Berita Nasional Terpercaya

Sebuah Perjanjian yang Membawa Petaka

Bupati Sleman – 17 Agustus 2022
0

Bernas.id – Ini sudah hari ketujuh. Mestinya makhluk yang dulu dipuja bapak itu akan datang menemuiku. Aku sudah melakukan ritual seperti yang disarankan: mandi dengan bunga tujuh rupa dan berdiam diri di pancuran sungai ini mulai jam sepuluh malam hingga jam tiga dini hari sambil merapal mantra. Tidak mudah. Namun, aku terpaksa melakukan semua ini demi keluargaku.

Jam dua lewat lima belas menit. Belum ada tanda-tanda makhluk itu akan muncul. Sambil menunggunya, aku membuka ingatan masa lalu keluargaku. Saudaraku ada tujuh orang, sekarang mereka sudah dewasa, ada yang sudah memiliki cucu. Mereka hidup berkecukupan, usaha mereka juga lancar. Mereka hidup bahagia. Namun, mereka lupa dengan bapak dan ibu yang masih tinggal bersamaku, karena aku adalah anak bungsu.

Usia bapak mungkin sekitar 80 tahun. Dia tidak bisa mengingat tanggal dan tahun berapa dirinya dilahirkan. Bapak menjalin kerja sama dengan makhluk yang akan kutemui ini, sejak usiaku menginjak lima tahun. Dua puluh lima tahun lamanya, bapak menjadi tumbal pesugihan atas keinginannya sendiri, demi membesarkan kami. 

Menurut cerita ibu, saat itu keadaan kami sangat sulit. Kami tinggal di kandang sapi milik kakak kandung bapak. Sementara bapak bertugas merawat sapi-sapi milik saudaranya. Ibu juga bekerja sebagai pembantu. Namun, saudara bapak?yang biasa kupanggil Pakde Kastardji?suka bertingkah semena-mena terhadap keluarga kami. Kakak-kakakku kadang disuruh membantu di sawah, dengan upah satu kali makan dengan lauk ikan asin dan sambal. Gaji Bapak sering tak dibayar tepat waktu, padahal Bapak sangat butuh untuk kebutuhan juga biaya sekolah kakak-kakakku. 

Keadaan makin buruk ketika kakakku yang nomor tiga tertangkap basah mencuri nasi di dapur pakde Kastardji. Bude Partiyah?istri Pakde?marah dan mengusir kami semua. Sebagai saudara, bapak sudah memohon maaf dan berjanji kalau kakakku tidak akan mengulangi lagi. Namun sepertinya, tak ada lagi rasa iba di hati Pakde Kastardji. 

Kami sekeluarga terlunta-lunta. Kadang kami menginap di masjid atau langgar, kadang juga bermalam di kebun kosong, di bawah pohon besar.

***

Jam dua lewat tiga puluh menit. Hawa Kedung Pingit mulai tidak enak. Pengap dan sunyi. Binatang malam yang sebelumnya masih bersuara, tiba-tiba seakan lenyap begitu saja. Namun, aliran sungai yang semula tenang, kini berkecipak seakan-akan ada yang ingin muncul dari dasar.

Tiba-tiba aku mencium bau aneh. Aromanya seperti darah, lendir, kotoran, dan daging busuk yang bercampur jadi satu. Mual. Seluruh isi perut rasanya terdesak naik ke kerongkongan. Jika saja bukan karena teringat keluarga, mungkin aku sudah lari terbirit-birit dan pulang.

Makhluk itu akhirnya muncul dari dasar sungai. Kupikir sebelumnya, dia hanya berwujud katak raksasa biasa. Ternyata aku salah. Wujudnya jauh lebih menjijikkan dari makhluk menjijikkan mana pun yang pernah kulihat sebelumnya.

Dia setengah manusia, setengah katak. Ah, entah. Aku bingung menyebutnya seperti apa. Kepalanya mirip katak. Begitu juga tangan dan kakinya. Namun, bentuk tubuhnya tegap seperti manusia. Dia berlendir dan beraroma seperti selokan penuh sampah dan kotoran.

Tubuhku gemetar. Jantungku seakan mau meledak. Sempat aku hampir menyebut nama Tuhan, tapi aku langsung teringat tujuan utamaku berada di sini. Kata bapak, jika aku berhasil bertemu makhluk itu, jangan sampai menyebut nama Tuhan, supaya dia tidak berbalik badan dan pergi lagi. Itu tidak boleh terjadi! Aku butuh dia. Saat ini.

?Ana opo kok ngundang aku? Pengin opo??1 tanya makhluk itu.

Aku ingin segera menjawab, tapi tenggorokanku rasanya tercekat. Bagaimana ini?

?Yen kowe ora ngomong opo karepmu, aku bakal mulih wae!?2 Suara makhluk itu terdengar menggelegar dan seperti merontokkan seluruh tubuhku.

Aku terduduk dan berlutut di batu tempatku berdiam selama tujuh malam berturut-turut. Tanganku terangkat menangkup di dada. Aku harus memohon. Harus! Ini semua demi keluargaku.

?Saya mohon … Mbah …? ucapku terputus-putus karena mengatur napas dan degup jantung yang sulit terkendali.

?Kowe pengin sugih??3

Spontan aku menggeleng. ?Bukan … saya ingin … memutuskan perjanjian gaib Bapak saya dengan Kyai,? ucapku dengan suara bergetar.

Makhluk itu tertawa. ?Dulu, bapakmu sendiri yang menyanggupi persyaratan dariku. Kenapa sekarang dia ingin berhenti? Sudah bosan jadi kaya??

?Bukan … saya tidak tega melihat kondisi Bapak saya yang semakin mengenaskan.? Aku terisak. Teringat Bapak di rumah dengan tubuh penuh lendir terbaring di atas kasur. Tak ada yang sudi berdekatan dengannya lama-lama karena bau Bapak sangat amis dan busuk. Hal itu sudah berjalan puluhan tahun. Kalau saja ajal bisa segera datang menjemput, mungkin Bapak tidak akan menderita selama itu.

?Tolong, Mbah … Bapak saya sudah terlalu tua. Saya ingin Bapak bisa pergi dengan tenang.?

Makhluk itu tertawa lagi. Suaranya seakan membelah langit. Namun, aku sudah tidak terlalu takut seperti tadi. Meski demikian, jantungku masih berdegup kencang dan sulit dikendalikan.

?Yen bapakmu dakjupuk, opo kowe lan keluargamu wis saguh urip melarat salawase??4

Aku terdiam. Bayangan saudara-saudara, keponakan, juga cucu dari kakak-kakakku yang semula terbiasa hidup mewah akibat pengorbanan Bapak, tiba-tiba jatuh miskin, membuatku tak tega. Akan tetapi ….

?Saya sanggup. Saya tidak mau Bapak menderita lebih lama lagi.?

?Yo wis, yen iku panjalukmu.?5

Makhluk itu membalikkan badan, lalu menenggelamkan diri ke sungai lagi. Sialnya, bau aneh dari tubuhnya, masih tertinggal di hidungku. Namun, hatiku lega. Bapak sudah tidak akan menderita lagi, setidaknya di dunia.

*

Sampai rumah, aku mendengar Ibu menangis dan meneriakkan nama Bapak berulang-ulang. Aku segera mendekat ke kamar belakang tempat Bapak biasa terbaring tak berdaya.

?Bapakmu dimakan katak, Dir. Bapakmu digerogoti katak sampai habis dagingnya. Bapakmu ….? ucapan Ibu terputus oleh isak tangisnya yang semakin terdengar memilukan.

Aku menghela napas panjang, lalu mencoba memejamkan mata Bapak yang masih terbuka lebar. Ini yang terbaik. Perjanjian Bapak dengan Mbah Soma sudah berakhir. Lebih baik Bapak pergi daripada menderita lebih lama lagi demi anak-anaknya.

Aku keluar kamar, membiarkan ibu meluapkan kesedihannya karena kehilangan bapak. Dulu, ibu tidak tahu kalau bapak mengorbankan diri demi keluarganya bisa berkecukupan. Ibu mengira, bapak hanya sakit biasa. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan harta yang tiba-tiba datang dari mana saja menghampiri keluarga kami. Karena itulah, akhirnya ibu meminta bapak mengaku.

Kami semakin kaya, sedangkan bapak semakin menderita. Lendir dan nanah terus mengalir dari tujuh lubang di kepalanya. Sementara dari pori-pori kulit tubuh bapak, selalu mengeluarkan keringat berbentuk cairan bening kental berbau ikan dari selokan. 

Kakak-kakakku sukses dan memiliki banyak usaha. Semakin dewasa dan bisa hidup mandiri, mereka meninggalkan bapak dan ibu denganku. Mereka hanya datang saat kehabisan uang. Hal itu juga yang membuatku memutuskan untuk mengakhiri perjanjian bapak dengan Mbah Soma. Sudah cukup mereka hidup enak. Nanti anak keturunan mereka akan lebih menderita lagi jika ini tidak segera diakhiri.

*

Kakak-kakakku datang ke pemakaman Bapak. Aku terpaksa membayar mahal orang-orang untuk mengurus jenazah Bapak. Orang-orang yang datang bertakziah, tak ada yang kuat mencium aroma tubuh Bapak meskipun sudah dimandikan berkali-kali. Aroma kapur barus juga bunga-bunga, tak mampu mengalahkan bau amis dan busuk yang menguar dari tubuh Bapak.

Usai pemakaman, kakak-kakakku langsung menodong Ibu, meminta warisan. 

?Keterlaluan kalian! Tanah kuburan bapak kalian belum kering, tapi kalian sudah minta jatah! Anak macam apa kalian ini?!?

Aku hanya terdiam di sudut ruangan. Ternyata benar, harta yang didapat dengan cara yang tidak baik, lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Kakak-kakakku yang sudah dibutakan harta, tetap memaksa ibu untuk membagi tanah dan bangunan yang didapat ketika bapak masih hidup. Mereka sepertinya tidak menyadari kalau selama ini harta kekayaan yang mereka dapat adalah hasil dari pengorbanan bapak.

Akhirnya setelah ibu membagi semua sertifikat tanah dan bangunan, mereka langsung pulang. Sementara aku masih harus menghibur ibu yang tak mau makan karena teringat bapak. 

?Bapakmu orang baik, Dir. Sayangnya, dia memilih keputusan yang salah …? racaunya sambil terisak.

Aku tahu, bapak memang orang baik. Namun, baik saja tidak cukup. Bapak sudah melakukan dosa besar: bersekutu dengan setan.

*

Tiga hari setelah kepergian bapak, aku mendapat kabar bahwa rumah dan toko milik kakakku yang pertama terbakar habis. Kebakaran itu terjadi saat tengah malam. Anak dan istrinya yang terjebak dalam bangunan, tak bisa diselamatkan. Sementara kakakku juga menderita luka bakar yang cukup parah hingga dilarikan ke rumah sakit.

Setelah itu, berturut-turut keenam kakakku lainnya mengalami musibah yang sama. Harta mereka terbakar. Keluarga mereka juga turut jadi korban. Aku pun bisa merasakan, mungkin setelah ini giliranku.

Tengah malam pada hari ketujuh setelah kematian bapak, aku mendengar suara jendela kamarku diketuk dari luar. Awalnya aku tak memedulikan hal itu. Namun lama-kelamaan, aku seperti mendengar suara Bapak memanggil-manggil.

?Dir … Dirgo, tolong Bapak, Dir ….?

Aku bergegas membuka jendela. Sepi. Tidak ada sesuatu atau apa pun yang kudapati. Tiba-tiba aku mencium aroma aneh. Aroma yang mengingatkanku dengan kemunculan Kyai Molor waktu itu.

Tak tahan karena mual, aku memuntahkan seluruh isi perut ke luar jendela. 

?Dir … panas, Dir. Tolong Bapak ….?

Saat itulah, aku mendongakkan kepala. Tak jauh dariku, ada sosok berbungkus kain kafan tengah berdiri. Kakinya tidak menapak tanah. Dia melayang-layang di dekat pohon mangga. Wajahnya seperti tidak asing.

?Ba-bapak ….?

?Panas, Dir … tolongin Bapak ….?

Tubuh sosok itu berwarna merah kehitaman. Kedua matanya berwarna putih dengan titik hitam di tengah. Sementara wajahnya dipenuhi belatung dan cairan seperti lendir. Sosok itu melayang mendekat. Baunya semakin menyiksa. Dari dekat, bentuknya semakin terlihat jelas. Kepalanya tidak terbungkus kafan. Nanah terus mengalir dari mulutnya yang terbuka. Entah benar-benar terbuka, atau memang tak bisa tertutup. Karena bibir sosok itu telah membusuk, hingga menampakkan gigi-giginya.

Tubuhku kaku. Antara takut dan sedih. Takut karena melihat wujudnya yang menyeramkan. Sedih karena sosok itu adalah … Bapak.

?Dirgo … temani Bapak, Dir ….?

Tubuhku lemas dan ambruk ke lantai. Tatapanku sekarang beralih ke lampu kamar yang tiba-tiba saja meledak. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba api sudah menjalar membakar kasur dengan cepat. Aku ingin berteriak, tapi tidak bisa. Sementara asap sudah memenuhi ruangan, membuat napasku semakin sesak. 

Tubuhku rasanya seperti kehilangan tulang-tulang. Mungkin, ini sudah waktunya. Aku memang ditakdirkan untuk menyusul bapak, sesuai dengan ucapan Mbah Soma sesaat sebelum aku pulang ke rumah waktu itu.

?Kowe keliru. Yen kowe njaluk karo aku, mesti ana imbalane. Iki garagara kowe lali Gustimu sing kudu disembah. Manungsomanungso!?6

(*Aiu Ratna – Bojonegoro) 

 

Catatan kaki:

1) Ada apa kamu mengundangku? Ingin apa?

2) Kalau kamu tidak mengutarakan maksudmu, aku mau pulang saja.

3) Kamu ingin kaya?

4) Kalau bapakmu kuambil, apa kamu dan keluargamu sudah siap hidup miskin selamanya?

5) Ya sudah, kalau itu permintaanmu.

6) Kamu salah. Kalau kamu meminta kepadaku, pasti ada imbalannya. Ini gara-gara kamu lupa dengan Tuhan yang harusnya kamu sembah. Dasar manusia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.