Berita Nasional Terpercaya

Mengapa Kaum Difabel Harus Mengamen?

0

Oleh: Agus Putranto

Inspirative Trainer of Music, Parenting, and Mind Technology

Pembaca yang budiman, jika anda berjalan-jalan ke Malioboro tentu anda sering melihat kaum difabel yang mengamen di sana. Banyak dari mereka yang bisa memainkan alat musik dengan indah dan memiliki suara yang cukup merdu saat mereka bernyanyi. Saya percaya tentu hati anda akan terketuk dan dengan ikhlas anda akan mendonasikan uang anda setelah anda melihat dan mendengarkan kepiawaian mereka dalam bermusik. Sebagian dari anda ada yang memberi karena merasa terhibur, dan sebagian lagi ada juga yang memberi karna belas kasihan.

Sementara itu di sisi lain ternyata Pemerintah Kota Yogyakarta tidak berkenan dengan adanya pengamen di Malioboro karena mereka dianggap mengganggu kenyamanan para wisatawan. Akhir-akhir ini banyak dari kaum difabel yang dijaring oleh Satpol PP, tinggal di penjara, dan setelah itu mereka harus menjalani rehabilitasi.

Saya pun dulu pernah mengamen dari rumah ke rumah. Saat ilmu dan iman masih terbatas, saya berpikir bahwa karena saya tunanetra pastilah banyak orang akan mengasihani saya. Sementara itu semakin sering saya mengamen, semakin sering pula hinaan yang memekakkan telinga dan membuat hati terlunta.

Akhirnya, pelajaran yang saya dapatkan dari mengamen adalah ternyata dikasihani orang itu tidak enak. Untungnya saya tidak terjaring oleh Satpol PP saat itu sehingga saya pun tidak harus tinggal di penjara. Saya membayangkan jika saya dipenjara betapa malunya ibu saya tercinta yang telah mendidik saya tanpa ayah yang mendampinginya, hingga saya berkesempatan mewakili Indonesia untuk berpartisipasi dalam sebuah training leadership di Jepang yang kala itu seleksinya hanya dipilih 7 orang dari 7 negara se-Asia Pasifik, dan waktu itu saya adalah satu-satunya dari Indonesia, dan tumbuh menjadi seorang trainer dan inspirator seperti sekarang. 

Setelah merenungi peristiwa tersebut maka muncullah pertanyaan seperti ini: salahkah mereka mengamen? Lantas sudahkah mereka mendapatkan rehabilitasi yang sesuai dengan yang mereka butuhkan? Apakah setelah keluar dari penjara mereka juga keluar dari penjara mental? Dan sebagai bagian dari masyarakat apakah yang sebaiknya kita lakukan?

Pembaca yang budiman, anda tentu telah mengetahui bahwa hidup mandiri secara ekonomi adalah impian setiap orang tak terkecuali kaum difabel. Tentu ada alasan positif mengapa mereka mengamen. Di antaranya adalah untuk menghidupi keluarga, untuk bertahan hidup, dan ada  juga yang ingin mencari uang dengan instan. Bayangkan saja jika hari libur akhir tahun seperti sekarang ini, ketika Jogja dikunjungi banyak wisatawan, penghasilan mereka bisa 1 juta tiap harinya. Bukankah sebuah penghasilan yang luar biasa menggiurkan? Sementara itu tentu telah kita ketahui bersama bahwa Tuhan tidak memperkenankan umatnya meminta selain kepadanya.

Pembaca yang budiman, setelah mengamati fenomena di atas, akan lebih bijak jika kita sebagai bagian dari masyarakat untuk turut berperan serta dalam membantu mereka.

Selama ini kaum di fabel memang telah berkesempatan untuk mendapatkan pendidikan baik formal maupun non formal, namun demikian pendidikan lebih mengacu pada kemampuan intelektual dan keterampilan seperti musik, pijat, dan lain sebagainya. Satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa sebenarnya kemampuan intelektual dan keterampilan hanya berkontribusi 20 persen dalam keberhasilan, sedangkan yang 80 persennya adalah sikap mental.

Pembaca yang budiman, tahukah anda bahwa penjara yang sesungguhnya bagi kaum difabel adalah penjara mental? Penjara mental inilah yang menyebabkan mereka mengamen. Penjara mental yang saya maksud adalah kurangnya keyakinan pada diri sendiri yang disebabkan oleh banyak hal di antaranya: hinaan dari lingkungan, sugesti negatif dari orang tua, guru, dan figur otoritas lainnya, tidak merasa aman, perasaan tidak diterima, serta  perasaan tidak dicintai, dan lain sebagainya. Hal inilah yang menjadikan penjara mental bagi mereka sehingga kita sebagai bagian dari masyarakat perlu membantu mereka dengan cara men-suport mereka agar memiliki sikap mental positif. Semakin kita peduli kepada mereka maka akan semakin seimbang pula kemandirian mereka baik mandiri secara mental maupun mandiri secara ekonomi.

Lantas perlakuan yang seperti apa yang mereka butuhkan? Abraham Maslow, seorang tokoh terkenal penemu psikologi humanistik mengajarkan bahwa setiap manusia tanpa terkecuali memiliki hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi yang terdiri dari: kebutuhan rasa aman, kebutuhan perasaan dicintai dan perasaan diterima, serta yang tak kalah penting adalah kebutuhan untuk mengaktualisasi diri.

Ya, itu kebutuhan untuk mengembangkan potensi sesuai dengan bidangnya. Di sekolah khusus bagi difabel, selain belajar ilmu akademik, mereka juga belajar ilmu keterampilan seperti musik, pijat, dan keterampilan yang lain. Ilmu-ilmu seperti itu sangat bagus jika dibarengi dengan penguatan mental yang bagus pula. Misalnya: guru sering berkata kepada muridnya: kamu itu harus percaya diri. Tantangan bagi guru adalah  bagaimana guru mengajarkan cara yang tepat untuk mengakses kondisi percaya diri. Akan saya bahas tentang hal ini pada artikel saya berikutnya yang berjudul ?cara baru membangun identitas diri positif bagi kaum difabel?.

Akhirnya, izinkan saya untuk mengajak anda untuk peduli kepada kaum difabel. Semakin anda peduli itu artinya semakin baik pula sikap mental kaum difabel yang akan berujung pada kemandirian difabel, baik secara mental dan ekonomi. Ingat, pondasi kemandirian ekonomi adalah kemandirian mental. Dan sekarang inilah saat yang tepat bagi kita untuk berkontribusi bagi kemajuan mereka. Dengan peduli kepada mereka, itu juga berarti kita melakukan aktualisasi diri, seperti perintah Tuhan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Itulah sejatinya aktualisasi diri hakiki yang diajarkan oleh semua agama.

Dan akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada anda yang telah berkenan membaca artikel ini. Semoga artikel ini menjadikan masyarakat kita masyarakat yang ramah difabel.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.