Berita Nasional Terpercaya

Kisah Gerakan Donasi Peti Mati untuk Korban Covid, Ujung dari Sebuah Harapan?

0

BERNAS.ID – Semakin banyak peti mati yang dibuat, semakin terasa berat. Ini seperti seakan-akan sedang “mempersiapkan” kematian seseorang. Nggrantes.

Seperti itulah kalimat yang terlontar dari relawan gerakan penggalangan donasi peti mati di Yogyakarta. Kepada Bernas.id, mereka menceritakan kisah yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak.

Bermula ketika kelompok relawan dari alumni Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang melihat terjadinya kelangkaan peti mati. Saat itu, terjadi krisis ketersediaan peti mati di RSUP Dr Sardjito. 

Ya, jumlah kematian akibat Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa kali pecah rekor. Data terbaru dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY pada 20 Juli 2021 menyebutkan ada 70 orang meninggal dunia karena virus corona.

Baca Juga: Relawan Karang Taruna Kota Jogja Siap Bantu Penanganan COVID-19

Kembali soal donasi peti mati, Herlambang Yudho Darmo terbiasa untuk berbagi semangat dan informasi terkait Covid-19 di media sosial. Namun, dia tidak sampai membicarakan kematian.

Ketika diajak untuk bergabung dalam gerakan ini, tepatnya pada 5 Juli 2021, dia mengaku agak kesal dan mempertanyakan kenapa dirinya harus masuk dalam ranah yang berhubungan dengan kematian.

“Ternyata begitu masuk, ya kasian juga. Ada yang berjam-jam nggak bisa dimakamkan karena nggak ada peti,” katanya selaku juru bicara relawan Djogja Gotong Royong Rabu (21/7/2021).

Gagasan ini berawal dari seorang kawannya bernama Capung Hendrawan. Melihat fenomena langkanya peti mati yang membuat jenazah tidak bisa segera dimakamkan, dia tergerak untuk melakukan sesuatu. Berbekal kayu yang dimiliki Capung dan seorang tukang, pada rapat pertama tim relawan ini sudah tersedia satu peti mati yang siap didonasikan.

Pembuatan peti ini juga bermarkas di bengkel milik Capung, yang terletak di Nogotirto, Sleman. Kemudian, satu per satu relawan datang untuk membantu. Mereka tidak hanya sebatas dari para alumni UGM, tapi kawan-kawan dari berbagai profesi.

Tidak ada jadwal khusus atau pembagian kerja, mereka gotong royong sesuai dengan keahlian masing-masing. Meski begitu, mereka tidak secara spesifik pernah membuat peti mati sebelumnya. Beruntung internet sudah menyediakan banyak informasi tentang tutorial merancang peti mati.

Baca Juga: Ratusan Nakes Kota Jogja Terpapar COVID-19 Sejak Mei 2021

Berita tentang gerakan ini pun menyebar dari mulut ke mulut, yang kemudian memicu para donatur untuk berdonasi. Dari awal yang semula menghasilkan lima peti, kini sudah ada lebih dari 150 peti yang dibuat.

“Memang konsep kami tidak memenuhi semua kebutuhan rumah sakit. Kami perlu menyimpan untuk cadangan” ucap Herlambang.

Kini sudah lebih dari 100 peti mati yang disumbangkan ke berbagai rumah sakit, di antaranya RSUP Dr Sardjito, RS Akademik UGM Yogyakarta, dan bahkan ada beberapa yang diberikan untuk warga yang meninggal dunia setelah isolasi mandiri di rumah.

“Kami juga memberikan kepada rumah sakit yang lain, dan mekanismenya mereka mengajukan permintaan, berarti mereka memang butuh dan perlu,” tutur Herlambang.

 “Jadi bukan inisiatif dari kami. Terus peti mati itu kan bukan hadiah yang menarik. Jadi nggak bisa kita bagi-bagikan begitu saja,” imbuhnya.

Peti ini juga diperuntukkan bagi warga yang meninggal dunia saat isoman. Pengajuan bisa melalui prosedur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY atau Satgas Covid-19 dengan mengajukan surat.

“Bisa membuat surat sebagai pertanggungjawaban kami nanti. Tapi bukan mengajukan surat kemudian kita pelajari nggak ya. Surat itu untuk mengambil ke Damkar UGM, lalu silakan mengambil, kemudian petinya diserahkan,” jelasnya.

Mbok Gek Ndang Rampung

Cepatlah selesai atau dalam bahasa Jawa mbok gek ndang rampung, sebuah keinginan dari para relawan untuk segera mengakhiri gerakan ini. Bukan dalam arti mereka malas atau lelah, bahkan tidak ikhlas, tapi jika donasi peti mati ini rampung, berarti ada kabar baik.

Itu berarti orang yang meninggal akibat Covid-19 sudah berkurang atau bahkan sudah tidak ada sama sekali, dan kehidupan kembali normal.

Baca Juga: Wakil Walikota Yogyakarta Positif Covid

Salah satu relawan Djogja Gotong Royong, Agus Supriyo, mengatakan dari sekian banyak gerakan relawan yang dia jalani, baru kali ini dia lakukan dengan berat hati.

“Orang mati itu pasti akan ada tiap hari, tapi tidak sebanyak sekarang. Kalau sampai peti langka itu artinya orang yang meninggal terlalu banyak, dan kita masuk ke ranah ini seolah-olah 'mempersiapkan' kematian mereka,” ujarnya.

Gerakan moral ini dilakukan sebagai penghormatan terakhir kepada masyarakat yang menjadi korban Covid-19. Tidak ada yang ingin terus menerus menghadapi situasi pandemi.

“Kita nggak mau berlama-lama terlibat dalam gerakan ini, bukan karena menolak atau malas, tapi semakin cepat artinya situasinya semakin normal,” tutur Agus.

Setali tiga uang, Herlambang merasa kematian menjadi “sangat dekat” dengan dirinya, apalagi ketika dia mengantarkan peti mati ke rumah sakit, kemudian melihat jenazah sudah berada di luar.

Petugas telah menanti kedatangan peti mati yang menjadi ujung dari sebuah harapan agar jenazah tersebut bisa segera dimakamkan.

“Itu yang kemudian kok (kematian) dekat sekali. Itu bukan menjadi teror buat kami tapi justru membuat kami tenang. Ya ikhlas aaja, ketakutan buat apa, cemas buat apa, tidak ada sesuatu yang bisa kita pastikan,” ucap Herlambang.

Lalu, kapan gerakan donasi peti mati ini akan berhenti? Jawaban pertama dari Herlambang adalah ketika donasi sudah tidak ada. Kedua, jika kebutuhan peti mati dapat dipenuhi oleh produsen dengan harga yang wajar.

“Begitu terpenuhi, permintaan dari rumah sakit sudah wajar, dan harga peti mati juga wajar, kami akan berhenti. Kalau ada sisa peti, kami cadangkan untuk sewaktu-waktu ada yang membutukan sangat darurat,” katanya.

“Kami bergerak di wilayah kedaruratan, ketika sudah tidak darurat ya kami berhenti. Bukan sebaiknya tapi sebuah keharusan, supaya semua kembali normal,” imbuhnya.

Baca Juga: PPKM Darurat jadi PPKM Level 4, Ini Aturan dan Daerah yang Menerapkannya

Namun, situasi pandemi belum juga menunjukkan keadaan yang membaik. Pemerintah bahkan memperpanjang Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat hingga 25 Juli 2021.

Belum tahu sampai kapan permintaan peti mati akan berangsur sewajarnya. Tapi yang pasti, para relawan ini ingin menggelorakan harapan sehingga menjadi inspirasi bagi wilayah lain.

“Di banyak tempat, nggak cuma di Jogja, pasti juga langka (peti mati). Yang kita harapkan adalah gerakan ini menjadi inspirasi bagi masyarakat lain di wilayahnya masing-masing,” ucap Agus.

Jika Anda tergerak untuk memberikan donasi, bisa menghubungi contact person Djogja Gotong Royong 0812-8710-1776.

Covid-19 di Indonesia

Seperti diketahui, grafik angka kematian pasien Covid-19  di Indonesia terus meningkat. Pada 20 Juli 2021 sebanyak 1.280 orang meninggal dunia akibat virus corona.

Sementara, vaksinasi Covid-19 di Tanah Air untuk dosis 1 baru mencapai 20,34% dari total sasaran sebanyak 208,2 juta. Data per 20 Juli 2021 juga menyebutkan, total vaksinasi dosis 2 tercatat 7,90%.

Pemerintah terus mengejar upaya vaksinasi, dari semula 1 juta dosis per hari menjadi 2 juta dosis per hari, dan yang terbaru targetnya mencapai 5 juta dosis per hari.

Untuk menekan laju penyebaran virus, pemerintah memperpanjang PPKM Darurat, yang istilahnya kini diganti menjadi PPKM Level 4. Pembatasan akan  dilonggarkan mulai 26 Juli 2021, dengan catatan kasus Covid-19 mengalami penurunan.

“Kita selalu memantau dan memahami dinamika di lapangan dan juga mendengar suara masyarakat yang terdampak PPKM. Karena itu kalau tren kasus terus mengalami penurunan, pada 26 Juli 2021 nanti, pemerintah akan melakukan pembukaan,” ucap Presiden Joko Widodo.

Leave A Reply

Your email address will not be published.