Berita Nasional Terpercaya

Survei McKinsey: Pandemi Bikin Perusahaan Pilih Reskilling, Bagaimana di Indonesia?

0

YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Studi terbaru dari McKinsey yang dirilis pada 30 April 2021 mengungkap, percepatan digitalisasi dan kerja jarak jauh akibat Covid-19 bikin karyawan harus meningkatkan kemampuan baru (reskilling) agar dapat beradaptasi dengan situasi.

Kemampuan dasar digital juga menjadi prioritas perusahaan sejak awal pandemi, dengan share lebih tinggi 16% dibandingkan 2019. Namun, ada juga perusahaan yang tidak fokus pada digitalisasi karena telah melakukannya sebelum pandemi.

Di sisi lain, industri pada sektor publik dan sosial seperti layanan kesehatan dan farmasi berfokus untuk meningkatkan kemampuan interpersonal dan rasa empati.

Sebagian perusahaan yang disurvei McKinsey menyebut, transformasi keterampilan tersebut berdampak positif pada beberapa hal, yakni kemampuan untuk menyadari strategi perusahaan, kinerja dan kepuasan karyawan, dan reputasi perusahaan.

Baca Juga: Survei McKinsey: Di Era Pandemi, Banyak Perusahaan Pilih Reskilling

“Untuk bangkit agar lebih kuat dari pandemi, sekarang waktunya bagi perusahaan untuk berinvestasi pada transformasi keterampilan dan belajar tahun lalu untuk mewujudkan kebutuhan keterampilan mereka saat ini dan di masa depan,” tulis McKinsey & Company pada situs resminya.

Lalu, bagaimana dengan situasi di Indonesia?

Bambang Yapri, Praktisi HR dan Sekjen DPP Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia (PMSM) Indonesia, mengatakan bagi industri yang telah melakukan digitalisasi, pandemi menjadi momen untuk mempercepat proses perubahan. 

Tapi bagi sebagian perusahaan, situasi ini telah memaksa mereka untuk memodifikasi cara kerjanya, seperti membuat karyawan harus bekerja dari rumah.

“Itu kan dibutuhkan tools pendukung, proses kerja baru, dan sebagainya. Mungkin ada beberapa yang tidak berencana tapi akhirnya dipaksa untuk memodifikasi proses kerja,” katanya kepada Bernas.id, Rabu (26/5/2021).

Tools pendukung itu seperti Zoom, Google Meet, Microsoft Teams, dan aplikasi lainnya yang berhubungan dengan kerja jarak jauh.

Pada awal pandemi, butuh waktu sekitar 3-6 bulan bagi perusahaan untuk beradaptasi dengan kondisi, termasuk regulasi yang dikeluarkan pemerintah terkait lockdown, PSBB, dan sebagainya.

“Sekitar tiga sampai enam bulan pertama itu adalah masa anomali. Perusahaan masih menyesuaikan, termasuk mengelola hubungan dengan konsumen,” ucapnya.

Perusahaan harus menyiapkan karyawan agar tidak gagap teknologi sehingga tetap produktif meski pekerjaan tidak dilakukan di kantor.

“Sebenarnya ini pernah dilakukan beberapa perusahaan, jadi misalnya mereka kerja jarak jauh, bekerja dari beberapa tempat di perusahaan multinasional dan multinegara, tentu ini sudah biasa,” tutur Bambang.

Tantangan non-teknis

Bambang melanjutkan, banyak tantangan yang dihadapi perusahaan ketika karyawan harus kerja dari rumah atau work from home. Tantangan teknis mungkin saja bisa ditangani dengan mudah, tapi bagaimana dengan non-teknis?

Tantangan non-teknis seperti karyawan yang tidak memiliki ruang memadai untuk WFH sehingga bisa menganggu kinerja. Selain itu, menyatunya kehidupan kerja dengan keluarga juga berpengaruh.

“Bekerja dari rumah untuk beberapa situasi dan kondisi secara infrastruktur mudah dilakukan. Apalagi mereka yang punya ruang cukup untuk menjadikan itu sebagai small office. Tapi bagi mereka yang nggak punya infrastruktur memadai, misalnya anak kost ya akhirnya di kamar kostnya,” ucapnya.

Baca Juga: McKinsey: Ada 3 Cara agar Perusahaan Digital Tidak Ditinggal Konsumen Pascapandemi

“Termasuk kehidupan kerja dengan keluarga menjadi agak blur. Akhirnya, jadwal kerja nggak bisa terlihat jelas batasnya. Akan jauh jadi tantangan lagi apabila masih keluarga baru dengan anak usia di bawah 5 tahun,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Pendiri De Forest Search, Jill De Forest. Mengutip Hunt Scanlon Media, Forest menyebut banyak karyawan kesulitan mengatur waktu antara kerja dan istirahat ketika WFH.

“Perubahan lainnya adalah jam kerja yang intens. Sementara karyawan bekerja dari rumah, mereka tampak tidak punya banyak waktu istirahat untuk makan siang dan bahkan makan malam,” katanya.

“Panggilan virtual yang terus menerus telah menciptakan waktu kerja seharian sehingga sulit untuk menemukan waktu membalas e-mail, panggilan telepon,dan perencanaan strategis,” imbuhnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.