Berita Nasional Terpercaya

Agus Putranto: Bagaimana Membangun Identitas Positif bagi Kaum Difabel?

0

Pagi itu 31 Agustus 2004 hangatnya matahari Osaka menyengat tubuhku. Nampak seorang laki-laki buta dengan memegang tongkat di tangan kirinya berjalan sambil digandeng oleh seorang pramugari keluar dari pesawat Japan Airlines. Setitik air mata haru jatuh di pipinya, dan segumpal perasaan bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sebab, ternyata laki-laki buta itu adalah saya sendiri Agus Putranto.

Sambil bertanya dalam hati ?apakah saya sedang bermimpi?, tiba-tiba terngiang jelas di telinga kata tetangga, ?Cah picak kok arep dadi penyanyi (orang buta kok mau jadi penyanyi)? Nggak mungkin.? Masih juga teringat saat teman-teman membully saya. Sungguh menyakitkan, sungguh menyedihkan. Menjerit hati ini sembari bertanya: ya Rob, masihkah ada asa dalam gulitaku ini?

Sesaat kemudian terdengar suara seorang wanita menyapa hingga menyadarkan lamunan saya, ?Are you Mr Agus from Indonesia? Yes, I?m Agus from Indonesia. Oh, nice to meet you Mr Agus. I?m Takako Wayama from Duskin Ainowa Foundation Japan. We are waiting for you, you know in Oktober you will be invited to teach angklung 20 people in Osaka. Are you ready??

Spontan saya menjawab, ?Why not? Yes, I?m ready.? Padahal belum pernah sekalipun saya memegang angklung. Ya Rob, sungguh Engkau Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Akhirnya Engkau tunjukkan asa dalam gulita ini. Telah Engkau izinkan hambamu ini untuk mendapatkan beasiswa leadership training dan berkesempatan menjadi bintang tamu dalam beberapa konser musik di Osaka, Tokyo, Nagoya, dan kota kota lain di Negeri Sakura , dan telah Engkau izinkan aku untuk menjadi satu-satunya wakil dari negeriku di antara puluhan ribu pendaftar se-Asia Pasifik.

Pembaca yang budiman, pada artikel saya sebelumnya yang berjudul ?mengapa kaum difabel harus mengamen?? telah saya sampaikan bahwa setiap manusia tak terkecuali kaum difabel memiliki kebutuhan mendasar yang sama, yaitu perasaan aman, perasaan dicintai, perasaan diterima, dihargai, dan aktualisasi diri. Lalu bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut? Inilah yang ingin saya sampaikan pada artikel ini untuk anda pribadi-pribadi hebat yang terus bertumbuh.

Saat saya mengikuti pelatihan NLP practitioner, sebuah cabang ilmu psikologi modern yang mempelajari tentang bagaimana memodel orang-orang yang telah sukses di bidangnya. Saya belajar bahwa identitas diri adalah pondasi bagi keberhasilan. Semakin baik identitas dirinya maka semakin baik pula manusia memandang dirinya sehingga memudahkannya mencapai keberhasilan dalam kehidupannya. Nah pertanyaannya adalah dari mana identitas diri itu diperoleh?

Adalah Virginia Satir, seorang terapis keluarga yang sangat terkenal, yang juga menjadi salah satu model dikembangkannya NLP, menyatakan bahwa identitas diri diperoleh dari apa yang pernah mereka lihat, dengar, dan rasakan. Dengan demikian, perlakuan dari orang tua, guru, lingkungan, dan figur otoritas yang lain sangat berpengaruh pada tumbuh kembang psikologisnya. Ketika tetangga saya mengatakan ?cah picak kok arep dadi penyanyi?, kata-kata itu terekam ke dalam pikiran bawah sadar saya dan akhirnya menjadikannya sebagai belief system saya sehingga saya mempercayai bahwa memang saya tidak mungkin untuk menjadi penyanyi. Saya adalah salah satu dari sekian banyak kaum difabel yang sering mendengar labeling negatif dari lingkungan saya.  Labeling negatif yang saya maksud itu seperti julukan bodoh, bego, dan lain sebagainya. Namun saya beruntung karena orang tua saya dengan penuh kasih sayang selalu membesarkan hati saya, dan juga guru-guru yang telah membimbing saya, apalagi dengan menekuni bidang baru, yaitu ilmu NLP yang ternyata selain menjadikan saya bisa memodel kesuksesan orang-orang sukses, saya pun bisa mengajarkannya kepada orang lain ya itu dengan coaching music, parenting, dan mind technology yang saya tekuni hingga saat ini. Menariknya, bahwa ternyata dengan NLP saya juga bisa melakukan coach seorang atlit tenis nasional. Lalu bagaimana ceritanya seorang tunanetra bisa melakukan coach kepada seorang atlit tenis? Akan saya ceritakan pada artikel saya yang akan datang yang berjudul: dahsyatnya NLP untuk tunanetra.

Jadi bagaimana cara baru membangun identitas diri positif bagi kaum difabel yang dalam bidang pendidikan sering diistilahkan juga sebagai anak berkebutuhan khusus?

Pertama, sebelum anda menanamkan identitas positif pastikan bahwa identitas diri anda juga positif.  Kedua, selalu gunakan kata-kata positif, ketiga, pastikan kaum difabel merasa aman, dan merasa dicintai serta diterima apa adanya saat bersama anda. Semakin anda menerima mereka apa adanya maka sikap anda itulah yang akan menjadikan kaum difabel memiliki identitas diri positif.

Pembaca yang budiman, dengan melakukan tiga hal di atas, itu artinya anda telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kaum difabel. Tahukah anda bahwa jika kaum difabel tidak memiliki identitas positif maka tenaga kerja non produktif akan semakin bertambah? Dan itu artinya akan juga menambah beban negara. Dengan demikian kepedulian anda sangat kami harapkan.

Akhirnya, saya ucapkan terimakasih yang tak terhingga karena anda telah berkenan membaca tulisan saya ini, dan itu berarti anda telah juga membantu visi saya, yaitu gerakan revolusi mental kaum difabel. Semoga dengan mengamati dan peduli terhadap fenomena fenomena sosial, seperti ini menjadikan kita pribadi yang bertumbuh.

 

Agus Putranto

Inspirative Trainer of Music, Parenting, and Mind Technology

Leave A Reply

Your email address will not be published.