Berita Nasional Terpercaya

Kupu-kupu di Atas Candi dan Sebait Puisi Inkarnasi

0

Bernas.id

 

Hormat setinggi-tingginya kepada Biyung Dyah Kbi dan Eyang Mpu Sindok.

 

Ambang pintu malam. Matahari nyaris rebah di tapak kaki langit. Gerimis mengusap senja, mengabarkan bahwa semesta masih ada dan mencintai keseimbangan. Ada perputaran waktu dari terang menjadi petang. Ada pertukaran peran antara Hyang Batara Surya dengan Hyang Batara Candra. Seperti halnya pada senja kali ini, gerimis menyeimbangkan alam dengan menggantikan peran terik dan panas. Sesekali, ia yang turun membasahi Jayastambha disertai lukisan cahaya putih menggores jubah langit.

Orang-orang Jawa menyebut cahaya itu dengan nama thathit. Isyarat bahwa semesta sangatlah perkasa. Aku dan Sul masih duduk di kaki sebuah candi. Membiarkan gerimis habis. Membasahi kaki candi dan tubuh kami. Aku sengaja tak ingin melewatkan setiap tetes air itu. Cukup lama. Hingga lampu yang hanya terpasang satu titik di pelataran candi menyala. Sayangnya lampu itu tak mampu menjadi penerang. Pelataran pelan-pelan digerayangi gelap. Beluntas yang memagari candi tampak malas, sunyi, memanjang dan melingkar.

Namun, di kesunyian itu sesungguhnya tatapan Sul terlihat sedang mengembara, sambil memandang lukisan di kanvas langit. Entah kepada kenangan tentang perang atau cinta.

Senja ini adalah senja ketika aku mengajak Sul kali pertama ke Jayastambha setelah sehari sebelumnya kami singgah di kampung halamanku, Kedung Pingit?sebuah desa di kaki Gunung Pandan. Perempuan yang aku kenal di Taman Budaya Surabaya itu seperti menyihir pikiranku. Sul adalah penulis geguritan yang setiap akhir pekan mendeklamasikan sajak-sajaknya di sana. Hal sama yang juga aku lakukan. Dari kebiasaan itulah semua bermula.

Sul pernah menulis geguritan tentang kisah Dyah Kbi?istri Maharaja Mpu Sindok, penguasa Medang i Tamwlang. Juga geguritan yang dia sebut intertekstual dari batu tulis Cunggrang. Sul mengaku seperti hadir kembali di masa lalu setiap kali mengingat sosok Dyah Kbi.

Entah kebetulan atau memang sudah digariskan takdir semesta, aku menunjukkan beberapa kakawin kepadanya. Kakawin yang kutulis sebagai syair puja kepada Maharaja Mpu Sindok. Sul mengaguminya, sebagaimana aku mengagumi geguritangeguritan tulisannya.

?Di Jayastambha ini, dulu aku pernah menulis sebuah prasasti,? ucapku membuka percakapan.

?Ya, aku mengingatnya. Banyak kupu-kupu terbang di atas puncak candi. Tariannya menyusup ke dalam setiap sembahyangku,? balas Sul, lalu pandangannya menyasar ke reruntuhan kaki candi yang terbuat dari terakota. Pada salah satu sisi kaki candi itu, dia juga katakan dulu sering bersandar. Barangkali persis dengan yang kami lakukan saat ini.

Udara mulai dingin. Untuk mengusirnya, aku mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana, kemudian menarik sebatang lintingan daun tembakau itu. Sebuah pemantik api membuatnya mengepulkan asap dari mulut, masuk dan keluar paru-paruku. Asap itu melayang di udara yang basah. Seperti juga kabut yang pelan-pelan muncul di kedua bola mata Sul. Melayang, naik, kemudian hilang begitu saja. Serupa kenangan yang sering kali kutanyakan kepadanya. Ke mana sesungguhnya kabut menghilang, ke manakah kenangan lenyap. Sering kali Sul hanya menjawab dengan cara menunjukkan keberadaan candi ini.

Beberapa helai rambut menerobos batas kerudung Sul. Garis-garis hitam lembut itu begitu tegas pada pipinya. Sementara di langit, garis-garis putih dari thathit tampak enggan berhenti. Gerimis juga mulai digerayangi angin, berembus di langit maupun di bumi, di kaki candi maupun di hati kami. Lampu pelataran candi tetap temaram. Beberapa pengunjung kompleks candi mulai melangkah pergi. Tetapi tidak bagi kami.

Jayastambha semakin sunyi, tetapi terasa menyimpan banyak arti. Kenangan. Sementara aku dan Sul ada dalam arti kenangan itu. Menjadi pelaku dan saksi dari tumpukan batu-batu candi yang kini teronggok mengenaskan.

?Tuliskan ke bait-bait kakawin-mu. Barangkali saat ini kau sedang menemukan gagasan kakawin dari kenangan tentang bangunan suci ini,? pinta Sul. Matanya jauh menerawang. Mungkin mengembara. Menerka-nerka, sedang di alam mana sebenarnya kami saat itu.

Sesaat aku diam. Sesungguhnya aku meraba kegelisahan dari tatapan matanya. Akar dari bait-bait kakawin-ku dulu.

?Masa itu telah usai pada sajak-sajak yang telah lewat. Aku tak bisa lagi menulis kakawin sejak berabad-abad lalu. Seluruh kakawin-ku terpasung oleh waktu. Tentang perih perang, tentang manis cinta.?

?Kini aku telah hidup lagi. Kau juga hidup lagi,? sela Sul. ?Oh, aku lupa. Bukankah kakawin tak bisa purba oleh masa??

?Iya. Kau mengingatnya??

?Yang aku ingat hanya kisah kita.?

?Kisah atau kesah??

?Pada setiap kakawin-mu, aku memeluk kebahagiaan. Pada setiap bait-baitmu kutemukan bait-bait kisah dan kesahku.? Sul merapikan garis-garis rambut yang keluar dari kerudungnya. ?Abadikan aku pada bait-bait kakawin-mu.?

?Kau sudah abadi dalam kisah Dyah Kbi.?

?Kau hanya menghiburku.?

?Kau tahu? Aku selalu menyukai kupu-kupu itu. Konon, jika mereka terbang di candi ini, maka Biyung Dyah Kbi dan Eyang Mpu Sindok sedang ada di sini. Di tempat yang bukan hanya menjadi simbol kebesaran Medang di masa silam, tetapi juga simbol lahirnya wangsa baru dari pernikahan keduanya. Anehnya, aku tak pernah bisa merangkainya menjadi kata-kata pada kakawin,? lanjutku. ?Ah, sudahlah. Aku hanya ingin menikmati pertemuan kita kembali hari ini. Di tempat ini. Sebab candi ini menyimpan banyak kenangan,? lanjutku.

Kali ini Sul tersenyum, seperti ingin menyudahi percakapan dan kembali sama-sama hening dan sunyi. Seperti beluntas itu, seperti tumpukan runtuhan terakota itu.

Gerimis hanya tinggal bekasnya, memucuk di daun-daun kepuh yang tumbuh di pelataran candi. Bulan mulai merayap di langit yang tak lagi dihalangi mendung. Satu per satu, bintang juga mulai berkerlip, tepat di atas puncak candi.

?Untuk apa kau mengajakku ke candi ini??

?Sebab aku ingin kembali menulis kakawin kisah kita.?

?Kapan??

?Sekarang.?

?Aku tidak melihatmu menulis sejak tadi.?

?Sudah usai segala perang, maka yang akan kau temui hanya kisah Dyah Kbi dan Sindok.?

Aku berdiri. Sul mengikuti. Lalu kami berjalan mengitari sisa-sisa Jayastambha?bangunan yang pernah berdiri menandai lahirnya wangsa Isana.

?Bacakan untukku,? pinta Sul.

?Aku menghalau sekawanan ulat jati dari hutan Gunung Pandan, mereka menjadi kepompong di lembah hatiku, untuk bermetaformosis sebagai kupu-kupu di candi ini. Telah kuletakkan segala kesah dalam doamu, telah kau baca seluruhnya, kakawin-kakawin-ku hadir lagi. Di garba griha candi ini kubisikkan semuanya, perang dan cinta. Kini bait-bait kembali bermunajat dalam setiap utas uratmu,? bisikku.

Sepasang kupu-kupu terbang di atas Jayastambha. Sul menyandarkan tubuh pada dinding candi yang telah lapuk dimakan usia. Memungut sehelai daun Kepuh yang gugur diterpa embusan angin bulan Caitra. Seperti ada sesuatu yang ingin dia ulang kembali. Entah apa. Sebab kenangan bisa hadir kapan saja. Di mana saja. Berinkarnasi kepada raga siapa saja. (*Heru Sang Amurwabumi)

 

Catatan:

Hyang Batara Surya = Dewa Matahari.

Hyang Batara Candra = Dewa Bulan.

Jayastambha = Candi yang dibangun sebagai tugu kemenangan oleh Mpu Sindok, untuk menghormati para kusuma Medang i Tamwlang yang memukul mundur pasukan Melayu di Desa Anjuk Ladang. Sekarang dinamakan Candi Lor.

Thatit (bahasa Jawa) = Petir.

Terakota = Batu bata merah.

Geguritan = Puisi berbahasa Jawa baru.

Cunggrang = Prasasti dari masa Medang yang ditemukan di Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Menyebutkan bahwa permaisuri Mpu Sindok bernama Dyah Kbi.

Kakawin = Puisi berbahasa Kawi atau Jawa Kuno.

Garbha griha = Ruang utama candi.

Caitra = Nama salah satu bulan pada kalender Jawa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.