melampaui kewajaran. Jadi, upaya mendapatkan kekayaan dilakukan dengan menjual harkatnya sehingga harga dirinya hanya sebesar nol rupiah. Muaranya, reputasi yang bersangkutan amblas dan kalau pun mendapatkan kekayaan, sifatnya hanya sesaat. Itulah dampak dari sifat serakah untuk memperkaya diri.

Kedua, mindset. Keterbatasan pengetahuan merupakan salah satu penyebab kenapa mindset seseorang tertutup atau sulit membedakan mana hal yang positif dan negatif berdasarkan norma-norma universal. Apa maksudnya? Jika Anda berada di lingkungan “maling” maka mencuri menjadi pekerjaan sehari-hari dan menganggap hal tersebut merupakan cara yang benar. Kok bisa seperti itu? Karena anda sudah membatasi diri untuk memasuki kehidupan kelompok masyarakat lain yang berbeda polanya dengan keseharian pergaulan anda. Jadi, ke­terbatasan pergaulan akan membentuk keterbatasan mindset. Dan ini mengakibatkan keterbatasan pengetahuan. Horizon hidup menjadi sa­ngat sempit dan terbatas.

Pertanyaannya, bagaimana menyiasati keadaan semacam itu? Yang utama adalah ada kemauan. Kemauan untuk mengakui sifat serakah itu buruk Jika itu sudah bisa dilakukan, baru kemudian menyiapkan langkah untuk menempatkan makna kekayaan sebagai hasil dari proses kehidupan, bukan sebagai tujuan. Lantas bagaimana menafsirkan bahwa mendapatkan kekayaan merupakan hasil dari proses?

Jika anda bekerja sebagai karyawan suatu perusahaan, yakinkan diri anda bahwa keberadaan anda di situ bukan sekadar untuk mendapatkan imbalan gaji. Namun, lebih dari itu. Anda memberikan kontribusi kepada perusahaan tempat anda bekerja. Implikasinya, jika memberi kontribusi dengan baik, jabatan, tanggung jawab, dan imbal hasil, yang anda terima akan semakin besar dari waktu ke waktu. Anda berkarier di perusahaan tersebut. Bukan sekadar bekerja.

Di sisi lain, jika Anda bekerja sebagai self employee atau berwiraswasta, maka membangun kepercayaan dari pelanggan merupakan basis ke­berhasilan usaha Anda. Kepercayaan hanya akan diperoleh jika anda memiliki reputasi. Reputasi didapat jika selama Anda menjalankan usaha dilakukan dengan jujur, dan dimaknai sebagai “membantu” pelanggan, bukan “mengambil” dari pelanggan. Mengedepankan prinsip giving di atas taking adalah jurus untuk membangun reputasi dan kemudian mendapatkan kepercayaan. Yakinlah, bisnis yang dijalankan dengan cara taking hanya akan menuai kesuksesan jangka pendek.

Kesimpulannya, tidak ada jalan pintas untuk menjadi cepat kaya, baik itu jika anda sebagai karyawan maupun melalui aktivitas bisnis. Demikian juga jika melakukan investasi. Semuanya merupakan proses yang membutuhkan waktu. Dan proses itu dimulai dengan membentuk mindset yang terbuka, yang tidak meletakkan kekayaan sebagai tujuan hidup.

Baca juga: Tujuan Karir Jangka Panjang yang Membuat Anda Dilirik Perusahaan

Leave A Reply

Your email address will not be published.