Berita Nasional Terpercaya

Niat Hati Memotivasi Diri, Tak Disangka Berujung Rezeki

0

AMERIKA SERIKAT, HarianBernas.com– Pernahkah kamu melihat  seseorang yang kerjanya hanya membuat onar saja, tidak ada yang bisa dibanggakan, tahunya hanya berkelahi saja.

Pernahkah kamu bertanya – tanya  mau jadi apa nanti orang yang hanya bisa membuat onar ?

Sebelum berpikir lebih jauh, lebih baik kamu membaca kisahku berikut ini. Aku dulunya seorang yang nakal, selalu membuat onar, dan selalu berurusan dengan pihak kepolisian, namun akhirnya kini aku bisa menjadi seorang motivator dan pengusaha muda yang bisa dibilang cukup sensasional. Siapa aku? Silakan simak kisahnya.

Baca juga: Tertarik menjadi CEO atau Owner? Simak perbedaan keduanya

Ketika aku kecil, aku tinggal di daerah kelahirannku d ikota Alabama, Amerika Serikat (AS). Lingkunganku terbilang tidak menguntungkan. Kedua orangtuaku mengalami broken home, akibatnya pergaulanku pun tak terjaga. Kehidupanku yang dipenuhi kenakalan remaja membuatku harus berurusan dengan kepolisian.

Kehidupan yang menyengsarakan itu sebenarnya tidak ku kehendaki. Aku bahkan menyadari bahwa jika terus-terusan hidup di lingkungan yang buruk seperti ini, masa depanku tak akan pernah menjadi lebih baik. “Aku bosan di lingkungan negatif itu. Aku selalu percaya bahwa kita adalah gambaran dari pergaulan kita. Polisi akan bergaul dengan polisi, pemadam kebakaran bergaul dengan pemadam kebakaran, orang kaya bergaul dengan orang kaya, orang sejahtera bergaul dengan orang sejahtera, begitupun orang berantakan akan bergaul dengan orang berantakan juga. Akhirnya aku putuskan untuk keluar dari lingkungan tersebut (ketika usiaku menjelang 20 tahun) karena aku sudah lelah dengan semua ini.

Untuk membangun hidup yang lebih baik aku pergi dari Alabama menuju Los Angeles, California, mencari pekerjaan. Untuk tidur di malam hari, aku terpaksa menggunakan mobilku.

Sayangnya mencari pekerjaan di kota besar tidaklah mudah. Sudah puluhan orang yang kutemui untuk bisa mempekerjakanku, sebanyak itu pula orang menolak. Latar belakangku yang pernah berurusan dengan kepolisian membuat mereka tak berani mengangkatku menjadi pekerja mereka. Situasi ini membuatku frustrasi. Namun, kefrustasian itu tidak berjalan lama, aku sadar bahwa aku harus tetap bertahan. Salah satu yang kulakukan adalah selalu berpikiran positif. Setiap kali ditolak aku menasihati diriku sendiri bahwa suatu saat kelak pekerjaan terbaik akan aku dapatkan. Tak hanya itu, ketika aku tiba di mobilku, aku tempelkan  kalimat-kalimat inspirasional di langit-langit mobilku.  Apa alasannya? Ini supaya aku selalu dikelilingi hal-hal yang positif, aku menyebutnya “Dream Wall”.

Suatu hari, sepulang berburu lowongan kerja, aku pulang ke mobilku. Entah bagaimana ketika itu aku merasa kecewa luar biasa.  Pasalnya, “Setelah wawancara ke-152 dan mereka bilang “No”, aku langsung  masuk ke mobil malam itu dan berteriak frustasi, “Aku tak akan mencari pekerjaan lagi, aku akan buat pekerjaan sendiri!’” Teriakan kekecewaan itu pada awalnya tak aku sadari benar-benar. Namun setengah jam kemudian, aku menyadari bahwa mungkin itulah hal terbaik dalam hidupku, mungkin aku harus menikmatinya. Ketika itu aku mulai berpikir kembali dan dalam hatiku pun berkata “yang harus ku lakukan, yaitu membuat pekerjaan sendiri”.

Keberuntungan mulai menghampiri. Esoknya, aku bertemu seseorang yang dulu kukenal. Orang tersebut investor real estate, yang dengan baik hati mempersilakan aku untuk menumpang tidur di salah satu bagian rumahnya. “Berarti setelah 63 hari tinggal di dalam mobil, aku kembali bisa tidur di dalam rumah,” ujar hati kecilku.

Aku pun mulai merancang “bisnis” yang bisa kulakukan. Yang paling mudah adalah menjual T-shirt. Aku mendapatkan ide dari pengalaman ku memotivasi diriku sendiri dengan kalimat-kalimat positif. T-shirt itu harus memuat tulisan yang motivasional. Awalnya aku mencetak beberapa T-shirt dengan tulisan “Damn a Recession, I’m in a Succession!”—kalimat yang menggambarkan bahwa tak peduli keadaan resesi, seseorang bisa saja sukses. T-shirt itu aku jajakan di sebuah perempatan kota Los Angeles. Tak kukira sebelumnya, ternyata laku terjual habis. Dari hasi jajakan ku ini aku putuskan agar hari-hari berikutnya aku kembali menjual T-shirt sejenis dan hasil jualanku terus laku.

Untuk mengoptimalkan jualanku, aku membuat website. Aku juga menambah variasi kalimat yang dicetaknya pada T-shirt yaitu “God’s on my team; who’s on yours?” Yang luar biasa, hanya dalam tempo tiga bulan, Aku bisa menjual 5 ribu T-shirt ke berbagai pembeli di seluruh dunia. Ini membuktikan bahwa kalimat-kalimat motivasional itu disukai banyak orang.

Sukses di bisnis kaus, aku kemudian mencoba memproduksi aneka produk dengan basis kalimat-kalimat motivasional. Ratusan kalimat motivasional yang dulu aku tempelkan di atap mobilku pun kini aku coba buatkan buku yang berjudul My Mind is Wealthy, dan ternyata tidak disangka – sangka laku keras. Aku juga menciptakan lagu, membuat film, dan menjadi pembicara di berbagai tempat. Aku mendorong anak-anak yang kurang mampu agar bisa bangkit dan membuat suksesnya sendiri.

“Aku  senang menjalankan ini. Aku mendorong orang-orang di sekitarku untuk menciptakan suksesnya masing-masing sehingga kelak aku bisa dikelilingi 10, 15, 20 miliarder yang pernah aku bantu,” paparku.

Ohh ya, aku belum memperkenalkan diri sebelumnya. Namaku Demetrius Shealey, aku lahir pada  9 Oktober 1986 dikota Alabama, Amerika Serikat (AS).

Kini, aku punya brand sendiri. Aku mengubah namaku menjadi Billionaire PA untuk menginspirasi orang menjadi miliarder (billionaire).  Aku juga memberi nama perusahaanku, “Wealthy Minds”, karena ingin menginspirasi orang untuk berjuang mewujudkan mimpinya.

Baca juga: Tujuan Karir Jangka Panjang yang Membuat Anda Dilirik Perusahaan

Leave A Reply

Your email address will not be published.