Berita Nasional Terpercaya

Berbekal Pengalaman, Wanita Ini Menjadi Pejuang Gizi Anak-Anak Desa

0

FLORES, HarianBenas.com – Memang selama ini sosok wanita lah yang di anggap sebagai pribadi yang rajin, ulet, teliti dan juga selalu belajar dari pengalaman yang telah mereka lalui. Jika kita berbicara mengenai belajar dari pengalaman, Fransiska Wuda merupakan salah sosok wanita yang juga belajar dari pengalaman khususnya terkait dengan mengurus anak-anak.

Dalam pengalamannya mengurus anak, beliau mengaku  belum memiliki gambaran yang jelas mengenai bagaimana cara mencukupi kebutuhan gizi sang anak pertamanya ketika baru lahir. Hingga akhirnya karena ketidak tahuannya dalam hal memenuhi gizi sang anak pertama, sang anak pertama pun tumbuh dengan memiliki tubuh yang khurus serta cara berpikirnya pun kurang begitu terampil ketika dewasa.

Belajar dari pengalamannya ini, wanita yang saat ini berkepala empat pun akhirnya untuk memutuskan mencari tahu bagaimana cara memenuhi gizi sang buah hati sejak masih dalam kandungan hingga akhirnya sang buah hati berusia dua tahun. Seiring berjalannya waktu, dengan bekal pengetahuan yang dianggap cukup ini,  beliau kemudian di utus oleh pemerintah desa yang ada untuk mengikuti beberapa pelatihan terkait dengan gizi anak, menjadi konselor bagi para orangtua yang memiliki masalah yang sama seperti yang dialami  dulu. Oleh karena pengalaman dan kepribadian yang mau belajar inilah yang membuat beliau dipilih menjadi kader posyandu dari tahun 1998 dan juga beliau dinobatkan menjadi kader terbaik menurut ?Wahana Visi Indonesia tahun 2010?.

Prestasinya tidak hanya itu saja, wanita yang berasal dari NTT ini pun juga sedang gencar-gencarnya mempromosikan pentingnya Seribu Hari Pertama kehidupan anak-anak di desanya sendiri yaitu Desa Tilang Kecamatan Nita yang berkabupaten di Sikka, Flores, NTT secara sukarela. Walaupun beliau melakukan dengan sukarela tanpa meminta imbalan apapun ini, beliau tetap merasa senang dan bangga telah mengambil jalan ini. Walaupun beliau merasa senang, namun bukan berarti apa yang dilakukannya tersebut tanpa kendala. Kendala yang dialaminya adalah seperti halnya ibu-ibu di desanya tersebut tidak mengerti tentang pentingnya apa yang telah beliau sampaikan.

Di sini, beliau menyimpulkan bahwa ibu-ibu belum memiliki kemauan yang kuat untuk menanggapi apa yang telah beliau sampaikan. Para ibu lebih cenderung suka menyajikan makanan dengan cara instan walaupun apa yang mereka lakukan ini kurang baik bagi tumbuh kembang sang buah hati karena terdapat pengawet di dalamnya sehingga dianjurkan untuk menggunakan bahan-bahan lokal tanpa pengawet saja.

Melihat hal ini, beliau memiliki harapan atas Indonesia. Berbekal dengan pengalaman dan pengetahuan yang didapat, beliau memiliki impian yaitu ingin melihat calon penerus bangsa ini memiliki pertumbuhan yang sehat, memiliki pola berpikir yang cerdas dan mental yang berkualitas untuk demi kemajuan Indonesia melalui calon generasi muda penerus bangsa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.