Berita Nasional Terpercaya

Yansen Kamto, Sosok Penggagas Program Seribu Digital Entrepreneur Indonesia

0

JAKARTA, HarianBernas.com — Niat pemerintah untuk mengembangkan bisnis yang berbasis pada teknologi digital Indonesia sepertinya tidak main-main. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, banyak pihak digandeng untuk turut memikirkan bagaimana langkah strategis yang harus dilakukan ke depan.

Langkah nyata pertama yang sudah diambil pemerintah adalah beberapa waktu yang lalu berkunjung ke kawasan teknologi paling populer di dunia, yaitu di Silicon Valley, Amerika Serikat. Kunjungan tersebut melibatkan rombongan yang terdiri dari berbagai kalangan yang selama ini fokus bergerak pada bisnis digital, seperti Nadiem Makariem pendiri GoJek serta William Tanudjaja yang mendirikan Tokopedia.

Baca juga: Tertarik menjadi CEO atau Owner? Simak perbedaan keduanya

Selain kedua orang tersebut, ada satu orang yang mungkin tidak semua orang tahu, ia adalah Yansen Kamto. Siapa sebenarnya dia ini sampai diajak ikut serta dalam kunjungan pemerintah ke Sillicon Valley serta bagaimana sepak terjangnya di dunia bisnis digital di Indonesia?

Orangnya botak, gaya bicaranya sedikit slengekan dan juga ceplas-ceplos, ke mana saja selalu memakai celana pendek, itulah sedikit gambaran seorang Yansen Kamto. Lalu apa gerangan yang membuat Yansen diikutkan dalam rombongan pemerintah ke Silicon Valley?

Menurut Yansen, ia diajak Menteri Rudiantara tak semata-mata diajak saja karena selama ini ia dipandang aktif dalam dunia bisnis digital. Namun sebelum itu ia pernah menyodorkan sebuah proposal berupa roadmap dengan visi menciptakan seribu digital entrepreneur di Indonesia. Dengan total nilai valuasi mencapai USD 10 miliar pada tahun 2020.

Nah, guna mewujukan visi tersebut, menurut Yansen harus memiliki sebuah roadmap yang jelas dan terarah. Tidak bisa misalnya akan membangun seribu startup digital tapi tanpa menggunakan kalkulasi yang tepat.

Menurutnya, harus ada roadshow di beberapa kota untuk menghadirkan orang yang sudah membuat. Ini ditujukan untuk membuka dulu pikiran mereka yang ikut di dalamnya. Baru setelah itu kemudian disiapkan tempat dan fasilitator untuk mereka belajar lebih jauh mengenai teknopreneur ini.

Menurut Yansen, agenda saat berkunjung ke Silicon Valley kemarin adalah bertukar pengetahuan. Bukan ke sana dalam rangka untuk membuka pintu kepada mereka guna menjajah pasar di Indonesia, namun lebih kepada saling bertukar ilmu. Yang ditukar adalah startup Indonesia ke sana dan startup mereka ke Indonesia.

Mereka ternyata juga mau belajar tentang Indonesia. Sederhananya, misalnya ketika berbicara tentang e-commerce seperti Amazon dan Tokopedia, kalau di Indonesia, lebih banyak kepulauan tentu dalam menangani logistik jauh berbeda. Nah, hal-hal semacam ini yang menjadi ketertarikan mereka di sini. Bukan hanya pertukaran startup, namun juga akan dilakukan pertukaran mentor.

Intinya adalah potensi yang ada di Indonesia ini tidak boleh hanya menjadi pasar saja, namun kita harus bisa menjadi pemain di dalamnya. Selama ini, menurut Yansen Indonesia memang dianggap sebagai negara dengan potensi yang tinggi dan banyak talenta.

Namun tak hanya sebatas itu, yang harus dilakukan adalah bagaimana membina potensi yang ada tersebut untuk menjadi pelaku-pelaku utama dalam bisnis ecommerce ini. Maka dari itu, di sini diperlukan pembinaan yang baik dengan sebuah roadmap yang jelas.

Menurut Yansen, tidak hanya pembinaan saja yang dibutuhkan untuk memacu dan mengembangkan bisnis digital di Indonesia. Sebelum itu, yang perlu dilakukan adalah melakukan kampanye dan promosi kepada para pemuda Indonesia.

Apa yang perlu dikampanyekan? Yang perlu dilakukan adalah menanamkan sebuah mindset ke anak muda bahwa sebenarnya kita ini mampu menjadi pemain dan pelaku utama dalam bisnis teknologi digital ini. Menekankan juga kepada mereka bahwa jangan kita hanya menjadi market orang-orang dari luar.

Sebuah ekosistem yang menyeluruh juga sangat penting disediakan untuk bertumbuh kembangnya bisnis teknologi digital. Misalkan mau membuat startup, di mana tempat belajarnya. Kemudian ingin belajar coding harus belajar ke mana, nah tempat-tempat belajar seperti itu mutlak harus juga tersedia untuk mendukung potensi-potensi anak muda ini.

Bagaimana? Anda tertarik untuk berbisnis digital?

Semoga Indonesia mampu melahirkan banyak digital entrepreneur seperti apa yang ada di dalam proposal Yansen Kamto. Semoga menginspirasi!

Baca juga: Tujuan Karir Jangka Panjang yang Membuat Anda Dilirik Perusahaan

Leave A Reply

Your email address will not be published.