Berita Nasional Terpercaya

Peringkat Berapakah Indonesia di TIMSS?

0

Bernas.id – Data internasional disampaikan di awal karena kalau kita cermati siklus TIMSS selama 4 tahunan cukup memengaruhi pengambilan kebijakan kurikulum. Hasil tes TIMSS dari tahun ke tahun ini menunjukkan Indonesia berkomitmen untuk selalu membenahi kurikulum. Sejalan dengan salah satu tujuan TIMSS yaitu mengukur dampak kurikulum baru atau merangsang suatu negara untuk mereformasi kurikulumnya, terutama IPA dan Matematika.

TIMSS atau Trends in Mathematic and Science Study adalah sebuah riset internasional untuk mengukur kemampuan anak-anak kelas 4 dan kelas 8 di bidang matematika dan IPA. Berikut ini data dari tahun ke tahun:

Tahun 1995

Negara yang mengikuti TIMSS sebanyak 40 negara. Tim TIMSS menganalisa kurikulum pelajaran matematika dan IPA dari negara-negara peserta. Selain menganalisa kurikulum ,TIMSS juga menganalisa buku teks dan bahan lainnya. Hasil TIMSS dirilis pada tahun 1996 dan 1997, data ini memberikan informasi berharga kepada para pembuat kebijakan dan praktisi di negara-negara peserta tentang matematika, ilmu pengetahuan dan prestasi siswa mereka. Kemudian laporan tersebut diterbitkan secara lengkap yang berisi tentang teknis dan database internasional. Indonesia saat itu belum mengikuti TIMSS, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 1994 peralihan dari kurikulum 1984.

Tahun 1999

Negara yang mengikuti TIMSS sebanyak 38 negara salah satunya adalah Indonesia. Prestasi bidang Matematika dari siswa Indonesia pada tahun 1999 berada pada peringkat 34 dari 38 negara. Pengkajian TIMSS 1999 diambil dari sampel perwakilan siswa kelas delapan di kabupaten atau negara bagian. Pengkajian ini dilakukan pada saat yang sama oleh 38 negara dengan mengikuti panduan yang sudah ada. Saat itu kurikulum yang di pakai masih kurikulum 1994.

Tahun 2003

Hampir 50 negara dari seluruh dunia berpartisipasi dalam TIMSS 2003. Indonesia berada di peringkat 35. Hasil pengumpulan data dirilis 14 Desember 2004. Saat itu pemerintah mengambil kebijakan untuk merubah kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang lahir pada tahun 2004. Dua tahun berikutnya, tahun 2006, kurikulum itu berganti lagi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Nampaknya pemerintah saat itu terpengaruh dengan hasil TIMSS, hal itu bisa dilihat dari standar.

kompetensi IPA pada KTSP yang sangat mirip dengan domain ISI TIMSS yaitu life science, physical science, dan earth science.

Tahun 2007

Indonesia  berada  di  tingkat  36  dari  49  negara. Saat itu Indonesia baru satu tahun menerapkan kurikulum baru, sosialisasi dan distribusi buku teks belum merata. Sangat wajar apabila Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional.

Tahun 2015

Baru pada tahun ini Indonesia mengikutkan kelas 4 dan sebaliknya tidak mengikutikan kelas 8. Pengumpulan data untuk survei dilakukan pada bulan Oktober – Desember 2014 untuk negara-negara belahan bumi selatan, dan Maret – Juni 2015 untuk negara-negara belahan bumi utara .

Lagi-lagi Indonesia di urutan bawah. Skor Matematika 397, menempatkan Indonesia di nomor 45 dari 50 negara. Pada bidang Sains, dengan skor 397, Indonesia di urutan ke-45 dari 48 negara. Kalau bernalar dengan menggunakan data tabel/grafik hanya 4 persen benar.

Muatan kurikulum 2013 yang mentematikkan semua mata pelajarannya cukup memengaruhi perolehan skor TIMSS ini. Banyak pengamat pendidikan yang menyatakan bahwa tingkat kesulitan materi di kurikulum 2013 ini mengalami penurunan. Ada sisi positif dan negatif, positifnya adalah anak tidak terbebani, mengikuti KBM dengan enjoy. Sisi negatifnya adalah saat mengikuti riaet TIMSS seperti ini nilai mereka akan rendah.

Patut kita apresiasi langkah pemerintah yang mulai tahun ini mengeluarkan mata pelajaran matematika sebagai mapel terpisah yang berdiri sendiri.

Leave A Reply

Your email address will not be published.