Berita Nasional Terpercaya

Pemimpin yang Mengandalkan

0

Oleh: Surya Kresnanda

Leadership Coach

?Sibuk terus nih saya, hampir nggak ada waktu?,? keluh teman saya, seorang pebisnis di bidang pendidikan saat menceritakan bisnis yang sedang dikerjakannya. Dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya karena keberadaannya selalu dibutuhkan di kantor tempat operasional bisnisnya berjalan. ?Tim sangat membutuhkan kehadiran saya di sana. Mereka mengandalkan saya?,? katanya.

Saya berpikir, mungkin kepemimpinannya sangat bagus sehingga dia selalu diharapkan kehadirannya dan dibutuhkan. Bahasa dia, diandalkan. Dan saya sering menganggap seperti itulah kualitas kepemimpinan dibuktikan. Berbeda dengan para pemimpin yang kehadirannya tak membuat sebuah perbedaan.

Sayangnya, anggapan tersebut tidak selalu benar.

Bisa dibayangkan saat seorang pemimpin senantiasa diandalkan oleh timnya. Apa yang terjadi kala sang pemimpin tidak ada di lokasi? Pekerjaan bisa berantakan, tim ragu apakah keputusan yang diambil tepat atau tidak, dan mereka akan selalu membutuhkan pemimpinnya agar hasil pekerjaan baik.

Akibatnya adalah apa yang dialami teman saya tadi. Ia jadi tak punya waktu luang. Semua pekerjaan harus melalui dirinya. Semakin merasa diandalkan, semakin takut dirinya untuk menyerahkan sepenuhnya pada tim. Bisa dikatakan, dampak timbale-balik dari pemimpin yang diandalkan adalah ia sulit mengandalkan timnya.

Mindset kebanyakan orang tentang pemimpin memang tak jauh dari sosok serba bisa dan layak diandalkan. Sepanjang hari dan waktu kita sering disuguhi sosok pemimpin super di berbagai media, baik itu televisi atau novel. Seringkali pemimpin digambarkan sebagai orang hebat segalanya. Ia pun menjadi tumpuan orang-orang di sekitarnya. Tim sangat bergantung pada pemimpin itu, dan menjadikannya seorang legenda.

Kisah-kisah tersebut ternyata cukup efektif dalam membangun mental ?raja? di dalam banyak pemimpin. Saat memimpin, ia ingin terlihat kuat. Tak jarang juga seorang pemimpin menuntut diri untuk lebih hebat dalam segala hal dibandingkan timnya agar dirinya dapat selalu diandalkan. Dengan begitu, ia tetap diikuti.

Sayangnya, dongeng tak seindah kenyataan.

Betapa sulit pekerjaan kita di kantor atau organisasi kala menjadi pemimpin yang selalu diandalkan. Saat tim mengandalkan pemimpinnya, apa-apa tanya atasan, dikit-dikit minta bantuan. Kepemimpinan takkan bisa mencapai tingkat delegasi karena belum ada tim yang benar-benar bisa diandalkan. Semua justru mengandalkan pemimpinnya.

Pemimpin hebat seharusnya bukan diandalkan namun mampu mengandalkan. Ia memiliki banyak orang yang mampu diandalkan dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Pemimpin jadi lebih mudah mendelegasikan tugas sehingga lebih siap dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Untuk bisa mengandalkan tim, pemimpin perlu membangun kualitas sumber daya manusia di dalamnya. Di samping itu, juga membangun kerja sama solid diantara mereka. Dalam artian sederhana, pemimpin mampu membangun para superman yang bisa bekerja di dalam superteam. Wawasan ini membuka pikiran saya bahwa pemimpin bukan sekadar ada untuk mengatur dan mengawasi pekerjaan, melainkan juga membantu timnya bertumbuh menjadi pribadi-pribadi berkualitas.

Wahai para pemimpin, mari menumbuhkan tim kita. Jadikan mereka sosok-sosok hebat sehingga kita mampu mengandalkan mereka.

Leave A Reply

Your email address will not be published.