Berita Nasional Terpercaya

Tidak Banyak Yang Tahu Jika Percetakan Buku Tiga Serangkai Dimulai Dari Sekumpulan Bahan Ajar Seorang Guru SD

0

SOLO, HarianBernas.com— Jika Anda sering pergi ke toko buku maka tentu sudah tidak akan asing dengan nama Tiga Serangkai. Ya, ini adalah nama sebuah penerbit yang sudah sukses memasarkan buku-bukunya ke seluruh wilayah nusantara.

Namun siapa sangka jika penerbit besar nasional ini dulunya adalah sebuah kegiatan mengisi waktu luang yang dilakukan oleh sosok wanita yang bernama Hj. Siti Aminah dengan mengumpulkan berbagai soal-soal ujian dan materi yang diberikan pada muridnya. Sejak berdiri 45 tahun lalu, PT. Tiga Serangkai Group kini sudah tumbuh dan berkembang pesat dengan merambah ke berbagai sektor usaha lain seperti produksi alat-alat tulis, perdagangan, mesin cetak, toko buku, bengkel otomotif, pengadaan bahan kimia untuk keperluan cetak, perdagangan kertas dan terakhir mendirikan pasar swalayan Goro Assalam.

Baca juga: Tertarik menjadi CEO atau Owner? Simak perbedaan keduanya

Lalu seperti apa kisah di balik perjalanan Hj. Siti Aminah Abdullah dalam mendirikan penerbit Tiga Serangkai ini?

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa berdirinya penerbit Tiga Serangkai ini berawal dari kegiatan mengumpulkan bahan ajar yang dilakukan Hj. Siti Aminah di waktu senggang. Hj. Siti Aminah dulu memang berprofesi sebagai guru SD. Karena keadaan yang sulit di daerahnya Pacitan, dalam proses belajar mengajar inilah yang membuat kemudian HJ. Siti Aminah melakukan kegiatan pengumpulan bahan ajar.  

Ketika semua materi dan soal-soal sudah terkumpul, Hj. Siti Aminah dan suaminya H. Abullah Marzuki kemudian membukukannya menjadi diktat. Mereka juga memesan mesin stensilan dari Solo hingga kemudian terciptalah edisi satu buku yang dapat diberikan ke anak didik.

Tak disangka oleh Hj. Siti Aminah jika kemudian hasil buku cetakan pertamanya ini banyak yang meminati. Tak hanya dari murid saja, namun rekan guru pun juga banyak yang akhirnya memesan buku yang awalnya berjudul Himpunan Pengetahuan Umum (HPO) itu. Dari sinilah kemudian ia terbuka pikirannya untuk menjadikanya peluang usaha.

Tinggal di Pacitan ternyata membuat dirinya kesulitan mengembangkan peluang bisnisnya. Maka Siti Aminah dan keluarga memutuskan untuk pindah ke Wonogiri. Di sana ia masih menjalankan profesinya sebagai guru.

Namun selain mengajar, wanita kelahiran Pacitan tahun 1939 ini juga membuka agen toko buku “Tiga”. Saat bisnis tokonya mulai menunjukkan kemajuan, ia mengubah nama tokonya menjadi “Tiga Serangkai” atas nasihat dari Wie Sang Giem, agar tokonya tak kena pajak tambahan.

Pada tahun 1969, Aminah dan keluarga kembali pindah rumah, dan kali ini tujuannya adalah Solo. Aminah melakukan ini karena ketika di Wonogiri, akses kendaraan menuju tempatnya sangat terbatas. Di Solo usaha toko buku “Tiga Serangkai” Aminah semakin maju. Bahkan agar lebih fokus dalam bisnis buku ini, Aminha kemudian memutuskan keluar dari guru SD.

Karena permintaan buku pelajaran yang terus naik, akhirnya Aminah dan suami tertantang untuk mencetak buku sendiri. Maka lahirlah beberapa buku seperti Himpunan Pengetahuan Alam (HPA), Sari Bumi Indonesia (SBI), Sari Hayati (SH) dan Intisari Bahasa Indonesia (IBI).

Dalam menjalankan usaha buku Tiga Serangkai ini Aminah sering kali berhadapan dengan berbagi cobaan dan rintangan. Cobaan pertama datang dari sistem dagang Tiga Serangkai yang seringkali menawarkan diskon sampai 30% kepada grosir dan toko buku. Keadaan ini akhirnya menemukan tantangan saat banyak penerbit sejenis yang melakukan direct selling ke sekolah-sekolah. Dari sinilah Tiga Serangkai sempat menghentikan sistem grosir selama dua tahun dan harus ikut terjun dalam penjualan langsung dengan mempersiapkan segala sesuatunya.

Tantangan kedua datang lagi saat muncul kebijakan buku pelajaran yang hanya berlaku lima tahun. Kebijakan dari pemerintah ini jelas menuntut semua penerbit termasuk tiga serangkai berubah dengan melakukan diversifikasi ke buku anak-anak dan umum.

Rintangan dan cobaan yang muncul dari perkembangan zaman yang terus berubah akhirnya membuat Tiga serangkai mengubah citra perusahannya menjadi perusahaan yang lebih profesional dengan cara melakukan rasionalisasi terhadap karyawan dan memberi kesempatan kepada setiap karyawan atau mantan karyawan untuk menjadi mitra Tiga Serangkai. Dari sinilah kemudian muncul usaha membuat LKS, kursus komputer, dan sebagainya.

Baca juga: Tujuan Karir Jangka Panjang yang Membuat Anda Dilirik Perusahaan

Leave A Reply

Your email address will not be published.