Berita Nasional Terpercaya

Kepala Desa yang Tak Tinggal di Desanya

0

Bernas.id – Sore itu, suasana di persidangan berakhir ricuh pada detik-detik terakhir. Namun, lelaki yang berjalan dengan diindungi beberapa lelaki tinggi besar lainnya adalah orang yang paling beruntung di antara semua yang hadir.
Ia baru saja selamat dari percobaan pembunuhan.
Meskipun pelipisnya masih dipenuhi peluh karena sisa-sisa ketegangan, raut wajahnya berganti menampakkan kemenangan. Bahkan, ia juga sempat tertawa dengan suara keras begitu sampai di ambang pintu ruang sidang.
Sekali lagi, lelaki itu hanya beruntung karena orang yang membawa senjata tajam dan hampir saja menikamnya tadi, diamankan oleh aparat.
Di sisi lain, banyak orang masih berteriak tak terima atas kepergian lelaki itu. Tangis mereka tak terbendung karena putusan pak hakim terasa sangat tidak adil. Tanah milik desa yang selama ini mereka perjuangkan, pada akhirnya jatuh ke tangan lelaki gila kuasa itu. Selama ini, kekuasaannya pun mungkin berkat menghalalkan segala cara.
Mungkin, lelaki yang telah duduk di kursi penumpang sebuah mobil sedan hitam dengan plat nomor warna merah itu belum menyadari. Bahwa karma berlaku tak pandang bulu.
***
Lima bulan yang lalu, situasi dan kondisi di Desa Kali Gedhe masih baik-baik saja. Para warga bersosialisasi dengan baik. Perekonomian berjalan lancar. Para petani menikmati hasil panen mereka dengan hati gembira. Para peternak juga sejahtera dengan adanya koperasi yang diinisiasi oleh Kepala Desa sebelumnya. Anak-anak kecil bermain layang-layang di pematang sawah dengan riangnya. Saat sore hari tiba, mereka akan bermain di sekitaran surau agar bisa melaksanakan jemaah salat Magrib bersama.
Para warga Desa Kali Gedhe merasa beruntung bisa hidup di desa tersebut. Jika diberi kesempatan untuk pindah ke kota pun, mereka enggan. Karena Desa Kali Gedhe adalah desa impian semua orang. Dalam kurun waktu dua tahun kurang lima bulan menjabat saja, Pak Darminto sudah menjadikan desanya sebagai salah satu desa terbaik di Kabupaten Manggilan. Namun, buah dari kerja keras itu rupanya tidak bertahan lama.
Pada bulan kelima menjelang berakhirnya masa jabatan Pak Darminto, ia mendadak divonis mengidap virus aneh yang belum ditemukan obatnya oleh dokter. Hal tersebut menyebabkan Pak Darminto tidak bisa menjalankan kewajiban sebagai Kades di Desa Kali Gedhe. Ia justru terbaring lemah tak sadarkan diri di rumah sakit. Para warga juga menjadi cemas karena kursi Kades kosong selama satu bulan terakhir. Pembangunan gedung serbaguna yang telah direncanakan pun terhenti karena belum adanya komando dari atasan.
Meskipun kegiatan warga tetap berjalan seperti biasa, lain halnya di Balai Desa. Para perangkat desa disibukkan oleh tumpukan surat masuk yang belum disetujui oleh Pak Kades, juga penyusunan jadwal acara yang melibatkan Pak Kades sebagai salah satu pembuka maupun pengisi acara. Mereka hampir menyerah dengan keadaan tersebut. Tidak ada kemajuan berarti yang dialami oleh Pak Kades dari penyakitnya.
?Kalau begini terus, lama-lama situasi desa kita bisa kacau! Satu bulan itu sudah cukup lama!? ucap Bu Kaur Perencanaan.
Para perangkat desa melaksanakan rapat khusus dan tertutup di Balai Desa.
?Betul. Meskipun peran beliau bisa digantikan sesekali oleh Pak Sekdes, tetapi kita tidak boleh terus-terusan seperti ini,? timpal Pak Kasi Pemerintahan.
?Seperti ini bagaimana? Toh, Pak Sekdes juga masih menyanggupi. Masa jabatan Pak Kades dan kita ?kan juga tinggal empat bulan saja!? seru Bu Kaur Keuangan membantah argumen Pak Kasi Pemerintahan.
?Memang betul, Bu Kaur. Namun empat bulan itu waktu yang sangat lama dengan kekosongan kursi Kades. Padahal, peran pemimpin itu sangat krusial bagi sebuah lembaga. Apalagi, kita ini lembaga pemerintahan. Selain itu, masih banyak program kerja kita yang juga belum terlaksana. Waktu empat bulan itu cukup untuk melaksanakan program kerja yang masih terbengkalai itu,? jelas Pak Kasi Pemerintahan tak kalah berapi-api.
?Baiklah kalau begitu. Jadi, bagaimana menurut Pak Sekdes?? Bu Kaur Keuangan terlihat mengalah dengan pernyataan Pak Kasi Pemerintahan. Semua ucapan beliau memang benar adanya.
Di sisi lain, Pak Sekdes justru terlihat diam dan berpikir keras. Ruangan rapat itu hening selama beberapa menit. Para perangkat desa menunggu jawaban Pak Sekdes.
?Mungkin sudah saatnya saya menggantikan Pak Kades.?
Ruangan yang semula hening itu tiba-tiba riuh oleh tepuk tangan para perangkat desa. Mereka semua bersuka cita dan menyalami Pak Sekdes yang mulai saat itu menjadi Kades. Namun, wajah Pak Kasi Pemerintahan justru datar tanpa ekspresi.
Pak Sekdes yang akhirnya menggantikan posisi Pak Darminto sebagai Kepala Desa Kali Gedhe itu bernama Amin bin Sarmin. Dedikasinya untuk pembangunan desa sudah ia mulai sejak lima tahun yang lalu. Karirnya sebagai bagian dari perangkat desa pun bisa dibilang merangkak dari bawah. Dulu, tugasnya hanyalah sebagai pembantu umum di Kantor Kecamatan. Namun, tak disangka tahun berikutnya ia diangkat menjadi salah satu perangkat desa, sehingga tempat kerjanya pun bukan lagi di Kecamatan melainkan di Balai Desa.
Seiring berjalannya waktu, nasibnya semakin membaik dan karirnya pun kian memuncak. Pada awalnya, banyak warga yang percaya pada Pak Amin karena kinerjanya memang bagus. Hal tersebut disambut baik oleh istrinya, yang sampai setelah suaminya dilantik menjadi Kepala Desa masih tetap dipanggil Bu Carik oleh para warga.
?Kayaknya, warga belum rela kalau sekarang aku jadi istrinya Pak Kades,? ucap istri Pak Amin kepada suaminya saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga pada malam Minggu.
?Ah, Ibu ini. Ya ?kan Bapak hanya menjadi pengganti sementara Pak Darminto. Kalau masa jabatan beliau habis, otomatis Bapak juga bukan Kades lagi. Udahlah, ndak usah dipikir.?
?Apa Bapak ndak kepengen nyalon Kades beneran??
?Hahaha. Ibu ini ada-ada aja, lho! Bapak itu sebenernya ndak bakat mimpin warga. Ini pun juga karena terpaksa.?
Pak Amin menyudahi tawanya melihat ekspresi sang istri yang justru datar dan seolah hendak menerkam.
?Apa Bapak pikir jabatan Kades itu buat bercandaan??
Pak Amin hanya menggeleng, tak berani menjawab lebih jauh.
?Kebutuhan kita makin banyak, Pak. Si Minah butuh uang buat biaya kuliah. Si Riski kepengen sepeda motor karena cuma dia yang berangkat sekolah masih naik angkot. Ibu juga butuh uang belanja buat masak dan lain-lain.?
?Apa yang Bapak berikan tiap bulan itu masih kurang??
?Kalau Bapak cuma jadi bawahannya Pak Kades terus, kapan kita bisa nabung buat yang lain-lainnya??
Tak ada jawaban dari Pak Amin selanjutnya. Sementara itu, istrinya berganti menatap sebal dan segera bangkit dari duduknya.
?Lho, Ibu marah?? tanya Pak Amin menahan tangan istrinya. Namun, Bu Amin menangkis tangan suaminya dengan secepat kilat. Lalu, ia melanjutkan berjalan menuju kamar.
?Hari ini Bapak tidur di luar!?
Pada malam Minggu yang semula hangat itu, Pak Amin kedinginan karena tidur di sofa ruang keluarga tanpa selimut atau kain sarung. Anak-anaknya juga tak berani keluar kalau ibu mereka sedang marah. Namun, kejadian itu memantik api yang perlahan membesar pada rumah tangga mereka. Sampai akhirnya, Bu Amin benar-benar mengancam suaminya.
?Kalau Bapak ndak bisa nurutin kata-kata ibu, mendingan saya cari Bapak baru buat anak-anak.?
Kata-kata itu bagaikan sambaran petir di siang bolong. Pak Amin di ambang perasaan dilema luar biasa. Jabatan Kades tak lagi istimewa di matanya. Pada saat seperti itu, sebenarnya ia lebih memilih kehilangan jabatannya saja, daripada keluarganya. Namun, jika demikian yang terjadi, bisa-bisa ia justru tak akan mendapatkan dua-duanya.
?Beri Bapak waktu, Bu.? Itu janjinya pada diri sendiri.
Sejak hari itu, Pak Amin sering melampiaskan kemarahannya di tempat kerja. Ia berubah menjadi manusia berdarah dingin yang seolah tak punya perasaan terhadap orang lain. Orang-orang yang dulu menganggap Pak Amin sebagai sosok yang pantas menggantikan posisi Pak Darminto pun, mulai berkurang satu per satu. Namun, masih ada juga orang-orang yang mendukung Pak Amin untuk mencalonkan diri sebagai Kades pada periode berikutnya. Kebanyakan dari orang-orang itu, sering mendapat traktiran atau uang saku dari Pak Amin.
Lambat laun, hubungan Pak Amin dengan istrinya semakin membaik. Ia juga telah membelikan anak laki-lakinya sepeda motor. Istrinya bahagia. Mereka kembali menjadi keluarga harmonis. Namun, di sisi lain, para warga banyak yang tidak terima dan suasana desa menjadi kacau.
Salah satu penyebabnya ialah laporan yang menyebutkan bahwa tanah desa yang rencananya akan dibuat gedung serbaguna, justru dipasang pathok-pathok dari batang pohon ketela. Selain itu, ada orang-orang tinggi besar?yang bukan warga Desa Kali Gedhe?yang setiap hari menjaga tanah itu. Kecurigan warga tak terelakkan lagi.
Kades sementara itu mencuri tanah warga!
Begitulah spekulasi yang berlaku. Namun, saat masa jabatan Pak Amin tinggal satu bulan lagi, sesuatu yang tak terduga terjadi.
***
?Terima kasih atas kerja samanya, Pak. Berkat bantuan Anda, kami jadi bisa melaksanakan tugas dengan baik.?
?Sama-sama. Itu sudah tugas saya, Mas.?
Laki-laki muda berseragam perawat itu menjabat tangan laki-laki yang berseragam khaki di depannya. Jika dilihat-lihat, mereka seperti bapak dan anak. Perawat itu anaknya. Mereka saling tersenyum satu sama lain.
?Baik, Pak. Kalau begitu saya izin pamit dulu,? ucap si perawat yang hendak beranjak dari tempatnya.
?Eh, sebentar dulu, Mas. Saya mau tanya, sebenarnya bagaimana kondisi Pak Amin yang sebenarnya?? tanya laki-laki berseragam khaki itu menahan si perawat.
?Oh. Sampai detik ini, kami masih menganalisis pasien serta trauma yang dialaminya. Namun, beliau sering menyuruh pasien lain untuk memanggilnya Pak Kades.?
Laki-laki berseragam khaki itu menahan tertawa sebisa mungkin.
?Hahaha, dasar halu,? gumamnya. ?Oh, iya. Sampaikan salam saya pada istrinya juga, ya,? ucapnya pada si perawat. Perawat itu hanya tersenyum lalu kembali izin pamit.

“Oh ya. Ngomong-ngomong, selamat juga atas dilantiknya Pak Kasi Pemerintahan, eh maksud saya Pak Irwan sebagai Kades baru di Desa Kali Gedhe,? ucap si perawat lalu berjalan menuju mobil yang bertuliskan ?Ambulance Rumah Sakit Jiwa CEMPAKA?.

?Hehehe. Sama-sama, Mas. Hati-hati di jalan, ya, Mas.?
***

Sejak kemenangan kasus Pak Amin di persidangan itu, banyak warga yang tak terima dan nekat membakar rumah Pak Amin dan istrinya. Semua yang mereka punya habis dilalap si jago merah. Meskipun tak ada korban jiwa setelah kejadian itu, tetapi tak ada lagi harta mereka yang tersisa. Orang-orang yang dulunya menjilat Pak Amin, ikut-ikutan pergi dari sisinya. Ia dan istrinya menjadi tidak waras. Sementara itu, anaknya dikirim ke panti asuhan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.