Berita Nasional Terpercaya

Jalan Unik Kebahagiaan Seorang Sopir pada Masa Pandemi Covid-19

0

Oleh:  Sudjarwadi

Suatu saat Situtena merenungkan keadaan keluarga dan masyarakat yang mengalami banyak perubahan setelah pandemi virus Covid-19 di berbagai penjuru dunia. Sudah tujuh bulan Situtena tidak bepergian jauh ke kota lain seperti masa sebelum hadirnya virus Covid-19.

Berbagai pertemuan tatap muka di berbagai kegiatan sangat jarang oleh karena tergantikan dengan pertemuan virtual yang menggunakan aplikasi Zoom. Situtena mempunyai sopir muda yang mempunyai dua anak, yang paling besar sudah kuliah di perguruan tinggi pada semester tiga. Sesudah banyak wilayah dinyatakan ?merah?,  Situtena sangat jarang bepergian dan bila ingin bepergian sebenarnya dapat dengan mudah menggunakan Gocar atau Gojek. Ada pilihan, sopir muda diberhentikan atau terus  dipekerjakan.  Situtena merenungkan kehidupan seorang sopir yang harus menjalani hidup bersama keluarganya agar tidak terjatuh dalam ketidakpastian yang mungkin juga  penderitaan. Situtena tidak ingin berpikir sendirian, namun bersama istrinya, Yatica.

?Yat, kita duduk-duduk di depan yuk, cari udara di halaman, lebih segar dibanding di kamar,?  ajak Situtena kepada istrinya, Yatica.

?Ingin sambil bicara apa, Kek?,? tanya Yatica

?Saya ingin membicarakan sopir muda kita, pekerjaan menyopir sangat berkurang, sebaiknya bagaimana ya?,? jawab Situtena.

Mereka berdua pergi ke serambi depan. Di serambi, Yatica menyampaikan gagasannya kepada Situtena. Intinya Yatica ingin si sopir tetap bekerja sebagai sopir dengan waktu luang setiap harinya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.

Mendengar perkataan Yatica, Situtena ingat tentang tradisi suatu bangsa yang penduduknya terbiasa rajin bekerja, yaitu bangsa Jepang. Situtena bercerita kepada Yatica bahwa dia pernah membaca tradisi orang Jepang dalam memilih pekerjaan  yang disebut dengan mindset IKIGAI. Situtena mengajak Yatica mencipta lingkungan kerja si sopir di rumahnya agar sopir menjadi multitasking dan dilandasi dengan mindset IKIGAI. Pembicaraan Yatica dan Situtena telah mencapai kesimpulan langkah ke depan untuk mengedukasi si sopir, yaitu 1) multitasking, 2) IKIGAI.

Sopir muda berasal dari kampung pinggiran kota. Kalau kerja gotong-royong di kampung, dia dikenal dapat melakukan pekerjaan tukang. Dia juga bisa mencangkul. Dapat disimpulkan memiliki kemampuan multitasking. Pekerjaan untuk dia yang dirancang cocok bukan hal sukar karena setidaknya dia bisa menyopir mobil, pekerjaan tukang, mencangkul, dan tentu bisa diajak menebang pohon seperti yang diajarkan pada Situtena masa SMP dulu sebagai pandu, yang masa sekarang disebut pramuka. Terlintas pertanyaan dalam pikiran Situtena tentang bagaimanakah caranya menanamkan mindset IKIGAI agar terinternalisasi dalam diri si sopir?

Prinsip utama IKIGAI hanya empat poin. Pertama, kamu suka, semangat mengerjakan (you love). Kedua, dunia membutuhkan, katakan masyarakat atau bangsa membutuhkan (world need). Ketiga, kamu bagus pada urusan yang kamu suka tersebut (you good at). Keempat, kamu bisa dibayar atau mendapat uang dari pekerjaan yang kamu suka (you can be paid). Empat poin saja, tidak lebih. Semestinya tidak sulit ditindaklanjuti.

Situtena merenung, dan akhirnya menemukan cara yang dia yakini dapat dipraktikkan untuk menanamkan mindset IKIGAI dalam diri sopirnya yang muda. Usia sopirnya menjelang empat puluh tahun dan sudah punya anak yang kuliah pada semester tiga. Situtena sudah paham tentang kebutuhan sopir, sebut nama dia pak Pebiba, butuh biaya untuk penyelesaian kuliah anaknya nomor satu dan sekolah anaknya yang nomor dua.  Ketika masih penuh waktu melakukan tugas tunggal sebagai sopir (single tasking) kebutuhan tersebut sudah dipenuhi. Tentu Situtena bisa melanjutkan pemenuhan kebutuhan biaya tersebut, membayar pak Pebiba. Disimpulkan bahwa dari empat poin tinggal tiga lagi,  yaitu bekerja dengan rasa cinta, merasa dibutuhkan, dan bisa mengerjakan dengan baik tugasnya pada kualitas tinggi, semua tugas, multitasking.

Dari tiga poin tersebut Situtena piawai menjelaskan kepada orang lain bahwa atas keadilan Tuhan, tiap orang itu dilahirkan dengan bawaan potensi genius. Everyone is born a genius (kata Fuller). Makin mantap percaya diperkuat dengan hal yang dikatakan Einstein bahwa orang dapat menjadi genius pada bakatnya. Masih diperkuat lagi dengan makna dari kisah Thomas Alva Edison dan Helen Keller yang sangat terkenal. Situtena mempercayai tiap orang punya potensi genius, kepercayaan makin diperkuat setelah meramban di Google tentang kisah Thomas Alva Edison dan Helen Keller. Situtena yakin dapat membangkitkan bakat pak Pebiba dengan menjelaskan kisah-kisah tersebut dengan bumbu-bumbu dalam tataran bahasa keseharian pak Pebiba.

Naah, dari empat poin tersebut telah berkurang menjadi tiga poin yang perlu didalami, dan berkurang lagi menjadi dua poin saja, yaitu 1) bekerja dengan cinta, dan 2) merasa dibutuhkan oleh masyarakat, oleh bangsa, oleh dunia. Mengedukasi dua poin berikutnya tersebut mudahkah? Mudahkah mengembangkan mindset pak Pebiba agar bekerja dengan cinta dan merasa dibutuhkan oleh masyarakat?.

Tidak mudah bila belum ditemukan caranya. Kalau cara yang tepat telah ditemukan tentu tidak sulit, tinggal memerlukan kesabaran dan ketekunan agar dapat mengikuti ?hukum pertumbuhan? dengan sebaik-baiknya. Tanaman bisa tumbuh, demikian juga mindset dapat tumbuh. Bisa dirawat, disuburkan, dijaga dari serangan hama dan penyakit.

Singkat cerita Situtena menemukan cara sesuai tingkat pengetahuan dan keterampilan bimbingannya, yaitu pak Pebiba. Setelah komunikasi tentang IKIGAI, pak Pebiba bersedia melakukan multitasking dengan cinta dan mantap merasa berguna bagi masyarakat.  Dia sehari-hari kelihatan mantap, rajin, dan gembira. Situtena berhasil menumbuhkan keyakinan dalam diri pak Pebiba bahwa tiga tahun lagi pak Pebiba sudah siap dan berani ceramah apa adanya tentang pengalamannya, bagi orang lain, berguna bagi masyarakat luas. Pak Pebiba membuat rencana mengolah pekarangan Situtena pada waktu tidak ada tugas menyopir mobil. Dia merasa yakin akan mendapatkan tambahan penghasilan dan dibagi dengan Situtena.

Para pembaca tentu banyak yang lebih piawai dibanding kakek Situtena dalam hal mengedukasi lulusan-lulusan SMA seperti halnya pak Pebiba. Setiap mengantar Situtena dan perlu menunggu sekitar dua jam, Pebiba belajar dari bermacam video lewat HP yang dia bawa. Dia membawa catatan dan menuliskan hal-hal yang dia yakini dapat meningkatkan mutu praktik pekerjaan yang dia ciptakan sendiri dalam pengolahan pekarangan.

Para pembaca dapat menemukan banyak lulusan SMA yang seperti pak Pebiba dan mencipta banyak cerita sukses nyata. Cerita sukses nyata tersebut akan menjadi rujukan masyarakat, dan masyarakat menjadi makin sukses, makin sejahtera. Selamat menemukan jalan masing-masing. Semoga lancar dan berlimpah berkah dari-Nya ?..

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.