Berita Nasional Terpercaya

Agar Pernikahan Dini Menjadi Solusi Tanpa Kontroversi, Siapkan Diri dengan Ini!

0

Bernas.id – Tantangan hati single zaman now lebih berat bila dibandingkan zaman old. Pergaulan bebas, adab terhadap lawan jenis yang tidak terbatas, percakapan sering menyalahi norma dan tatanan kehidupan beragama. Menurut bunda Rochma Yulika seorang pegiat dakwah dari Yogyakarta, salah satu solusi agar tak terperangkap dalam kenistaan adalah pernikahan dini. Ketika solusi itu diambil, bukan hanya serta merta anak usia lepas SMA ingin menikah, ada jodoh maka selesailah urusan. Tidak sesimpel itu.

Menikah bukan hanya melibatkan dua orang tetapi ada keluarga yakni ayah ibu dan keluarga besar juga. Atau sebaliknya hanya pihak orang tua saja yang ingin sementara anak tak ingin. Tugas orang tua yang utama itulah menyiapkan anak-anaknya untuk siap menikah di usia dini.

Tetapi ketika orang tua tak memahami hal itu maka butuh pendekatan yang lama. Maka kewajiban anak untuk harus menunjukkan kemampuan bersikap dewasa.

Mengajak orang tua berbicara sebagai permulaan sharing tentang pernikahan dini. Memberi contoh anak-anak ustad yang menikah dini. Atau mengajak mereka mengikuti kajian atau video tentang pernikahan dini sebagai solusi untuk menghindarkan diri dari segala fitnah dunia.

Ada hal yang perlu dipersiapkan secara pribadi ketika benar-benar mencitakan pernikahan dini, yaitu:

1. Kematangan konseptual dalam memahami paradigma keluarga dakwah itu seperti apa. Mengerti sejauhmana peran yang diemban ketika memasuki ranah keluarga sementara dirinya tetap harus berkiprah di jalan dakwah

2. Kematangan psikologis. Bahwa hidup kita itu tidak sendiri. Kita akan bertemu dengan pribadi yang belum dikenal sebelumnya bahkan keluarga yang memiliki latar budaya berbeda

3. Kematangan sosial. Belajar berinteraksi dengan orang lain menggunakan adab yang baik

4. Kematangan tentang ekonomi. Memiliki semangat kerja. Berusaha belajar mencari nafkah jika sebelumnya belum pernah bekerja

5. Kematangan agama. Memahami hal-hal pokok dalam beragama sebagai pedoman dalam menjalankan perannya sebagai hamba Allah

6. Kematangan emosi. Belajar mengontrol emosi diri karena kita tidak hidup sendiri tapi bersama. Mengurangi sikap yang meledak-ledak dan membuang ego.

Nah itu beberapa poin yang menjadi landasan membangun berkeluarga. Allah SWT berfirman, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan yang perempuan.” (QS. An Nur:32).

Hikmah disyariatkannya pernikahan adalah menciptakan keluarga yang sakinah dan memperoleh keturunan. Maka kemampuan menjaga keturunan tersebut juga dipengaruhi usia calon mempelai yang telah sempurna akalnya dan siap melakukan proses reproduksi.

Menurut syariat Islam, usia kelayakan pernikahan adalah usia kecakapan berbuat dan menerima hak. Islam tidak menentukan batas usia namun mengatur usia balig untuk siap menerima pembebanan hukum Islam. 

Leave A Reply

Your email address will not be published.