Berita Nasional Terpercaya

Mengenal Wisata Medis dan Potensinya di Indonesia

0

BERNAS.ID – Kalau berbicara tentang wisata, sebagian orang pasti berpikir untuk berburu spot terbaik melepas penat seperti wisata alam, wisata belanja, dan wisata kuliner.

Tapi pernahkan kalian mendengar tentang wisata medis? Sebenarnya istilah ini sudah lama ada, bahkan ada Peraturan Menteri Kesehatan No.76 Tahun 2015 tentang Pelayanan Wisata Medis.

Menurut beleid itu, wisata medis adalah perjalanan ke luar kota atau dari luar negeri untuk memperoleh pemeriksaan, tindakan medis, dan/atau pemeriksaan kesehatan lainnya di rumah sakit.

Jadi, medical tourism ini telah berkembang di dunia. Terlihat dari penduduk negara maju yang memilih tidak menjalani perawatan kesehatan di negaranya. Mereka justru ke negara berkembang untuk memperoleh pelayanan medis sekaligus melakukan perjalanan wisata.

Baca Juga: Presiden Setujui MNC Lido City Resmi Jadi Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan, berdasarkan analisis PricewaterhouseCoopers (PwC) pada 2015 tercatat sebanyak 600.000 orang Indonesia merupakan wisatawan medis. Indonesia menjadi yang terbesar mengalahkan Amerika Serikat dengan 500.000 orang, yang melakukan perjalanan wisata medis.

“Melihat potensi ini, saya bersama jajaran K/L terkait hari ini berkoordinasi tentang rencana pengembangan wisata medis di Indonesia,” katanya, seperti dikutip dari Instagramnya.

Di Indonesia, wisata semacam ini diwadahi oleh Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AWMI). Kepada Bernas.id, Ketua AMWI dr. Taufik Jamaan SpOG menyebut pemerintah dan rumah sakit sangat antusias menyambut kehadiran wisata medis.

“Sekarang pemerintah dan banyak rumah sakit sudah sangat antusias dengan wisata medis. Kemarin webinar saya diikuti 135 RS di Indonesia,” katanya, Jumat (18/5/2021).

Lebih lanjut, Taufik menilai pandemi menjadi peluang untuk mengembangkan potensi wisata medis di Tanah Air, dengan target utama adalah turis lokal yang ingin berobat.

“Sebelum pandemi banyak orang bolak-balik ke negara tetangga untuk medical check-up, sekarang nggak bisa ke luar negeri. Jadi kita sasar saja market lokal,” ucapnya.

Dia mencontohkan, jika di Australia dan Thailand terdapat fertility resort, di mana pasien dapat bersantai sambil menikmati keindahan alam dan relaksasi sebelum menjalani pengobatan.

Taufik menyatakan pihaknya berencana akan mengembangkan fasilitas serupa di Solok, Sumatra Barat. Alasannya, wilayah Solok memiliki sentra perkebunan dan berlokasi di pegunungan.

“Jadi itu cocok untuk produk wisata medis yang bakal kita jual nanti,” tuturnya.

Selanjutnya, pengembangan wisata medis tersebut diarahkan sebagai fasilitas senior living bagi warga lanjut usia. Menurutnya, ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh lansia di fasilitas itu, seperti belajar tenun, merangkai bunga, dan bahkan berendam di air panas.

Selain di Solok, ternyata ada sejumlah tawaran yang diperoleh AWMI untuk mengembangkan wisata medis, seperti di kawasan Sentul, Bogor, dan Dago Pakar di Bandung.

Baca Juga: ADWI, Momen Kebangkitan Pariwisata dari Desa di Masa Pandemi

Melansir pernyataan Konsultan Mikrobiologi Dr. Tomislav Meštrović, MD, Ph.D. dari News Medical Life Science, ada miliaran dollar AS yang bisa didapat dari wisata medis yang dikelola di seluruh dunia.

Dia bahkan memperkirakan, fenomena ini akan tumbuh pesat dalam beberapa tahun ke depan. Biaya menjadi faktor kunci bagi individu yang memutuskan untuk melakukan perawatan medis di negara lain.

“Karena biaya perawatan kesehatan di AS dan bagian lain dunia melonjak secara berlebihan, banyak pengusaha dan perusahaan asuransi mulai melirik pariwisata medis sebagai cara untuk mengatasinya,” tulisnya.

Menurutnya, semakin banyak negara yang melihat adanya manfaat finansial dari wisata ini dengan menawarkan layanan medis premium, namun dengan harga jauh lebih rendah. Harganya bahkan bisa 30-70% lebih rendah dibandingkan biaya pengobatan medis di AS.

Leave A Reply

Your email address will not be published.