Berita Nasional Terpercaya

Bersih-Bersih Malioboro Harus Terprogram, Bukan Insidental

0

YOGYAKARTA, Bernas.id – Program ?Bersih-bersih Malioboro? setiap Selasa Wage yang dicanangkan Pemda DIY, menurut berbagai pihak belum menyelesaikan permasalahan.Fahmi Prihantoro, S.S, S.H, M.A, dosen di Departemen Arkeologi dan Prodi Pariwisata, FIB, UGM, saat dihubungi Bernas Selasa (26/9) mengungkapkan, PKL di Malioboro sangat perlu ditata secara fisik biar rapi dan indah. Tidak boleh ada tenda-tenda yang kumuh.

?Secara non-fisik harus dibina tentang kebersihan, khususnya makanan. Hal ini harus intensif. Perlu ada kawasan makan. Tidak di pinggir Malioboro, tapi di tempat khusus. Untuk PKL lain bisa dibuatkan gerai khusus yang didesain bagus tapi tidak permanen. Portabel. Saya pernah lihat di Singapura dan Serawak,? kata Fahmi.

Menyoroti soal kebersihan, Fahmi berpendapat Malioboro sebagai destinasi wisata perlu program pengelolaan kebersihan.

?Harusnya ini sistem yang terprogram, bukan kegiatan insidental. Harusnya ada pekerja khusus kebersihan,? ujar Fahmi yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Yogyakarta ini.

Fahmi juga menekankan perlunya pembinaan budaya bersih bagi pedagang. ?Untuk awal perlu ada pemantau kebersihan yang mengawasi perilaku pengunjung Malioboro tentang kebersihan. Intinya harus ada pekerja khusus yang bertanggung jawab,? ujar Fahmi.

Baca juga Malioboro, Kemana Ruhmu?

Tak hanya menyoroti tentang kebersihan dan keberadaan PKL, Fahmi juga menginginkaan adanya pusat informasi mengenai cagar budaya dan upaya pelestarian fasad bangunan lama. ?Bangunan baru harus menyesuaikan karakter bangunan lama. Perlu juga acara-acara edukasi heritage bagi generasi muda dan perlu ada pusat heritage Malioboro,? tandasnya.

Soal revitalisasi Malioboro, Fahmi menilai perlu berbagai sistem pendukung yang terorganisir dengan baik. Sistem pendukung itu meliputi pengelolaan kebersihan, pedestarian, perparkiran, informasi wisata, pelestarian cagar budaya, pertamanan dan penerangan jalan yang baik, penataan PKL, penataan baliho dan papan nama toko, event calendar yang menarik termasuk great sale, penataan arsitektur bangunan bagi yang mau bangun, dan pengelolaan bagi tukang becak dan andong.

?Revitalisasi sekarang lebih ke fisik. Sudah baik. Tapi perlu didukung sistem-sistem lain yang mendukung fisik tersebut,? ujarnya.

Pendapat serupa disampaikan Dr.Eng. M. Sani Roychansyah, dosen dan peneliti di Departemen Arsitektur dan Perencanaan, FT UGM. Saat dihubungi Bernas, Selasa (26/9), ia menyatakan penataan Malioboro saat ini sudah mengarah ke ideal. Malioboro harus bisa menjadi shared street yang bisa dimanfaatkan secara guyuboleh pedestrian (pejalan kaki) maupun kendaraan (terutama transportasi publik).

?Tentunya traffic calming juga harus diterapkan, sehingga suasana Malioboronya juga identik dengan keramahan Jogja bisa juga jalan,? ujar Sani.

Baca juga Hari Ini Kawasan Malioboro Sepi Pedagang Hingga Tukang Becak, Ada Apa?

Menurut Sani, dengan dana keistimewaan, pekerjaan yang dikomandoi PemprovDIY ini baru dalam taraf peletakan/penyiapan infrastruktur dan fasilitas yang terkait, belum pada tataran manajemen/pengaturan. Misalnya saja dengan animo masyarakat yang meningkat untuk menikmati Malioboro saat ini, tujuan mengembalikan Malioboro sebagai public space sudah baik. Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan pengaturan supaya masyarakat juga merasa nyaman. Misalnya, tidak overcrowded di beberapa tempat.

Mengenai penataan PKL, Sani berpendapat manajemen di atas tentunya juga mengatur kegiatan yang sesuai dengan peruntukan marwah Malioboro. ?PKL jelas perlu ditata, termasuk mungkin tema atau variasi jualannya. Dengan begitu Malioboro dengan panjang yang cukup potensial itu bisa rata kenyamanan, keramaian, dan livabilitasnya (daya hidupnya),? ujarnya.

Menyinggung soal kantong parkir di kawasan Malioboro, menurut Sani, saat ini perlu dievaluasi apa perlu ide penambahan lokasi parkir ini. Kajian perlu dilakukan, mengingat saat ini parkir tingkat yang ada saja tidak sepenuhnya full untuk dimanfaatkan. Dengan pengelolaan pemerataan nanti, tentu titik-titik parkir perlu disesuaikan dengan melihat kapasitas dan arus masuk pula.

?Beberapa kantong parkir di beberapa ruas jalan masuk dari Malioboro bisa dioptimalkan. Tapi tentu saja perlu diingat bahwa kawasan Malioboro, termasuk kawasan atau kampung-kampung di sekitarnya, itu juga perlu dikembangkan menyatu, bukan malah jalur utamanya rapi tapi kotorannya disembunyikan di belakangnya. Dengan begitu harus terintegrasi penataannya,? paparnya.

Sani juga berharap agar Malioboro mampu menjadi area pedestrian yang nyaman dan ramah. Ia menilai perlu dilakukan perencanaan yang sistematis dan integratif.

?Sistematis, mestinya tidak hanya menata fisiknya saja, tapi juga kegiatan termasuk manusia di dalamnya. Fisik sudah bagus misalnya, tapi perilaku masyarakat tidak mendukung, juga sama saja. Integratif, artinya sebenarnya menata Malioboro itu juga menata kawasan di sekitarnya, bahkan Jogja secara keseluruhan. Kita tahu Jogja itu kecil saja, hanya 35 kilometer persegi, dimana di kabupaten lain ini sama dengan satu kecamatan saja. Jadi fokus pada Malioboro saja tentunya tidak fair, karena sistemnya berantai, mengkait dengan area yang lebih luas,? ujarnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.