Berita Nasional Terpercaya

Misi Ekonomi Digital Capai Rp4.531 Triliun pada 2030, Apa Strategi Pemerintah?

0

BERNAS.ID – Pemerintah berambisi untuk membuat Indonesia bertengger nomor satu di Asean dalam ekonomi digital. Negara dinillai punya modal yang kuat untuk menaklukan misi tersebut.

Setelah melakukan Rapat Terbatas dengan Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Ma'aruf Amin, dan sejumlah menteri lainnya di Jakarta, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memaparkan target-target pemerintah di bidang ekonomi digital.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi digital pada 2030 akan meningkat 8 kali dari saat ini sekitar Rp632 triliun menjadi Rp4.531 triliun.

Sebagai informasi, ekonomi digital Indonesia pada 2020 menghasilkan 4% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pada 2030, PDB Indonesia akan tumbuh menjadi Rp24.000 triliun dari yang sekarang sekitar Rp15.400 triliun.

“Indonesia akan memiliki PDB lebih dari 55% daripada PDB digital Asean,” ujarnya, dalam konferensi pers, Kamis (10/6/2021).

Baca Juga: Pemkot Yogyakarta Terus Dorong UMKM Go Digital

Lutfi menyebut e-commerce atau perdagangan elektronik memiliki peran yang sangat besar dalam ekonomi digital, dengan 34% atau setara Rp1.900 triliun pada 2030.

Kemudian diikuti oleh business-to-business dengan andil 13% atau setara Rp763 triliun, sektor kesehatan atau health tech menyumbang 8% dari pertumbuhan ekonomi digital atau sekitar Rp471,6 triliun.

Sementara online travel bakal menyentuh Rp575 triliun, dan ride hailing seperti Gojek dan Grab diperkirakan akan berperan hingga Rp401 triliun pada 2030.

“Meski ekonomi digital 4% pada hari ini, tapi partisipasi industri makanan dan minuman Rp3.669 triliun, yang baru dilayani ekonomi digital baru Rp18 triilun,” katanya.

Dia menyebutkan sejumlah langkah yang harus diperbaiki untuk mendukung ekonomi digital, seperti infrastruktur digital dan komunikasi, perlindungan konsumen digital, dan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus di bidang teknologi, serta layanan pemerintah dan publik.

Lutfi menyatakan, ekonomi digital yang tumbuh akan memperbaiki perekonomian Indonesia melalui sektor logistik dan teknologi.

“Kalau kita lihat target ongkos sektor logistik dari 23% menjadi 17% (dari PDB),” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki mengatakan presiden meminta percepatan digitalisasi UMKM. 

Baca Juga: McKinsey: Ada 3 Cara agar Perusahaan Digital Tidak Ditinggal Konsumen Pascapandemi

Data dari Asosiasi E-commerce Indonesia atau idEA per Mei 2021 menyebutkan ada 13,7 juta atau 21% dari pelaku UMKM yang sudah masuk ke dalam ekosistem digital.

Dengan target 30 juta UMKM “on boarding” di ekosistem digital pada 2024, Teten telah menyiapkan sejumlah langkah kebijakan untuk mendukung pelaku UMKM ke arah digital.

“Harus ada strategi proaktif dan jemput bola, agar dilakukan pendampingan, kurasi produk, sampai ke SDM, pembiayaan, sampai mereka bisa on boarding,” tuturnya.

Strategi di Sektor Keuangan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, pihaknya telah mencanangkan kebijakan percepatan dan transformasi bisnis keuangan ke arah digital sejak 2017.

“Karena persaingan global, mau tidka mau harus berbasis digital,” katanya.

Dengan digitalisasi, sektor keuangan akan memberikan pelayanan yang lebih baik, lebih murah, dan menjangkau kawasan yang lebih jauh.

Salah satu layanan digital yang diminati masyarakat adalah lembaga keuangan, yang memberikan kredit. Saat ini, terdapat 146 financial technology (fintech) resmi terdaftar di OJK.

“Jumlah itu belum yang termasuk ilegal. Yang ilegal banyak sekali dan akan kita tertibkan supaya memenuhi aturan,” ujarnya.

Selain itu, Wimboh menyebut layanan keuangan seperti raising fund di pasar modal bisa dilakukan dengan digital. 

Baca Juga: Website Pemerintah Umbar NIK, Pakar UGM: Itu Bukan Kebijakan “Open Data”

“Anak-anak muda yang belum punya credit score di bank, silakan mengeluarkan surat utang melalui pasar modal,” ucapnya.

Dia berharap seiring bertumbuhnya pasar digital di Tanah Air bakal memperkuat daya saing. Dengan begitu, Indonesia akan menjadi tuan rumah di negara di sini. Menurutnya, Indonesia memiliki modal yang besar untuk dikembangkan seperti banyaknya jumlah penduduk dan remote area yang luas.

“Karena kalau nggak dilayani sercara digital oleh domestic player tentunya akan dilayani oleh luar negeri,” katanya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.